Dari Abu Hurairah r.a, beliau berkata (bahwa) telah bersabda Rasulullah Salallahu 'Alaihi Wassalam; sesungguhnya Allah tabaaraka wa ta’ala berfirman di hari kiamat : “Di manakah orang-orang yang saling mencintai karena AKU, di hari ini (kiamat) AKU menaungi mereka dalam naungan-Ku, di hari dimana tiada naungan kecuali naungan-Ku”. (HR Bukhari dan Malik)
Mencintai Karena Allah #KA
Istiqomah Dalam Ibadah
Istiqomah adalah usaha untuk konsisten menunaikan ketaatan. Bagaimana agar dapat istiqomah dalam beribadah?
Berikut cara agar dapat istiqomah yang saya ringkas dari kajian Ustadz Adi Hidayat.
1. Belajar
Istiqomah dimulai dengan ilmu pengetahuan. Amalan apa yang ingin kita istiqomah didalamnya maka kita memerlukan pengetahuan terkait amalan tersebut. Sebab jika kita mengerjakan sesuatu tanpa ilmu maka tidak akan ada motivasi bagi kita untuk menguatkan hal yang ingin kita kerjakan. Terkait belajar, bahkan kita mengetahui ayat yang pertama turun kepada Nabi Muhammad SAW adalah iqra (bacalah). Maka mulailah dengan mempelajari ilmu dan ketentuan-ketentuannya.
2. Cari tahu keutamaannya.
Misal ingin mulai istiqomah shalat di awal waktu. Selagi berusaha dalam amalan tersebut cari tahu keutamaan-keutamaan shalat di awal waktu. Keluarkan motivasi-motivasi positfnya untuk kelak menjadi penguat saat semangat ibadah mengalami penurunan. Keutamaan-keutaaman ini dapat juga ditulis dan ditempel di dinding agar dapat menjadi pengingat kenapa kita harus selalu berusaha istiqomah menjalani amal shalih tersebut.
3. Hadirkan ancaman atau kerugiannya.
Ketika kita berusaha istiqomah dalam suatu hal yang baik maka pasti kita tak lepas dari godaan atau penurunan dalam semangat. Selain mengetahui keutamaan dari suatu amalan kita juga perlu mengetahui apa kerugian bagi kita apabila kita meninggalkannya. Hadirkan ancaman Allah saat kita menyimpang dari amal shalih yang kita kerjakan.
4. Memohon pada Allah agar dikuatkan.
Karena istiqomah adalah usaha dan usaha manusia tak lepas dari daya upaya yang Allah berikan maka mintalah kepada Allah agar Allah menguatkan kita. Ketika kita menjalani suatu amalan dan berusaha konsisten menunaikanya Allah jangan pernah lupa berdoa agar Allah menerima amalan kita.
Wallahu a'lam bis showab.
Berikut cara agar dapat istiqomah yang saya ringkas dari kajian Ustadz Adi Hidayat.
1. Belajar
Istiqomah dimulai dengan ilmu pengetahuan. Amalan apa yang ingin kita istiqomah didalamnya maka kita memerlukan pengetahuan terkait amalan tersebut. Sebab jika kita mengerjakan sesuatu tanpa ilmu maka tidak akan ada motivasi bagi kita untuk menguatkan hal yang ingin kita kerjakan. Terkait belajar, bahkan kita mengetahui ayat yang pertama turun kepada Nabi Muhammad SAW adalah iqra (bacalah). Maka mulailah dengan mempelajari ilmu dan ketentuan-ketentuannya.
2. Cari tahu keutamaannya.
Misal ingin mulai istiqomah shalat di awal waktu. Selagi berusaha dalam amalan tersebut cari tahu keutamaan-keutamaan shalat di awal waktu. Keluarkan motivasi-motivasi positfnya untuk kelak menjadi penguat saat semangat ibadah mengalami penurunan. Keutamaan-keutaaman ini dapat juga ditulis dan ditempel di dinding agar dapat menjadi pengingat kenapa kita harus selalu berusaha istiqomah menjalani amal shalih tersebut.
3. Hadirkan ancaman atau kerugiannya.
Ketika kita berusaha istiqomah dalam suatu hal yang baik maka pasti kita tak lepas dari godaan atau penurunan dalam semangat. Selain mengetahui keutamaan dari suatu amalan kita juga perlu mengetahui apa kerugian bagi kita apabila kita meninggalkannya. Hadirkan ancaman Allah saat kita menyimpang dari amal shalih yang kita kerjakan.
4. Memohon pada Allah agar dikuatkan.
Karena istiqomah adalah usaha dan usaha manusia tak lepas dari daya upaya yang Allah berikan maka mintalah kepada Allah agar Allah menguatkan kita. Ketika kita menjalani suatu amalan dan berusaha konsisten menunaikanya Allah jangan pernah lupa berdoa agar Allah menerima amalan kita.
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ
Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu.Demikianlah tips singkat agar dapat istiqomah dalam beribadah :'). Karena kita tidak tahu kapan Allah menghentikan kehidupan kita maka jangan pernah berhenti berjuang dalam menunaikan ketaatan. Agar ketika hidup terhenti semoga kita dapat menghadap Allah dalam keadaan taat kepadaNya. Aamiin.
Wallahu a'lam bis showab.
Film Duka Sedalam Cinta dan Kisah Hijrah
Bismillahirrahmaanirrahiim
So, finally, kemarin itu saya nonton film Duka Sedalam Cinta di CGV suatu kota di hari ketiganya film ini tayang. Walau katanya belum banyak bioskop yang menayangkan film ini, salut juga karena bioskop yang saya pilih ternyata penuh pengunjung. Terutama di slot waktu yang saya pilih. Jika slot sebelumnya diramaikan oleh remaja SMA, *ada kali sekelas, atau sepertinya ini nobar anak rohisnya?*, slot yang saya pilih diramaikan oleh ibu-ibu dengan putra-putrinya yang terlihat seperti rombongan rukun tetangga hehe. Alhamdulillah ya film yang sarat nilai islam ini ternyata cukup diminati banyak kalangan. Semoga juga remaja yang kemarin nonton ini sama pacarnya juga dapat pencerahan #eh :p. Harapannya akan semakin banyak yang dapat menikmati film ini sehingga kedepannya semakin banyak lagi film tema islami yang lahir dalam dunia perfilman Indonesia.
Duka Sedalam Cinta ini ternyata sekuel dari film pertamanya Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP). Agak kurang setuju terhadap penamaan film ini karena artinya bunda dan tim harus mengedukasi ulang masyarakat kalau ini adalah sekuel dari film KMGP. Bahkan beberapa teman saya juga gak engeh kalau ini lanjutan dari film KMGP.
KMGP diangkat dari cerita karya bunda Helvy Tiana Rosi. Ketika menonton film pertama, saya emang agak terkejut mendapati bahwa filmnya berupa sekuel. Jadi memang ketika selesai menonton film pertama saya merasa digantung sama filmnya hehe. Maka KMGP 2 adalah film yang sangat saya nantikan. Antusias saya dalam menyambut hadirnya film ini sama seperti ketika saya menyambut KMGP pertama. Hal ini dikarenakan KMGP adalah salah satu cerita sekaligus buku favorit bagi saya. Cerita pendek KMGP dalam buku dengan judul yang sama telah jadi jalan yang memuluskan proses hijrah saya diawal-awal, memantapkan hati saya untuk hijrah menuju taat terhadap perintah Allah kepada para muslimah, perintah untuk menutup aurat.
Saya yang saat itu masih remaja SMA memang tidak memiliki kondisi seideal Gita, tokoh adik Mas Gagah. Saya juga memang tidak setomboy Gita dan juga tidak memiliki lingkungan pergaulan seperti Gita. Saya pada masa itu hanya remaja SMA biasa, tidak punya abang seperti Mas Gagah, dan justru alhamdulillah memiliki lingkungan teman (anak-anak IPA yang mostly kelakuannya gak macem-macem dan anak-anak rohis) yang terjaga insyaAllah. Kisah Gita begitu menginspirasi saya, Gita dengan proses hijrahnya untuk berhijab yang kemudian dilanjutkan dengan perihnya kehilangan mas Gagah tercintanya membuat saya banyak menitikkan air mata dalam membaca kisahnya.
Qadarullah, buku yang bukan milik saya pribadi, buku lusuh yang hanya saja tiba-tiba berada di kamar, buku yang ternyata dipinjam adik perempuan saya dari masjid sekolahnya, telah menjadi jalan hidayah bagi saya. Ketika selesai membaca seluruh ceritanya, saya mantap melanjutkan niat saya untuk menutup aurat yang masih mengintip malu-malu. Setelah menangis tersedu-sedu menyelesaikan bukunya, saya menyampaikan niatan ini kepada Ibu saya untuk menggunakan hijab. Oh iya teringat salah satu kisah dalam buku tersebut tentang perjuangan seorang muslimah yang banyak menerima pertentangan dari keluarganya ketika memutuskan berhijab. Maka saya teramat bersyukur karena niatan saya disambut baik oleh Ibu saya. Izinpun sudah saya kantongi dan Ibu saya berkata akan mulai mencicil membelikan seragam baru berlengan panjang untuk saya sekolah. Alhamdulillah, semoga menjadi amal jariyahnya bunda dan jadi pahala yang besar untuk Ibu saya.
Sayang sekali memang ketika menonton film ini saya berharap dapat membangkitkan perasaan saya di masa lalu ketika membaca ceritanya dalam buku. Manisnya mereguk hidayah, kegundahan, kegalauan remaja dan kemudian kelegaan yang hadir karena Allah kirimkan setitik cahayaNya; saya berharap dapat menangis terisak-isak ketika menonton Duka Sedalam Cinta. Saya rasa ekpekstasi yang tidak terlalu berlebihan ketika kita juga melihat judul filmnya. Namun ternyata saya tidak dapatkan perasaan itu dari ide cerita yang dikemas dalam film ini. Saya kurang mendapatkan feel dari adengan paling penting dalam cerita ini, yakni ketika mas Gagah pergi meninggalkan dunia, meninggalkan Gita adik yang telah menerima dakwahnya. Tapi memang tidak ada yang sempurna untuk memenuhi harapan manusia kecuali harapan pada Allah semata. Film ini kehadirannya saja sudah patut diacungi jempol, disamping ide ceritanya yang kurang memenuhi ekspektasi saya yang bukan apa-apa ini, saya mah apa, filmnya banyak menyampaikan nilai-nilai baik. Film ini juga konsisten dengan proses penyuguhan yang baik, contohnya tidak ada adegan sentuhan antara pemeran yang non mahram. So, akhir kata ku tetap sangat dukung dan apresiasi film ini :D.
Semoga semakin banyak bioskop yang menayangkan film ini ya, sehingga menginspirasi lahirnya karya-karya berikutnya untuk umat ini.. aamiin ya Rabb.
Alhamdulillah.
Mengislamkan Akhlak Sebagai Bentuk Komitmen Sebagai Muslim
#Jejak Bacaan : 'Apa Bentuk Komitmen Muslim Sejati'
Risalah islam yang dibawa oleh Rasulullah memiliki tujuan utama yaitu menyempurnakan akhlak manusia, sebagaimana yang baginda sampaikan dalam haditsnya, "Sesungguhnya, aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR Ahmad). Rasulullah adalah hamba Allah yang memiliki akhlak sempurna. Akhlak Rasulullah adalah Al Quran. Meski dalam kondisi sulit, terancam, dicemooh Rasulullah tetap menampilkan akhlah yang mulia.
Akhlak mulia adalah buah dari baik dan benarnya iman. Iman akan menuntun kita apakah kita dapat berakhlak mulia dalam segala aspek kehidupan kita. Semakin baiknya akhlak kepada Allah, kepada Rasulullah, sesama manusia, akhlak dalam beribadah akan membawa kita semakin mendekat kepada Allah. Kemuliaan akhlak yang diimplementasikan dalam setiap amal perbuatan akan membuat amalan tersebut memiliki kadar yang memberatkan timbangan amal baik manusia di akhirat kelak.
Beberapa sifat-sifat yang harus dimiliki seorang muslim sejati dalam berakhlak, antara lain:
1. Menjauhi perkara-perkara yang syubhat
Sebagai seorang muslim kita harus berhati-hati dalam halal haramnya sebuah perkara. Karena kita tahu betul perkara yang haram tidak akan mungkin diterima, apatah lagi bernilai pahala di sisi Allah.
2. Menjaga Pandangan
Menjaga pandangan dari melihat perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah. Menahan diri dari pandangan-pandangan yang tidak perlu karena sangat besar kemungkinan ia kan mengotori hati.
3. Menjaga Ucapan
Jagalah lisan dari berucap yang tidak perlu apalagi tercela. Rasulullah menyampaikan dalam hadistnya bahwa banyak manusia tergelincir ke neraka karena disebabkan oleh lisannya.
"Bukankah banyak manusia yang tersungkur di dalam neraka,hanya karena akibat dari ulah lidahnya?" (HR Tirmidzi)
Juga Rasulullah memperingatkan dalam hadist berikut:
"Barangsiapa yang banyak bicara, maka banyak kesalahannya. Barangsiapa yang banyak kesalahannya, maka banyak dosanya. Barangsiapa banyak dosanya, maka neraka adalah tempat yang paling pantas untuknya." (HR Baihaqi)
4. Malu
Sifat malu dapat mendorong kita agar meninggalkan sesuatu yang buruk, mencegah dari sikap lalai terhadap kewajiban diri dan mencegah dari melanggar hak orang lain.
5. Pemaaf dan Sabar
Hidup dipenuhi dengan rintangan. Apapun kesukarannya, akhlak pemaaf dan sabar akan melapangkan hati, mencahayi hati, sehingga dapt mendekatkan kita kepada Allah.
6. Jujur
Kejujuran akan membimbing kita kepada kebaikan, sedangkan dusta ia menjadi pintu masuk perangkap setan. Rasulullah digelari al amin karena kejujuran beliau.
7. Rendah Hati (tawadhu')
Rasulullah memperingatkan bahaya dari tidak memiliki kerendahan hati. Bahaya tersebut adalah kesombongan. Rasulullah bersabda, "Tidak akan masuk surga, seseorang yang di hatinya terdapat kesobongan seberat biji sawi."
8. Menjauhi prasangka, ghibah, dan mencari cela sesama muslim.
Sebagai implementasi dari surat Al Hujurat 12
9. Murah hati dan dermawan
10. Menjadi teladan yang baik bagi orang lain.
Risalah islam yang dibawa oleh Rasulullah memiliki tujuan utama yaitu menyempurnakan akhlak manusia, sebagaimana yang baginda sampaikan dalam haditsnya, "Sesungguhnya, aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR Ahmad). Rasulullah adalah hamba Allah yang memiliki akhlak sempurna. Akhlak Rasulullah adalah Al Quran. Meski dalam kondisi sulit, terancam, dicemooh Rasulullah tetap menampilkan akhlah yang mulia.
Akhlak mulia adalah buah dari baik dan benarnya iman. Iman akan menuntun kita apakah kita dapat berakhlak mulia dalam segala aspek kehidupan kita. Semakin baiknya akhlak kepada Allah, kepada Rasulullah, sesama manusia, akhlak dalam beribadah akan membawa kita semakin mendekat kepada Allah. Kemuliaan akhlak yang diimplementasikan dalam setiap amal perbuatan akan membuat amalan tersebut memiliki kadar yang memberatkan timbangan amal baik manusia di akhirat kelak.
Beberapa sifat-sifat yang harus dimiliki seorang muslim sejati dalam berakhlak, antara lain:
1. Menjauhi perkara-perkara yang syubhat
Sebagai seorang muslim kita harus berhati-hati dalam halal haramnya sebuah perkara. Karena kita tahu betul perkara yang haram tidak akan mungkin diterima, apatah lagi bernilai pahala di sisi Allah.
2. Menjaga Pandangan
Menjaga pandangan dari melihat perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah. Menahan diri dari pandangan-pandangan yang tidak perlu karena sangat besar kemungkinan ia kan mengotori hati.
3. Menjaga Ucapan
Jagalah lisan dari berucap yang tidak perlu apalagi tercela. Rasulullah menyampaikan dalam hadistnya bahwa banyak manusia tergelincir ke neraka karena disebabkan oleh lisannya.
"Bukankah banyak manusia yang tersungkur di dalam neraka,hanya karena akibat dari ulah lidahnya?" (HR Tirmidzi)
Juga Rasulullah memperingatkan dalam hadist berikut:
"Barangsiapa yang banyak bicara, maka banyak kesalahannya. Barangsiapa yang banyak kesalahannya, maka banyak dosanya. Barangsiapa banyak dosanya, maka neraka adalah tempat yang paling pantas untuknya." (HR Baihaqi)
4. Malu
Sifat malu dapat mendorong kita agar meninggalkan sesuatu yang buruk, mencegah dari sikap lalai terhadap kewajiban diri dan mencegah dari melanggar hak orang lain.
5. Pemaaf dan Sabar
Hidup dipenuhi dengan rintangan. Apapun kesukarannya, akhlak pemaaf dan sabar akan melapangkan hati, mencahayi hati, sehingga dapt mendekatkan kita kepada Allah.
6. Jujur
Kejujuran akan membimbing kita kepada kebaikan, sedangkan dusta ia menjadi pintu masuk perangkap setan. Rasulullah digelari al amin karena kejujuran beliau.
7. Rendah Hati (tawadhu')
Rasulullah memperingatkan bahaya dari tidak memiliki kerendahan hati. Bahaya tersebut adalah kesombongan. Rasulullah bersabda, "Tidak akan masuk surga, seseorang yang di hatinya terdapat kesobongan seberat biji sawi."
8. Menjauhi prasangka, ghibah, dan mencari cela sesama muslim.
Sebagai implementasi dari surat Al Hujurat 12
9. Murah hati dan dermawan
10. Menjadi teladan yang baik bagi orang lain.
Tentang Doa
Kadang mungkin aku lupa, bahwa doa tak melulu soal meminta.
Tapi ia bincang mesra.
Kadang mungkin aku lupa, bahwa doa tak melulu soal membicarakan apa yang dihajatkan.
Tapi ia proses diskusi kepada yang Maha Mengurus segala sesuatu.
Kadang mungkin aku luput, bahwa doa tak selalu berjawab dengan apa yang akhirnya didapat.
Tapi terkadang tentang apa yang hilang. Hilangnya kekhawatiran, kegundahan, kecemasan, ketakutan, kekecewaan dari hatiku.
Hidup Berapa Lama Lagi?
Tiga ayat di gambar adalah beberapa di antara ayat favoritku yang menjadi pengingat ketika bertemu dengan tanggal 3 Oktober. Tanggal yang mengingatkanku bahwa jatah hidupku telah kembali berkurang setahun penuh. Tanggal di mana 25 tahun masehi lalu aku berhasil keluar dari kandungan Ibu. Tanggal yang mengingatkan lagi padaku bahwa perjalananku semakin mendekat menuju kematian. Semakin dekat dengan waktu perpisahanku dengan kalian, dunia. Hidup tidak abadi, ya kan?
Lalu berapa lama lagikah aku bersamamu? Sejauh apalagi aku mau mengejarmu?
Aku tak ingin lupa bahwa bersamamu tiada kekal melainkan hanya sebentar.
Nadia
Aku terdiam memandangi layar smartphoneku. Seorang kakak yang telah lama tak saling bersapa baik di dunia nyata atau dunia maya, tiba-tiba mengirimkanku chat lewat applikasi whatsapp. Wah ada chat dari Kak Putri, batinku.
"Hai Nad, apa kabar? Lama gak ngobrol yah :D"
Jariku pun seketika secepat kilat mengetik balasannya dengan antusias.
"Halo kak, Alhamdulillah Baik XD yaampun iya nih udah lama. Kakak gimana kabarnya?"
Seperti tak ingin aku menanti balasan, Kak Putri yang dulu adalah rekan kerjaku di kantor lama pun segera mengirimkan balasannya.
"Alhamdulillah aku baik juga Nad :D. Btw aku hari ini main ke tempat makan samping kantormu, kalau sempet ketemuan yuk.
"Asik, sampai jam berapa tu? Yuk bolehlah kak"
"Paling sampai jam 1 siang aja sih Nad. Nanti ku kabarin lagi. Oh iya Nad.."
Aku melihat Kak Putri masih mengetikkan balasannya karena dari layar tertera Kak Putri is typing. Aku menutup layar hp sesaat dan kemudian lanjutkan pekerjaannya.
Hari ini suasana kantor terasa begitu sejuk dan hening. Mungkin karena di luar hujan merintik seharian dan banyak rekan-rekan kerjaku yang memilih kerja remote. Ada yang remote dari rumah atau kosan atau bahkan kafe terdekat sehingga tak heran kantor terasa lebih sepi. Terkadang aku merasa ada bagusnya jika suasana kantor seperti ini, karena minim distraksi dan bisa lebih banyak hal yang bisa ku kerjakan. Tapi hari ini, suasana seperti ini malah seperti mendukung hatiku yang sedang tidak nyaman larut dalam kesenduan. Akhir-akhir ini entah mengapa aku semakin sering memikirkannya. Sesosok yang tiba-tiba saja masuk ke dalam hidupku dan ku kenal dalam waktu singkat.
Sesosok itu dia. Ah apakabarnya saat ini.. Apakah dia sudah berhasil melupakanku? Apakah dia sudah berhasil mengubur segala niat dan mimpi-mimpi baik yang dulu sama-sama kami ikhtiarkan? Suasana ini sukses membuat pikiranku menerawang dan kembali ke sebuah imajinasi tentang ruang di mana aku melihat diriku terduduk dalam keheningan. Tiiing.... Bunyi notif chat membuyarkan lamunanku. Kembali aku mengecek, ternyata lanjutan dari Kak Putri.
"Oh iya Nad, kira-kira kamu udah siap ta'aruf belum 😊?. Ada teman suamiku nih Nad lagi nyari muslimah. Dia ngaji Nad, kelahiran 92 juga sama kayak kamu hehe"
Kemudian,
"Dia juga background pekerjaannya hampir mirip sama kayak kamu :). Kalau kamu udah siap dan mungkin mau coba tawaranku, aku boleh minta cv kamu?"
Ta'aruf. Kata itu....
***
[bersambung]
#Moveonproject #2
There’s faith in my world | It comes back to your teachings and all your words | From your life I have learnt | To be patient and caring at every turn | The reason I’m strong | You’re where I belong | In a world spinning out of control | The reason for my pride | You are my guide | And I will always follow your way | Your way, your way, oh!
Salam. Lagu ini dalam banget yah liriknya. Lagu ini jadi soundtracknya film kehidupan saya dalam sepekan terakhir :D. Lagu ini yang saya repeat again repeat again di akun spotify saya. Playlist spotify lagi full Maher Zain karena bakda pulang dari Bandung dua pekan lalu, sepanjang perjalanannya saya dijejelin lagu Maher Zain dari berbagai macam albumnya doi. Alhasil pulang-pulang spotify yang tadinya lagi nyetel lagu-lagunya grup musik Rabithah, Unic, sementara ganti dulu jadi Maher Zain 😍.
‘Alayka salla Allah O Muhammad (May Allah’s salutations be upon you O Muhammad) | Peace & blessings on you every day | ‘Alayka salla Allah O Muhammad | You inspire me in every way | I promise that wherever I go | Whenever I pray I’ll be sending you praise | With the words that I say
Rasulallah (Messenger of Allah), O Muhammad Peace & blessings on you every day
Cerita tentang lagu ini, ketika di awal lirik from your life I have learnt, to be patient and caring at every turn, saya jadi teringat perjuangan Rasulullah buat ummatnya. Saya teringat ketika Rasulullah dikatakan sebagai majnun 😭 tapi beliau tetap dengan gigih dan sabar menyampaikan dakwahnya. Saya teringat ketika Uqbah bin Abi Mu'ayth, seseorang durhaka yang lebih memilih teman dibanding iman, melempari Rasulullah dengan kotoran 😭. ‘Alayka salla Allah O Muhammad. Lagu ini saya suka juga musiknya *hehe dan juga bisa jadi senandung yang mendatangkan perenungan buat saya.
Di luar cerita soundtrack hidup saya sepekan tadi, saya mau cerita sedikit betapa sepekan ini saya sangat bersyukur 😭. Pertama dalam pekan ini ada tanggal merah. Hayo, siapa coba yang gak seneng ada tanggal merah?. Tanggal merah pada saat weekday artinya apa? Artinya saya bisa sejenak berhenti dari amanah 8 jam waktu kerja dan mengisi waktu saya dengan targetan saya yang lain. Itu sangat membahagiakan vroh :"). Dan tanggal merah ini sebenarnya adalah tanggal 1 Muharram, yang artinya kita tengah mengalami pergantian tahun di tahun Hijriah, yaitu tahun 1439H. Ini waktu yang tepat bagi saya untuk mengevaluasi diri berkait targetan-targetan diri yang sudah ataupun belum dicapai. Bahkan juga kalau mau revisi plan hidup.
Hal kedua yang membuat saya bersyukur adalah dalam pekan ini Allah beri saya kesempatan untuk melangkahkan kaki menuju majelis-majelis ilmu yang diisi oleh gurunda favorit saya, ustadz Salim A Fillah dan Ustadz Asep Sobari, Lc. Menghadiri kajian ustadz Salim pada saat hari Kamis tanggal merah di waktu sore bakda ashar dan lokasinya yang lebih jauh dari kantor kok ya rasanya kalau engga dimudahkan Allah mah bakal mager. Tapi engga, Alhamdulillah sama sekali engga mager, bahkan semangat banget 💪😤. Emang temanya apa sih? Temanya itu 'Merawat Cinta Sampai Surga' pantes semangat ya Na.. hehe enggak kok bukan karena tema-nya aja. Yaudah saya berangkat deh naik gocar barengan temen menuju masjid Nurul Amal. Alhamdulillah punya temen yang kece asik dan semangat banget kalau ikutan majelis ilmu *huaaa, saya doain semoga dia dipertemukan pendamping yang akan membersamai diri dan jiwanya yang selalu haus akan ilmu*. Pada kajian kemarin itu ada gaya baru dari penyampaian Ustadz Salim dan juga ada cerita baru yang rasanya-rasanya baru saya dengar dari versi ustadz Salim-nya. Jadi 100% bersyukur karena tidak melewatkan.
Sedangkan kajian ustadz Asep membahas shirah nabawiyah seri syamail *kebiasaan-kebiasaan Rasulullah* dalam bentuk serangkaian acara mabit hari Jum'at ke Sabtu. Saya dan teman saya sangat antusias hingga kami mengambil posisi paling depan *biasanya saya juga gitu sih ekekeke* agar lebih siap mereguk ilmu dari mata airnya. Kajian syamail ini membahas seputar bagaimana kebiasaan Rasulullah dalam bermuamalah, bagaimana kebiasaan Rasulullah saat makan, apa kesukaan Rasulullah dan sebagainya. Sebagai contoh yaitu dalam hal bermuamalah Rasulullah pernah melakukan pinjaman, maka tatkala Rasulullah mengembalikan pinjamannya, Rasulullah menambahkankan hingga 2x lipat dari sejumlah yang beliau pinjam. Atau dalam hal makanan, Rasulullah membiasakan diri memiliki selera ketika makan. Ini senada dengan hadist yang menyebutkan untuk makanlah ketika lapar, berhentilah sebelum kenyang. Jadi kalau selera makan tidak muncul ya jangan makan, kalau belum lapar ya jangan makan, karena sebenarnya hal ini berkaitan dengan manfaat makanan yang masuk ke tubuh kita. Ustadz Asep juga menyampaikan tips diet beliau yang berhasil menurunkan berat badan kurang lebih 20kg berdasarkan hadist tadi. 'Kalau gak selera jangan makan, kalau gak lapar ya jangan makan'. Beliau juga bercerita tentang hadist mengenai makan yang bervariasi, jangan makan itu-itu terus, tapi ingat tetap apa adanya dan tidak memaksakan harus ada. Dari situ terlontar ajakan untuk coba deh gak terlalu bergantung dengan nasi. Intinya ustadz bilang kalau beliau sesekali *agak lupa, sesekali apa sudah sering ya?* tidak memakan nasi. Weiiits dari sini saya langsung tersenyum dalam hati bilang *saya juga, saya juga stadz*. Berasa ada temennya *lol* dan memang hal tersebut bekerja juga sama saya dan berhasil nurunin banyak XD
Hal ketiganya adalah ada hujan di pekan ini. Hujan atau berdoa saat hujan itu romantis. Karena waktu itu kehujanan 😂, momen apalagi sih yang indah selain berdoa saat kita tahu di situlah salah satu waktu mustajabnya doa. Yap doa, doa, doa sebanyak-banyaknya, memohon keberkahan sama Allah. Dan karena hujan itu jualah Allah memberi saya kesempatan menggugurkan dosa-dosa saya yang seabrek-abrek banyaknya TT. Laa ba'sa thahuurun, insyaAllah.
Saat Rindu Karena Allah #KA
Teruntuk dirimu yang tengah merindu diam-diam.
Maka yang baik dari rindu adalah melangitnya doa-doa rahasia, ya kan? Pada doa-doa itu, Malaikat mengaminkan sekaligus mendoakanmu juga agar mendapat kebaikan yang semisal doamu itu. Ia telah disampaikan oleh Rasulullah ﷺ, "Sesungguhnya do’a seseorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendo’akan saudaranya ada malaikat yang bertugas mengaminkan do’anya. Tatkala dia mendo’akan saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka Malaikat tersebut berkata: ‘Aamiin dan Engkau pun mendapatkan apa yang ia dapatkan." (HR Muslim)
Biru
Biar ku laut, kau langit.
Biru kita berpadu.
Aku cintai warna senjamu yang sesaat.
Bersahabatlah dengan gelombangku yang tak selalu tenang.
Aku terima warna kelammu, gelap.
Terimalah deru ombakku kala ia pecah berderai.
Tunduk kita dalam ketetapan Tuhan, bersinergi lahirkan hujan.
Dan kita tahu, datangnya hujan adalah berlimpahnya keberkahan.
![]() |
| Pantai Gandoriah, Pariaman |
Dialog Taman
Sudah cukup lama ia berdiri di ujung memandangi keindahan taman sambil memegang hati-hati sekantung bibit tanaman yang ia bawa. Bersama kekaguman yang tak dapat ia sembunyikan juga ada keraguan yang terlukis di raut wajahnya. Teringat suatu waktu dia pernah mengatakan pada dirinya sendiri, "Kelak jika bibit cinta dari Rabb ku ini kutumbuhkan, aku ingin ia tumbuh di sebuah taman yang indah".
Sebab ia pernah bermimpi tentang taman surga sebelum surga. Yaitu taman di mana ia dapat berlari-lari kecil, menari dengan riang. Saat mulai lelah, ia rebahkan dirinya menatap langit dan angin pun lembut menyapu pipi, asrinya taman memberikan ketrentaman. Hari ini nampaknya ia telah menemukan taman tersebut. Namun ia ragu apakah boleh memasuki taman dan menanamkan bibit cinta yang ia bawa ini.
Sebab ia pernah bermimpi tentang taman surga sebelum surga. Yaitu taman di mana ia dapat berlari-lari kecil, menari dengan riang. Saat mulai lelah, ia rebahkan dirinya menatap langit dan angin pun lembut menyapu pipi, asrinya taman memberikan ketrentaman. Hari ini nampaknya ia telah menemukan taman tersebut. Namun ia ragu apakah boleh memasuki taman dan menanamkan bibit cinta yang ia bawa ini.
September Bersyukur Jilid 1 💖
Alhamdulillah saya bersyukur atas
- Nikmat Islam dan Iman yang Allah berikan 😭.
- Alhamdulillah Allah beri kesehatan sehingga dapat beribadah dan beraktivitas dengan lancar.
- Alhamdulillah atas kemudahan beribadah, shalat dengan nyaman, tilawah dengan khusyuk, ikut kajian di mana-mana sementara Muslim di belahan bumi lain sedang mendapat cobaan yang mendera 😭, terkhusus saat ini saudara kita muslim Rohingnya.
- Alhamdulillah lingkungan dan suasana kantor masih kondusif. Jadwal ibadah yaumiyah bisa tepat waktu, capai target, bisa rutinkan sunnah, insyaAllah.
- Alhamdulillah #moveonproject udah mulai jalan walau progressnya sedikit-sedikit hehe. Gapapa ya, yang jelas udah usaha. Mungkin kata Allah masih belum greget nih usahanya :D. Mungkin juga kata Allah berhasilnya itu belum hari ini. Alhamdulillah 'ala kulli hal. Jangan lupa bersyukur juga karena Allah udah ngasih clue waktu itu sehingga bisa dalam kondisi yang sekarang ini :). Allah tuh paling baik banget.
- Alhamdulillah Allah mudahkan bisa bantu keluarga, orang terdekat sampai orang jauh.
- Alhamdulillah setelah dievaluasi secara keseluruhan ternyata targetan-targetan untuk bulan ini yang di list hampir 75%an udah terlaksana. Tinggal konsisten sama target yang daily dan weeklynya. Wah.. Barakallah ya.
- Alhamdulillah walau sedih karena Gamo, kucing kesayangan tiba-tiba menghilang 😭, tapi Allah datangkan kucing baru. Namanya Kara, dinamain Kara sama Mama karena sebatang Kara (*kenapa bukan Hachi, *Hachi anak yang sebatang Kara pergi mencari ibunya. Di malam yang sangat dingin~ eh jadi nyanyi hehe*). Kara ini juga disayang sama Mama dan Ayah, jadi lumayan buat hiburan mereka hehe. Walaupun ada rasa kehilangan mendalam sama si Gamo *soalnya dia kucing yang rajin ikutan bangun malam, bahkan kadang ngebangunin :" *, tapi dia kan makhluk Allah juga yang udah terjamin hidupNya, jadi pasti dia baik-baik aja.
- Alhamdulillah sempet nge-Bandung. Udah kangen sama DT dari tahun lalu. Akhirnya berkesempatan ikutan wisata hikmah dan datang ke kajian Teh Ninih. Ternyata pas kajian materinya membahas tema yang emang dibutuhkan TT. 'Hamba padaMu Rabbi' banget deh pokoknya :". Eh terus rezeki diundang ke rumahnya Teh Ninih, kenalan, icip-icip jamuan dan beliau sharing sedikit mengenai bakti ke orang tua, muslimah kuat, menyibukkan diri dengan Allah dan perihal jodoh juga lho 😍. Dari perjalanan waktu itu jadi nambah kenalan baru saudari seiman. Alhamdulillah, semoga hikmah terus dapat digali meski perjalanan telah usai.
- Alhamdulillah udah mulai nyelesain beberapa kelasnya ustadz Cahyadi dan Istri. Meski nyicil dikit-dikit setiap bakda pulang kerja. Alhamdulillah asal tekad kuat Allah mudahkan aja belajarnya. Meski ngantuk-ngantuk. Ah lagian bukannya mengantuk itu hal yang tidak disuka ya?, sabar ya, lawan!.
- Alhamdulillah di sela-sela waktu, kesempatan buat baca buku setiap hari masih jalan terus. Lebih nyuri-nyuri sekarang, di kereta doang bisanya huhu. Iya, biar aku saja yang jadi pencuri waktunya, daripada waktu aku yang dicuri lalu tanpa sadar #tautautua. Qadarullah buku yang lagi dibaca asa pas banget, bikin cengeng, jadi ingat Allah. Aku tanpaMu itu suatu ketiadaan ya Allah. Pokoknya bukunya banyak-banyak ngingetin diri ini banget. Tuh kan, Allah baik kan.
- Alhamdulillah nge-supervisi chapter buat project di kantor lumayan lancar :D, sempet stuck soalnya. Semangat buat melakukan dengan lebih baik lagi biar tim juga semangat. Gapapa sedikit-sedikit yang penting learning process-nya ya.
- Alhamdulillah tahun ini kembali Allah mudahkan usaha meneladani Nabi Ibrahim. Selain berqurban juga berkorban. Berkorban perasaan buat Allah 😶 alhamdulillah. Kalau kata Sarah "Apakah ini perintah Allah, jika ya maka Allah tidak akan menyia-nyiakan hambaNya". Dan kalimat iman itu gak serta merta membuat keajaiban terjadi. Sarah lari-lari tujuh kali Shafa-Marwah terlebih dahulu. Nah yakin aja sama Allah.
- Alhamdulillah waktu itu meski jadinya sendiri tapi Allah mudahkan langkahnya untuk nyempetin dateng jalasah ruhiyah yang diisi oleh ustadzah Erika. Alokasi waktu untuk materinya mungkin sekitar 1,5 jam, tapi ada keterlambatan sehingga materi baru mulai setengah jam menjelang maghrib. Tapi meski cuma setengah jam, ilmunya udah banyak banget yang harus ditampung. MasyaAllah ya, berkah ustadzah.
- Alhamdulillah waktu kontrol gigi dokter bilang perkembangannya bagus padahal baru aktivasi pertama.
- Alhamdulillah, saat lagi banyak pressure, tapi kalau dilapang-lapangin, pressurenya gak terlalu berasa banget. Ingat, p = F/A, A nya dilapangin aja :D. Jadi karena load kerja lagi banyak, Allah mudahkan usaha melatih diri, bermujahadah buat terus istighfar, bilang ke diri sendiri 'sabar ya sabar' terus senyum. Simsalabim ini bekerja banget. At least muka ini gak gampang ketekuk ehehe.
- Alhamdulillah nge-review hasil tes kandidat-kandidat yang mau ngelamar di divisi berarti harus ngealokasikan waktu tambahan. Hikmahnya jadi bisa belajar lagi. Belajar baca codingan orang, codingan yang mungkin udah lupa-lupa, refresh lagi, belajar sabar kalau ada yang gak nyiapin script sesuai instruksi sehingga harus copas-copasin jawaban satu-satu :"D, gapapa tapi kan dapet pelajaran sabar.
- Alhamdulillah di LTQ bisa kembali dalam halaqah seorang ustadzah yang saya paling favoritkan *semua saya cintai, tapi ustadzah ini yang paling, ndapapa kan punya favorit*. Satu catatan berkesan di salah satu pertemuan pada bulan ini adalah kata-kata beliau kurang lebih begini: "kita disini sama-sama masih berusaha sebaik mungkin agar bacaan kita mendekati bacaan Rasulullah", tesss...tak terasa menitik air di sudut mata karena jadi ngebayangin Rasulullah saat membacakan Al Quran kepada para sahabat. Allahumma sholli 'ala Muhammad.
- Alhamdulillah punya sahabat-sahabat shalihah yang melalui mereka penjagaan Allah sampai pada saya. Ada yang curhat sehingga ketika saya bermaksud menanggapi dengan sebuah nasihat maka sebenarnya saya sedang nasihati diri sendiri. Ada yang ketika saya cerita ke sahabat saya terus saya dikirimi rekaman kajian cuma beberapa menit, didengerin pas di kereta, tapi berasa, ya Allah... jauh, saya masih jauh :"(
- Alhamdulillah akhirnya berkesempatan bertemu dengan adik-adik calon mentor di sekolah. Alhamdulillah Allah gerakkan hati mereka untuk kembali ke sekolah. Semoga ini jadi semangat buat kami semua.
- Alhamdulillah adek saya yang cowok udah makin berubah jadi pribadi lebih baik lagi. Sekarang udah rajin datang ke LTQnya, udah berusaha agar 5 waktu gak ketinggalan berjamaah di masjid terutama shubuh Efeknya apa? dia sekarang gak segalak, setambeng dan sengajak-ribut dulu hehehe. Rajin shaum sunnahnya juga :'). Ya Allah, terimakasih ya Allah.
Alhamdulillah ya Allah, betapa yang tertulis ini gak akan sama sekali mewakili nikmatmu yang tiada batas dan tak mampu dihitung oleh hamba-Mu *meski saya anak matematika*. Menghitung-hitung nikmat ini semoga jadi pengingat diri untuk terus bersyukur. Sebab tidak ada yang lebih menakutkan dari azabMu ya Allah akibat tidak bersyukurnya diri ini.
”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku),maka pasti azab-Ku sangat berat.”(QS.ibrahim [14]: 7)
Waktumu Hanya untuk 4 Hal
Lina, dalam surat Al-Asr, Allah menyebutkan bahwa manusia dalam kerugian jika waktu di dunia terisi dengan selain empat hal ini:
- Beriman,
- Beramal shalih,
- Menasihati dalam kebenaran,
- Menasihati dalam kesabaran.
Selain empat hal tersebut, berhati-hatilah terhadap hisabnya di akhirat kelak. Selain empat hal itu, merugilah dirimu 😢. Jangan pernah tertipu dengan diri sendiri, Lina. Jangan pernah merasa sudah cukup dalam beramal. Jangan pernah berhenti mencurigai diri sendiri. Bukankah kau dapati dirimu tak pernah lolos dalam evaluasi harianmu. Bukankah dari waktu shalat ke shalat berikutnya selalu ada hal yang kau sesali. Bukankah kau menyesali berkurangnya waktu tapi tak bertambah amal baik mu?. Kumohon Lina, jangan berhenti memohon ampun pada Allah dari bahkan sekecil khilaf yang tidak kau sadari. Jangan berhenti meminta agar Allah selalu menuntunmu. Curigailah pada jatah waktu yang terus berkurang, adakah ia menjadi pertambahan amal baik mu ataukah ia hanya berupa pertambahan rugi?.
Dear Woman in the Mirror
Dear woman in the mirror,
Di akhir zaman ini kamu tahu kan semakin banyaknya fitnah merajalela menjadikan wanita korban dengan jumlah jauh lebih banyak daripada kaum laki-laki. Dalam sebuah hadist shahih, Nabi sudah menyampaikan bahwa "Diantara tanda-tanda kiamat adalah banyaknya fitnah". Tahukah kamu fitnah tersebut menyebar dalam dua cara. Pertama fitnah melalui benda-benda berwujud sehingga manusia tertarik pada yang terlihat. Lihatlah fenomena betapa banyak orang yang berlomba-lomba memburu sesuatu berwujud seperti uang, mobil, rumah dll. Andaikata dalam sebuah majelis ilmu disampaikan bahwa bagi yang menghadirinya akan mendapatkan uang atau hadiah jutaan rupiah maka dapat dipastikan yang hadir akan jauh lebih banyak dari biasanya. Namun ketika hanya dimotivasi dengan pahala yang banyak maka banyak pula yang akan berpikir dua tiga kali untuk melangkahkan kakinya ke majelis ilmu. Mengapa? Karena orang-orang tertarik kepada yang terlihat sedangkan pahala adalah sesuatu yang tidak terlihat. Kemudian jangan tanya lagi tentang banyaknya kasus kriminal yang berawal dari masalah benda ini, banyak bukan? :'(. Jagalah dirimu dari kecenderungan pada dunia dan isinya.
Fitnah kedua adalah kaum wanita. Sekarang lihat kaummu kini tak sedikit yang dijadikan sarana pelampiasan hawa nafsu. Pernah terfikirkan mengapa wanita berdampingan dengan mobil? Bisa cari korelasinya antara kecantikan, keseksian model wanita dengan penjualan mobil?. Faktanya kini wanita dijadikan *maaf* barang dagangan. Maka perjuangan muslimah, termasuk kamu saat ini adalah perjuangan besar untuk mengimbangi fitnah akhir zaman. Agar ia jangan sampai terlalu parah, terlalu vulgar sehingga generasi anak-anak mu kelak hancur. Jangan sampai zaman ini didominasi oleh orang-orang yang berbuat fitnah. Jagalah dirimu dan muslimah sekelilingmu. Wanita dan auratnya. Bayangkan ada dua makanan, satu terletak dalam etalase yang tertutup rapih tidak ada lalat yang bisa masuk, yang satu terbuka sepanjang hari tiap jam lalat menumpuk disitu juga debu-debu yang terbawa angin menyapa makanan tersebut. Kamu pilih mana?. Tertutup bukan? karena fitrah manusia memilih sesuatu yang baik, makanan tertutup, menyukai yang tertutup. Tapi dear.. ujian takkan berhenti sampai disini. Kamu tahu banyak pemuda sekarang yang mungkin sudah muak dengan aurat yang terus diumbar-umbar sehingga tak lagi merasa bahwa ia suatu godaan yang berat namun justru tak tahan dengan kejelitaan seorang akhwat yang berpakaian rapih tertutup?. Sehingga jangan kaget saat ini kita banyak melihat seorang muslimah dengan pakaian yang sudah tertutup di social media di-follow oleh para ikhwan yang *katanya* ngaji *ikhwan juga manusia* dan di waktu luang ia bebas mencuci matanya memandangi foto sang akhwat jelita. Haduuuuh. Jadi jagalah dirimu dari pandangan-pandangan khianat.
Lalu pemuda sekarang juga tak sedikit yang mudah terjangkit penyakit galau, malas, tidak percaya diri serta penuh ragu. Maka perhatikan kebiasaanmu, ubahlah kebisaan burukmu. Untuk dirimu yang selalu menchallenge diri demi menemukan minimal sekecil-kecilnya perubahan baik dari dirimu, jangan lemah!. "Jangan lelah hingga kelelahan itu lelah mengikutimu" (KH. Rahmat Abdullah). Jadilah tangguh karena engkau bersama Allah. Janganlah mudah galau karena engkau bersama Allah.
Dear woman in the mirror, ini catatan untukmu.
Di akhir zaman ini kamu tahu kan semakin banyaknya fitnah merajalela menjadikan wanita korban dengan jumlah jauh lebih banyak daripada kaum laki-laki. Dalam sebuah hadist shahih, Nabi sudah menyampaikan bahwa "Diantara tanda-tanda kiamat adalah banyaknya fitnah". Tahukah kamu fitnah tersebut menyebar dalam dua cara. Pertama fitnah melalui benda-benda berwujud sehingga manusia tertarik pada yang terlihat. Lihatlah fenomena betapa banyak orang yang berlomba-lomba memburu sesuatu berwujud seperti uang, mobil, rumah dll. Andaikata dalam sebuah majelis ilmu disampaikan bahwa bagi yang menghadirinya akan mendapatkan uang atau hadiah jutaan rupiah maka dapat dipastikan yang hadir akan jauh lebih banyak dari biasanya. Namun ketika hanya dimotivasi dengan pahala yang banyak maka banyak pula yang akan berpikir dua tiga kali untuk melangkahkan kakinya ke majelis ilmu. Mengapa? Karena orang-orang tertarik kepada yang terlihat sedangkan pahala adalah sesuatu yang tidak terlihat. Kemudian jangan tanya lagi tentang banyaknya kasus kriminal yang berawal dari masalah benda ini, banyak bukan? :'(. Jagalah dirimu dari kecenderungan pada dunia dan isinya.
Fitnah kedua adalah kaum wanita. Sekarang lihat kaummu kini tak sedikit yang dijadikan sarana pelampiasan hawa nafsu. Pernah terfikirkan mengapa wanita berdampingan dengan mobil? Bisa cari korelasinya antara kecantikan, keseksian model wanita dengan penjualan mobil?. Faktanya kini wanita dijadikan *maaf* barang dagangan. Maka perjuangan muslimah, termasuk kamu saat ini adalah perjuangan besar untuk mengimbangi fitnah akhir zaman. Agar ia jangan sampai terlalu parah, terlalu vulgar sehingga generasi anak-anak mu kelak hancur. Jangan sampai zaman ini didominasi oleh orang-orang yang berbuat fitnah. Jagalah dirimu dan muslimah sekelilingmu. Wanita dan auratnya. Bayangkan ada dua makanan, satu terletak dalam etalase yang tertutup rapih tidak ada lalat yang bisa masuk, yang satu terbuka sepanjang hari tiap jam lalat menumpuk disitu juga debu-debu yang terbawa angin menyapa makanan tersebut. Kamu pilih mana?. Tertutup bukan? karena fitrah manusia memilih sesuatu yang baik, makanan tertutup, menyukai yang tertutup. Tapi dear.. ujian takkan berhenti sampai disini. Kamu tahu banyak pemuda sekarang yang mungkin sudah muak dengan aurat yang terus diumbar-umbar sehingga tak lagi merasa bahwa ia suatu godaan yang berat namun justru tak tahan dengan kejelitaan seorang akhwat yang berpakaian rapih tertutup?. Sehingga jangan kaget saat ini kita banyak melihat seorang muslimah dengan pakaian yang sudah tertutup di social media di-follow oleh para ikhwan yang *katanya* ngaji *ikhwan juga manusia* dan di waktu luang ia bebas mencuci matanya memandangi foto sang akhwat jelita. Haduuuuh. Jadi jagalah dirimu dari pandangan-pandangan khianat.
Lalu pemuda sekarang juga tak sedikit yang mudah terjangkit penyakit galau, malas, tidak percaya diri serta penuh ragu. Maka perhatikan kebiasaanmu, ubahlah kebisaan burukmu. Untuk dirimu yang selalu menchallenge diri demi menemukan minimal sekecil-kecilnya perubahan baik dari dirimu, jangan lemah!. "Jangan lelah hingga kelelahan itu lelah mengikutimu" (KH. Rahmat Abdullah). Jadilah tangguh karena engkau bersama Allah. Janganlah mudah galau karena engkau bersama Allah.Dear woman in the mirror, ini catatan untukmu.
Jeda
Jeda menurutku bagai spasi antar kata, ia dibutuhkan untuk mengindahkan serta memudahkan terbacanya apa yang ditulis. Jeda diperlukan sesekali agar dapat merasakan nikmatnya berjuang dengan energi baru. Jeda seperti waktu untuk menarik napas mempersiapkan ancang-ancang. Mengambil jeda sedikit sebelum bersiap berlari atau lompat dapat memperbesar kemungkinan terlampauinya jarak yang lebih jauh. Jeda dari hiruk pikuk dunia, berduaan dengan Rabb yang Maha awal dan Maha Akhir untuk mengatur ulang fokus karena bisingnya mungkin sempat mengacaukan konsentrasi. Jeda untuk memeriksa kelurusan niat yang bisa jadi sudah berbelok jauh dari arah dan tujuan semula adalah sikap yang bijak. Dalam waktu jeda yang digunakan untuk bertafakur, ia kan melembutkan dan menjernihkan hati.
"Dear Lina, kamu butuh jeda"
Tentang Menjadi Ibu #Momentofjlebjleb
Kalau lagi (bener) dengar kajian berasanya ya diri sendiri yang lagi diomongin sama penceramahnya di depan. Berasa ditelunjukkin. Berasa disitu hanya ada ku seorang. Berasa jlebjleb. Kenapa gitu jlebjleb?. Iya berasa diri ini masih sangat jauh sekali dari ilmu yang disampaikan.
Ceritanya tadi tuh datang KAP di MUI yang pengisinya ustadz Bendri. Omong-omong beliau salah satu ustadz favorit saya dari zaman kinyis-kinyis, zaman masih sekolah. Materi yang dibawakan beliau hari ini berjudul 'Ibu bekerja vs Ibu rumah tangga'. Materi dengan tema sejenis ini bukan kali pertamanya yang saya dengar dari ustadz. I mean, sebelum-sebelumnya, kajian beliau yang temanya terkait tema nikah, tema rumah tangga pun pernah saya dengar. Cuman aja berasanya yang hari ini agak melampaui diri saya yang statusnya itu sendiri masih calon Ibu, bahkan calon istri aja belum hehe. Eh tapi mah namanya ilmu ya kudu harus diambil.
Nah perasaan saat menyimak kajian dan #momenjlebjleb tadi membuat saya flashback ke masa-masa paling indah masa-masa di sekolah :D. Pada masa itu kalau lagi ada kajian rohis yang diisi sama ustadz, pembahasannya masih seputar vmj ((soalnya ini hot topic abg kan)), mau apapun acaranya anak rohis, sebutlah tafakur alam, gita baru, lpkm kalau undang beliau mesennya tema ma'rifatullah itu pasti bahas vmj juga. Kemudian pas kuliah berubahlah saya jadi audience yang dengar ustadznya bahas soal syiar, siyasi di dakwah kampus. Sekarang ini, setelah lulus kuliah berubah lagi jadi audience yang dengarnya seputar tema-tema nikah, pasangan dan kehidupan berumahtangga :D #udahumur. Berasa ya materi ustadznya membersamai berkurangnya jatah umur saya :'D, alhamdulillah. Terkait materi, sebenarnya materinya lebih manfaat kalau bisa langsung dipraktekkan hehe. Tapi karena belum jadi Ibu, materi tadi ya mesti kudu ditampung, diingat-dingat dan dikumpulin buat jadi bekal menjadi Ibu kelak.
Salah satu pembahasan diawal yang menarik buat saya adalah ketika ustadz memaparkan misi-misi dari seorang Ibu. Misi pertama dari seorang Ibu adalah mengikat hati anak. Ketika anak telah terikat hatinya, insyaAllah akan membuat akalnya lebih mudah untuk tunduk terhadap orangtua. Ada beberapa cara dalam mengikat hati anak, yaitu:
Ceritanya tadi tuh datang KAP di MUI yang pengisinya ustadz Bendri. Omong-omong beliau salah satu ustadz favorit saya dari zaman kinyis-kinyis, zaman masih sekolah. Materi yang dibawakan beliau hari ini berjudul 'Ibu bekerja vs Ibu rumah tangga'. Materi dengan tema sejenis ini bukan kali pertamanya yang saya dengar dari ustadz. I mean, sebelum-sebelumnya, kajian beliau yang temanya terkait tema nikah, tema rumah tangga pun pernah saya dengar. Cuman aja berasanya yang hari ini agak melampaui diri saya yang statusnya itu sendiri masih calon Ibu, bahkan calon istri aja belum hehe. Eh tapi mah namanya ilmu ya kudu harus diambil.
Nah perasaan saat menyimak kajian dan #momenjlebjleb tadi membuat saya flashback ke masa-masa paling indah masa-masa di sekolah :D. Pada masa itu kalau lagi ada kajian rohis yang diisi sama ustadz, pembahasannya masih seputar vmj ((soalnya ini hot topic abg kan)), mau apapun acaranya anak rohis, sebutlah tafakur alam, gita baru, lpkm kalau undang beliau mesennya tema ma'rifatullah itu pasti bahas vmj juga. Kemudian pas kuliah berubahlah saya jadi audience yang dengar ustadznya bahas soal syiar, siyasi di dakwah kampus. Sekarang ini, setelah lulus kuliah berubah lagi jadi audience yang dengarnya seputar tema-tema nikah, pasangan dan kehidupan berumahtangga :D #udahumur. Berasa ya materi ustadznya membersamai berkurangnya jatah umur saya :'D, alhamdulillah. Terkait materi, sebenarnya materinya lebih manfaat kalau bisa langsung dipraktekkan hehe. Tapi karena belum jadi Ibu, materi tadi ya mesti kudu ditampung, diingat-dingat dan dikumpulin buat jadi bekal menjadi Ibu kelak.
Salah satu pembahasan diawal yang menarik buat saya adalah ketika ustadz memaparkan misi-misi dari seorang Ibu. Misi pertama dari seorang Ibu adalah mengikat hati anak. Ketika anak telah terikat hatinya, insyaAllah akan membuat akalnya lebih mudah untuk tunduk terhadap orangtua. Ada beberapa cara dalam mengikat hati anak, yaitu:
- Senantiasa berpikir positif terhadap anak. Sesungguhnya hati adalah raja, sedangkan anggota badan ibarat prajuritnya. Untuk itu selalu berpikir positif kepada anak sangat diperlukan. Jangan pernah melabeli anak dengan label tidak baik.
- Menjadikan anak prioritas dalam segala kebaikan kita.
- Miliki manajemen waktu yang baik. Seorang Ibu memiliki hak untuk mengatur waktunya menjadi 4 bagian berikut: Me Time, Couple Time, Family Time dan Social Time.
- Miliki skill dasar yang dibutuhkan seorang Ibu. Skill dasar tersebut sudah pernah disinggung juga dalam tulisan saya sebelumnya. Skill dasar tersebut adalah: Memasak, Menulis, Memijat dan Mendegar.
- Harus pandai merebut Golden Moment anak. Ibu wajib hadir saat anak sedang bersedih, saat anak sakit dan saat anak sedang unjuk prestasi.
Berasa perannya Ibu mengikat hati anaknya itu ketika pulang sekolah yang dicari itu mama (walau seringnya 'ma masak apa' ya kan? haha). Mau berangkat kemana gitu fashion stylistnya itu mama, karena tiap berangkat selalu tidak terlewat untuk bertanya 'ma, cocok ga ini?' atau 'ma bajunya matching gak sama rok ini?' atau 'ma, pakai apa ya?'. Dari hal seperti ini saja rasanya sudah cukup menandakan hadirnya sesosok Ibu di hati kita.
Perihal Ibu yang telah mengikat hati anaknya, saya sangat mengapresiasi seorang Ibu yang bisa membuat anak-anaknya, yang jika diajak main terus-terusa sama temannya dan si anak juga sedang berada pada fase yang memang lagi pingin main terus, tapi kemudian dia menolak ajakan teman-temannya, lebih memilih di rumah, saat ditanya 'emang ada apa sih dirumahmu..?' terus si anak berpikir atau memiliki jawaban "ada mama ku di rumah", huaaa, ini luar biasa. Misi pertama si Ibu itu terlaksana menurut saya. Ada kan ya yang seperti itu. Iya semoga bisa menjadi Ibu yang membuat rumah dirindukan. Doakan saya bisa segera amalkan ilmu-ilmu ini ya :).
Pagi di Stasiun
Sebuah percakapan di peron stasiun pagi hari.
L : (Lagi sok-sokan baca mushaf yang kepegang, pakai baju biru laut, outer dan rok)
Ibu-ibu : Dek dek, sekolah di mana? Rajin amat.
L : ...............................................................................
(Ya Allah, kali masih sekolah dah ni muka, si ibu ngeledek 😂 😂)
(Ya Allah, kali masih sekolah dah ni muka, si ibu ngeledek 😂 😂)
hehe, engga ibu, saya gak sekolah (belum kelar ngomong)
Ibu-Ibu : Sekolah di Al Azhar ya?
L : ..................................................
(perasaan gak kayak pake seragam 😂😂) Engga ibu, saya mah mau berangkat kerja 😂😂.
(perasaan gak kayak pake seragam 😂😂) Engga ibu, saya mah mau berangkat kerja 😂😂.
Ibu-Ibu : Oalah, kerja, gurunya ya?
L : (wkwk spicles, masih dikira) Bukan bu
Ibu-Ibu: Terus kerja di mana?
L : Bukalapak bu
Ibu-Ibu : Waaah hebat buka lapak apa dek?
L : .................................................
(wkwk, sudah biasa)
(wkwk, sudah biasa)
bukalapak.com bu sebetulnya
Ibu-Ibu : Apa itu bukalapak.com?
L : 😂😂 Itu bu yang kayak 'tokosebelah' (siap-siap pundung kalau beliau tau ini tapi gatau bukalapak | gakdengbiasaaja)
Ibu-Ibu : Apa itu 'tokosebelah'?
L : (Horeeeee gatau juga 'tokosebelah' ).... dan seterus-seterusnya perbincangan jadi panjang dari ecommerce sampai ke one day one juz sampai kita udah duduk di dalam kereta. Konon si Ibu itu konsultan di Bank Dunia (etapi segitu kurang ngenal ecommerce ya). Setelah panjang akhirnya saya disuruh lanjut baca lagi 'eh maaf ya dek Ibu jadi ganggu, silakan baca lagi dek' 😂😂.
Kemudian..
Anouncer : "Sesaat lagi kereta anda akan tiba di stasiun Pasar Minggu"
Yha...XD
Surat Untuk Hati
Dear My Qalb,
Maaf telah membebanimu dengan banyak hal tidak penting akhir-akhir ini. Membebanimu dengan hal yang melebihi kapasitasmu. Aku akui, sejak awal aku telah menyadari bahwa aku akan memberimu beban melebihi kemampuanmu. Namun aku hiraukan peringatan itu hingga tanpa sadar aku lalai menangkap sinyal-sinyal darurat darimu.
Maaf atas perjalanan melelahkan yang ku paksakan. Kini saatnya kau berhenti. Berlepas dirilah dariku, pergilah menuju Rabb-Mu. Kau bukan milikku, kau milik-Nya. Bahkan menggenggammupun aku tak bisa. Tak seharusnya kau melemah mengikutiku dengan hawa nafsuku.
Maaf telah membuatmu lusuh karena debu-debu selama berjalan mengikutiku. Maaf tak sering-sering mengajakmu membersihkan diri, memberimu istirahat.
Maaf.
Maaf telah membebanimu dengan banyak hal tidak penting akhir-akhir ini. Membebanimu dengan hal yang melebihi kapasitasmu. Aku akui, sejak awal aku telah menyadari bahwa aku akan memberimu beban melebihi kemampuanmu. Namun aku hiraukan peringatan itu hingga tanpa sadar aku lalai menangkap sinyal-sinyal darurat darimu.
Maaf atas perjalanan melelahkan yang ku paksakan. Kini saatnya kau berhenti. Berlepas dirilah dariku, pergilah menuju Rabb-Mu. Kau bukan milikku, kau milik-Nya. Bahkan menggenggammupun aku tak bisa. Tak seharusnya kau melemah mengikutiku dengan hawa nafsuku.
Maaf telah membuatmu lusuh karena debu-debu selama berjalan mengikutiku. Maaf tak sering-sering mengajakmu membersihkan diri, memberimu istirahat.
Maaf.
Datang ke Rumah?
Pingin cerita kalau dulu saya termasuk anak cewek yang gak pernah berani membawa atau membiarkan teman lawan jenis ke rumah karena takut sama orangtua. Takut yang juga lebih ke males sih dicurigain macem-macem. Entah mengapa saya kelewat jaim aja depan orangtua, gak mau kelihatan kalau punya teman lawan jenis yang akrab. Ya pokoknya kan kalau sampai main ke rumah berarti kan agak akrab kan ya?. Padahal mah gak juga, biasa aja sih ya haha. Itu juga bukannya karena dulu saya udah paham banget konsep adab bergaul sama lawan jenis, asli enggak (Walaupun paham untuk alasan tertentu ya gak gitu banget juga sih, Lin). Jujur emang ini murni karena males dan jaim ke orangtua yang emang lumayan kaku ngedidik soal gaul sama lawan jenis. Jadinya gak pernah tuh saya mau nerima tamu teman lawan jenis ke rumah, mau alasan apapun, yang mau pinjem buku buat fotokopianlah, mau minjem lkslah, mau pinjem pr, bahkan mau ngasih hadiahlah segala macem saya gak mau. Males. Pernah dulu ada teman se-ekskul yang baik mau ngasih hadiah anter ke rumah, Al Qur'an pula ternyata, saya mau nemuin dianya di toko buku dekat rumah aja biar sekalian lagi mau fotokopi. Saking sebegitunya yang penting gak perlu ke rumah.
Kecuali, iya ada satu pengecualian ketika sahabat saya datang ke rumah diantar pacarnya XD. Yang ini emang gak bisa saya cegah, soalnya udah nyampe rumah dan tamunya itu sahabat saya. Karena kejadian itu juga ayah saya langsung interogasi mama siapa orang itu dari mana kenapa bisa datang ke rumah dsb. Mama pun menyampaikan keheranannya ke saya perihal tumbennya ada cowok yang ke rumah. Tapi kan itu bukan tamu langsung saya yaaaaa.., jadi gak masuk hitungan.
Seiring berjalannya waktu saya pun mulai mengenal adab-adab bergaul sama lawan jenis. Saat itu pulalah saya ngerasa sejalan dengan bagaimana didikan orangtua membentuk sikap saya yang ini . Walau agak kaku sih. Terkakunya itu kalau misalkan mau syura rohis dan gak ada pilihan tempat, saat itu teman-teman nanya bisa gak di rumah saya (*karena masih wilayah deket-deket sekolah). Nah karena syuranya sama ikhwan juga, saya pasti nolak pilihan di rumah saya dan minta di tempat lain aja tanpa mereka tahu alasan dari sayanya ternyata begitu amat wkwk. Ini kebangetan sih tapi gatau kenapa saya emang gak nyaman :"D.
Terkait membatasi (bukan sekedar membatasi inimah, tapi ngeboikot wkwk) kunjungan ke rumah ini, saya pun pada akhirnya jadi sampai memiliki harapan khusus ke Allah. Saya waktu itu minta sama Allah "ya Allah, jadikan satu-satunya pria yang datang ke rumah saya, sebagai tamu saya (dan keluarga), atau yang saya undang, atau yang saya kenalkan ke orangtua untuk pertama kali adalah orang yang akan Engkau persatukan dengan saya dalam pernikahan". Singkatnya, pokoknya yang berkunjung ke rumah pertama kali itu jodoh sama saya. Lebay gak? haha, jadi malu 😳😂. Ya gitu ceritanya, namanya juga harapan, boleh dong. Makanya untuk waktu yang lama sampai masa kuliah terlewati tetap aja saya ngerasa gak ada yang penting-penting amat buat dikenalin ke orangtua atau diterima kunjungannya ke rumah, kecuali dia, masa depanku #tsaaah. Harapannya sih harapan saya yang ini bisa kesampaian. Cuman kan gak menutup kemungkinan kalau pada akhirnya enggak kesampaian, karena bisa aja sih misal emang ada yang urgen atau punya urusan tertentu yang mesti ke rumah, ya mau gimana wkwk, walaupun tindakan peventif tetap diusahakan, lol.
Pertanyaannya, seiring berjalannya waktu udah ada yang berhasil datang belum Lin?..
Hmmm....
Semangat!
اِحْـرِصْ عَـلَـى مَا يَـنْـفَـعُـكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَـعْجَـزْ
Bersungguh-sungguhlah pada perkara-perkara yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah dan janganlah kamu bersikap lemah.
Bersungguh-sungguhlah pada perkara-perkara yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah dan janganlah kamu bersikap lemah.
Jangan Menunggu Waktu
Belajarlah menerima, hai diri.
Menerima rasa tak biasa yang bersemayam dalam hatimu.
Agar kemudian lebih mudah melepaskan. Mengikhlaskan.
Maafkan dirimu yang tak sempurna.
Berilah maaf pada hatimu.
Sesungguhnya kau pun tahu Allah Maha Pemaaf kan :)?.
Memohon ampunlah pada-Nya.
Allah yang menggenggam hatimu. Allah-lah yang dapat memberi petunjuk pada hatimu.
Hai diri. Jangan menunggu waktu.
Bangkit dan senangkanlah hatimu kini.
Lepaskanlah perasaan yang menjeratmu.
Sekali lagi, ikhlaskanlah.
Bahagiakan hatimu dengan hanya melakukan apa-apa yang Allah cintai.
Tetaplah yakin perjalanan hatimu kini adalah perjalanan sebelum bahagia dan berkah yang bertambah-tambah.
Menerima rasa tak biasa yang bersemayam dalam hatimu.
Agar kemudian lebih mudah melepaskan. Mengikhlaskan.
Maafkan dirimu yang tak sempurna.
Berilah maaf pada hatimu.
Sesungguhnya kau pun tahu Allah Maha Pemaaf kan :)?.
Memohon ampunlah pada-Nya.
Allah yang menggenggam hatimu. Allah-lah yang dapat memberi petunjuk pada hatimu.
Hai diri. Jangan menunggu waktu.
Bangkit dan senangkanlah hatimu kini.
Lepaskanlah perasaan yang menjeratmu.
Sekali lagi, ikhlaskanlah.
Bahagiakan hatimu dengan hanya melakukan apa-apa yang Allah cintai.
Tetaplah yakin perjalanan hatimu kini adalah perjalanan sebelum bahagia dan berkah yang bertambah-tambah.
#Moveonproject #1
Saat mengikhlaskan, sulit memang tak lantas pergi begitu saja, tapi hati terasa lebih lapang.
Penantian terasa lebih berharga karena satu-satunya yang dinanti itu hanyalah ketetapan baik Allah ❤️ .
Sebab Rencana Allah Terlalu Sempurna Untuk Gagal
Di beberapa fase-fase penting hidup Lina, seperti lulus SMA ke kuliah, lulus kuliah ke kerja atau yang di-breakdown lagi, Lina juga ngalamin yang namanya kegagalan *setiap manusia ada ngalamin kali Lin. Bicara tentang pasca berhadapan dengan kegagalan, yang Lina alami pun bermacam-macam, bisa beneran gagal achieve yang diusahakan kemudian diusahakan lagi dan Allah kasih, atau yang gagal proses sehingga Lina belajar dan berubah kemudian dapat ganti alur cerita yang lebih baik dari Allah.
Contoh kasusnya sih yang gagal maju sidang skripsi karena, ya karena belum siap hehe. Ini emang salah satu episode ter-drama dalam hidup Lina. Belum siapnya itu karena beberapa hal, salah satunya ayah Lina masuk rumah sakit dan dirawat cukup lama sehingga Lina banyak absen hadir bimbingan dan skripsian Lina progresnya seuprit-uprit banget. Padahal tanggal maju sidang udah dekat tapi codingan Lina belum beres. Berat banget rasanya waktu itu mau hubungin bapak pembimbing kalau Lina terpaksa mundur padahal Lina udah pegang tanda tangan beliau di surat izin maju sidang. Qodarullah diundur juga. Kecewa sama diri sendiri, orang tua juga mungkin kecewa sama Lina. Tapi ya mau gimana. Berdoa dan berusaha lagi yang bisa Lina lakukan.
Berkat kegagalan itu, masyaAllah, kalau Lina paksa maju bakal kecil kemungkinan Lina dapat nilai A di sidang Lina. Akhirnya sidang Lina dapat A, IPK final Lina jadi sesuai harapan Lina. Jadi berapa? diatas 3 pokoknya hehehehe. Kalau Lina paksa waktu itu sidang udah pasti IPK Lina gak sesuai harapan Lina. Masa iya sih, harapan jadi mapres gagal *emot kucing lucu nutup muka, harapan lulus 3,5 tahun gagal, harapan jadi mahasiswa predikat lulusan terbaik gagal. Ya minimal IPK harapan Lina, Lina raih deh XD.
Iya, Lina selalu berupaya set goal ketika Lina lagi jalanin proses tertentu. Ambisius gak sih?, enggak juga, Lina bukan orang yang ambisius juga sih wkwk. Kalau memang udah gak bisa diusahakan kalau ada pilihan berhenti ya berhenti biar Lina pakai waktunya buat mengusahakan yang lain. Tapi berhubung jadi mahasiswa itu gak selamanya, mesti hengkang dari kampus ya mau gak mau kelulusan itu adalah hal yang harus Lina ikhtiarkan. Selalu Lina ingat bahwa hidup itu betul-betul harus punya tujuan. Itu salah satu contoh kasus gagal yang diusahain lagi kemudian Allah kasih yang terbaik di waktu terbaikNya.
Nah tahun 2017 ini, fase apa ya?, udah kerja ceritanya, udah mandiri secara finansial, lalu apa sih yang Lina lagi usahakan?. Jawabannya banyak, masih banyak hehe. Tapi ada satu hal yang juga Lina ikhtiarkan di usia menuju quarter life, pasti pada tau deh apa wkwk. Apalagi sih yakan selain berusaha menemukan pasangan halalnya :3. Biar genap gitu. Iya, ini salah satu yang Lina ikhtiarkan, bukan maksud nyombong gimana, tapi Lina baru mulai ikhtiar dari akhir tahun 2015 *baru kok qwqwq. Dikit-dikit nyicil, mulai dari ilmunya dulu, ikut seminar, baca buku. Persiapan ruhiyah dan mental juga nyicil. Pertengahan 2016 mulai dikit-dikit sosialisasi ke orang tua, pencitraan dulu biar keliatanlah sama orang tua oh ini anak udah waktunya nih. Bener aja, selepas kelar Ramadhan 2016 tiap berangkat kerja kalau lagi saliman udah dapet doa, didoainnya semoga berjodoh sama yang direktur, macam ceo gitu *eh *waduh nanti susah gak nih mah nemunya *tapi mah bisa aja ya. Tenang, itu cuma selipan, doa yang UTAMAnya sih yang Sholeh.
Oke udah 2017 pertengahan. Udah ikhtiar ni tapi ternyata emang Allah belum izinin tuuuu. Eh bukan izin doang deng, tapi ridha. Lina lebih berharap keridhaan Allah dibanding cuma diizinin. Diizinin tuh kayak 'nih tuh kasih deh kasih'. Jadi Lina belum dapat ridha-nya Allah sampai sekarang. Kira-kira sampai kapan? ya allahu 'alam, who knows. Allah doang yang tahu, Linanya cuma bisa upaya. Btw kita kan dari awal lagi bahas kasus gagal, ini gagalnya dimana?. Ada, ada bagian gagalnya disalah satu tahap yang bikin Lina sampai nulis disini ehehe. Yang detailnya gak bakal Lina share kali ini. Kapan-kapan ya.
Berhadapan sama kegagalan lagi di fase penting?. Ya gapapa. Kan Lina udah biasa tuh berhadapan terlebih dahulu sama kegagalan di fase-fase penting hidup Lina. Lina cuman harus merengek lebih kuat sama Allah :*. Lina yakin doa sama Allah gak bakal kecewa. Lina emang belum pantas untuk mendapat yang Lina harapkan saat ini, dan memang Allah punya rencana lebih indah. Jadi rencana Lina yang gagal itu gapapa *untuk saat ini ya, karena rencana Allah pasti lebih baik dan rencana-Nya Allah terlalu sempurna untuk gagal. Sekarang lanjutin menata diri dan bersiap menghadapi kemudahan dari Allah. Iya dong :) kan dalam kesulitan ada kemudahan.
Lina,
yang masih menata diri, menata hati XD
Contoh kasusnya sih yang gagal maju sidang skripsi karena, ya karena belum siap hehe. Ini emang salah satu episode ter-drama dalam hidup Lina. Belum siapnya itu karena beberapa hal, salah satunya ayah Lina masuk rumah sakit dan dirawat cukup lama sehingga Lina banyak absen hadir bimbingan dan skripsian Lina progresnya seuprit-uprit banget. Padahal tanggal maju sidang udah dekat tapi codingan Lina belum beres. Berat banget rasanya waktu itu mau hubungin bapak pembimbing kalau Lina terpaksa mundur padahal Lina udah pegang tanda tangan beliau di surat izin maju sidang. Qodarullah diundur juga. Kecewa sama diri sendiri, orang tua juga mungkin kecewa sama Lina. Tapi ya mau gimana. Berdoa dan berusaha lagi yang bisa Lina lakukan.
Berkat kegagalan itu, masyaAllah, kalau Lina paksa maju bakal kecil kemungkinan Lina dapat nilai A di sidang Lina. Akhirnya sidang Lina dapat A, IPK final Lina jadi sesuai harapan Lina. Jadi berapa? diatas 3 pokoknya hehehehe. Kalau Lina paksa waktu itu sidang udah pasti IPK Lina gak sesuai harapan Lina. Masa iya sih, harapan jadi mapres gagal *emot kucing lucu nutup muka, harapan lulus 3,5 tahun gagal, harapan jadi mahasiswa predikat lulusan terbaik gagal. Ya minimal IPK harapan Lina, Lina raih deh XD.
Iya, Lina selalu berupaya set goal ketika Lina lagi jalanin proses tertentu. Ambisius gak sih?, enggak juga, Lina bukan orang yang ambisius juga sih wkwk. Kalau memang udah gak bisa diusahakan kalau ada pilihan berhenti ya berhenti biar Lina pakai waktunya buat mengusahakan yang lain. Tapi berhubung jadi mahasiswa itu gak selamanya, mesti hengkang dari kampus ya mau gak mau kelulusan itu adalah hal yang harus Lina ikhtiarkan. Selalu Lina ingat bahwa hidup itu betul-betul harus punya tujuan. Itu salah satu contoh kasus gagal yang diusahain lagi kemudian Allah kasih yang terbaik di waktu terbaikNya.
Nah tahun 2017 ini, fase apa ya?, udah kerja ceritanya, udah mandiri secara finansial, lalu apa sih yang Lina lagi usahakan?. Jawabannya banyak, masih banyak hehe. Tapi ada satu hal yang juga Lina ikhtiarkan di usia menuju quarter life, pasti pada tau deh apa wkwk. Apalagi sih yakan selain berusaha menemukan pasangan halalnya :3. Biar genap gitu. Iya, ini salah satu yang Lina ikhtiarkan, bukan maksud nyombong gimana, tapi Lina baru mulai ikhtiar dari akhir tahun 2015 *baru kok qwqwq. Dikit-dikit nyicil, mulai dari ilmunya dulu, ikut seminar, baca buku. Persiapan ruhiyah dan mental juga nyicil. Pertengahan 2016 mulai dikit-dikit sosialisasi ke orang tua, pencitraan dulu biar keliatanlah sama orang tua oh ini anak udah waktunya nih. Bener aja, selepas kelar Ramadhan 2016 tiap berangkat kerja kalau lagi saliman udah dapet doa, didoainnya semoga berjodoh sama yang direktur, macam ceo gitu *eh *waduh nanti susah gak nih mah nemunya *tapi mah bisa aja ya. Tenang, itu cuma selipan, doa yang UTAMAnya sih yang Sholeh.
Oke udah 2017 pertengahan. Udah ikhtiar ni tapi ternyata emang Allah belum izinin tuuuu. Eh bukan izin doang deng, tapi ridha. Lina lebih berharap keridhaan Allah dibanding cuma diizinin. Diizinin tuh kayak 'nih tuh kasih deh kasih'. Jadi Lina belum dapat ridha-nya Allah sampai sekarang. Kira-kira sampai kapan? ya allahu 'alam, who knows. Allah doang yang tahu, Linanya cuma bisa upaya. Btw kita kan dari awal lagi bahas kasus gagal, ini gagalnya dimana?. Ada, ada bagian gagalnya disalah satu tahap yang bikin Lina sampai nulis disini ehehe. Yang detailnya gak bakal Lina share kali ini. Kapan-kapan ya.
Berhadapan sama kegagalan lagi di fase penting?. Ya gapapa. Kan Lina udah biasa tuh berhadapan terlebih dahulu sama kegagalan di fase-fase penting hidup Lina. Lina cuman harus merengek lebih kuat sama Allah :*. Lina yakin doa sama Allah gak bakal kecewa. Lina emang belum pantas untuk mendapat yang Lina harapkan saat ini, dan memang Allah punya rencana lebih indah. Jadi rencana Lina yang gagal itu gapapa *untuk saat ini ya, karena rencana Allah pasti lebih baik dan rencana-Nya Allah terlalu sempurna untuk gagal. Sekarang lanjutin menata diri dan bersiap menghadapi kemudahan dari Allah. Iya dong :) kan dalam kesulitan ada kemudahan.
Lina,
yang masih menata diri, menata hati XD
Ibu
Untuk seorang Ibu yang kupanggil Ibu. Pertemuan singkat kita meninggalkan kesan di hatiku. Meski singkat namun Allah menampakkan kepadaku sebuah ketulusan dalam matamu, senyummu. Engkau pasti wanita yang disayang Allah.
Sejak itu, Allah memudahkan saja bagiku memasukkan namamu dalam doa-doa hariku. Maaf bila tanpa izin, tapi tak ada salahnya kan menyebutmu dalam doa?. Semoga kau selalu dalam lindungan Allah. Semoga kau selalu sehat. Semoga kelak kita bisa berjumpa lagi. Semoga aku bisa mengunjungimu lagi seperti yang kau ucapkan kepadaku untuk kembali datang.
Tapi Ibu, hari ini aku secara tak langsung mengambil keputusan yang mungkin kan menutup kemungkinan itu di kemudian hari. Aku yakin engkau pasti selalu berdoa yang terbaik, maka harusnya yang saat ini terjadi juga adalah jawaban terbaiknya Allah. Semoga Ibu sehat ya. Semoga kelak jika Allah mempertemukan lagi kita secara tidak sengaja kita dapat saling bertegur sapa :').
Salam,
Anak perempuan yang tidak tahu bagaimana cara menyampaikan ini secara langsung.
Sejak itu, Allah memudahkan saja bagiku memasukkan namamu dalam doa-doa hariku. Maaf bila tanpa izin, tapi tak ada salahnya kan menyebutmu dalam doa?. Semoga kau selalu dalam lindungan Allah. Semoga kau selalu sehat. Semoga kelak kita bisa berjumpa lagi. Semoga aku bisa mengunjungimu lagi seperti yang kau ucapkan kepadaku untuk kembali datang.
Tapi Ibu, hari ini aku secara tak langsung mengambil keputusan yang mungkin kan menutup kemungkinan itu di kemudian hari. Aku yakin engkau pasti selalu berdoa yang terbaik, maka harusnya yang saat ini terjadi juga adalah jawaban terbaiknya Allah. Semoga Ibu sehat ya. Semoga kelak jika Allah mempertemukan lagi kita secara tidak sengaja kita dapat saling bertegur sapa :').
Salam,
Anak perempuan yang tidak tahu bagaimana cara menyampaikan ini secara langsung.
Sungguh Allah Maha Penyayang Kepadamu
Sebakda waktu Ashar, penghujung bulan Ramadhan, aku melihat tulisan dalam mushafku berbunyi:
"Sungguh Allah maha Penyayang kepadamu" (An-Nisa' : 29)
Seketika otakku memutar rekaman-rekaman peristiwa yang aku alami sejak satu tahun kebelakang. Memang beberapa hal terasa sulit, tapi kemudahan yang Allah beri melampauinya. Aku merasa sesak mengingat betapa nikmat Allah yang begitu banyak tak ku kejar dengan banyaknya syukur yang terpanjatkan. Allahu Rabbi Ya Kariim. Maafkan aku.
Sungguh Allah maha Penyayang kepada hamba-Nya. Yang ku baca berulang-ulang dalam hati seperti "sungguh Allah menyayangimu, Lina". Menentramkan hati dengan mengingat bahwa satu-satunya dengan kasih sayang tak terbatas hanyalah Engkau ya Rabb. "Sungguh Allah maha penyayang kepadamu", membaca ayat ini pula harusnya membangkitkan optimisme ku untuk menjalani apa-apa yang ku hadapi dalam hidup. Sebab Engkau maha Penyayang maka setiap ketetapan-Mu pastilah baik.
Karena Engkau maha penyayang dan segala ketetapan-Mu baik maka maafkan diri ini yang telah terburu-buru menggerutui ketetapan. Padahal dengan bersabar, Engkau akan mudahkan diri ini memungut hikmah terserak dari setiap kejadian. Yaa Kariim.. maafkan aku yang bodoh dan tak tahu apa-apa ini karena menggerutui kesulitan. Maafkan aku terkadang lupa bahwa bersamaan dengan kesulitan Engkau menjanjikan kemudahan.
Dari Ramadhan ke Ramadhan, semoga hidayah-Mu mampu ku tangkap, mencahayai hatiku, hambaMu yang lemah lagi tempatnya lupa.
Hiatus Instagram
Kali ini mau sedikit cerita aja tentang akun Instagram (IG). Kenapa ngomongin akun IG?.Karena akhir-akhir ini beberapa orang nanyain akun IG saya yang raib dari dunia per-IGan. Gak penting emang hehehehehe tapi kalau iseng mau baca tulisan ini, sila aja.
| Buat yang nyariin, pasti munculnya gini deh huehehe:p |
Ceritanya saya baru bikin IG itu kalau gak salah di awal tahun 2015. Saya baru bikin akun di saat hampir semua teman angkatan udah saling follow-memfollow dan punya ratusan postingan. Mungkin karena saya bukan tipikal yang kalau belum tau buat apanya terus mau ikut-ikutan pakai. Nah karena merasa belum paham untuk apa dan karena masih ada akun socmed lainnya yang masih aktif dikunjungi, saya sama sekali gak tertarik bikin akun sosial media tambahan seperti IG.
Waktu berlalu, akhirnya isenglah saya buat akun IG. Kalau gak salah posting perdananya adalah meja belajar saya. Kenapa meja belajar?, karena saat itu saya tengah berjuang menyelesaikan s*k*r*i*p*s*i :p. Waktu bikin akun itu pun gak niat follow-followin orang. Jadi selama berbulan-bulan itu akun isinya cuman gitu aja udah haha. Sampai suatu ketika di perpusat matek, Yiyi, teman saya liatin akun IGnya, terus saya lihat-lihat tuh isi timeline IGnya. Wah ternyata banyak teman-teman, senior dan postingan lainnya yang kece ya. Mulai deh tuh saya follow beberapa tokoh-tokoh seperti Asma Nadia, ketua BEM UI, Ustadz Salim, Aa gym, dan banyak lainnya ditambah beberapa orang terdekat saya yang sekiranya kalau saya follow saya dapet update-an bermanfaat gituuuuu xD.
Da saya mah apa, bukan yang suka foto-foto bagus gitu, bukan juga yang suka share foto, tapi akhirnya beberapa postingan pun muncul juga di IG saya, kayak foto buku, foto saya sama buku yang dikasih sama atasan saya waktu di himpunan, foto tulisan yang ada di buku dan foto buku lagi #lahbukusemua hehe (Di kemudian hari foto-foto ini sama foto meja belajar saya itu udah saya hapus dari IG saya).
Mulai deh ketika aktivitas saya bekerja di tempat kerja pertama, saya follow rekan kerja saya yang aktif juga di dunia per-IG-an. Dari saat itu saya mulai ikutan aktif posting, posting foto bareng-bareng rekan kerja, foto lagi jalan bareng keluarga Cemara (ini panggilan buat genk di gang perbatasan PUMD sama PDRF, isinya Abah, Euis, Ara, Agil). Saya pun mulai berubah dari user pasif jadi user lumayan aktif #lol. Makin-makin suka posting itu pas udah pindah ke tempat kerja yang sekarang. Satu orang teman kantor follow saya dan mulailah yang lain ikutan follow. Dari situ saya mulai atur privasi akun saya.
Ketika IG rilis fitur barunya yakni insta stories, ternyata inilah awalnya yang bikin saya seperti tidak bisa lepas dari IG. Karena kalau upload foto butuh effort mikirin captionnya #eh nah kalau insta stories saya bisa bebas banget cerita singkat, share apapun, yang insyaAllah baik sampe yang tidak penting. Bukannya gak baik, hanya saja emang gak penting :"D. Sejak itu saya mulai keranjingan buat story (dibanding nontonin stories orang ya, saya gak terlalu hobi) walaupun gak sampai kayak selebritis kita yang insta storiesnya udah jadi titik-titik saking terlalu banyak postingannya. Hingga suatu ketika saya merasa harus challenge diri saya untuk mengatasi kegemaran yang khawatirnya mulai akut dan berlebihan. Ingat sesuatu yang berlebihan itu tidak baik hehehe. Saya mulai merasakan waktu yang kepakai buat aktivitas ini kok mulai makan banyak ya. Akhirnya saya memutuskan hiatus. Saya deactive sementara akun IG saya.
Menonaktifkan akun IG ini pada awalnya hanya saya tekadkan selama satu bulan. Tapi ternyata saya merasakan banyak manfaaatnya buat diri saya. Manfaat paling utamanya adalah berkurangnya waktu luang yang sangat berpotensi tidak produktif. Waktu sekitar beberapa menit yang selama ini teralokasikan buat bikin story dan beberapa puluh menit untuk sekedar jelajah informasi di IG (yang belum tentu penting semua) jadi dapat digunakan untuk menyelesaikan targetan baca buku lebih cepat atau minimal gak telat seperti sebelum saya memiliki akun IG.
Tanpa sadar saya pun menikmati masa-masa hiatus selama hampir 2 bulan ini yang artinya saya sudah mencapai lebih dari apa yang saya targetkan di awal. Alhamdulillah. Hikmah yang saya dapat dari semua ini ternyata benar ya bahwa waktu manusia hidup di dunia ini itu hanya kan terpakai untuk dua hal; hal yang bermanfaat atau sia-sia. Ketika saya bertekad menghindari waktu terpakai untuk hal sia-sia, Allah memberikan pertolonganNya.
Mungkin sederhana bagi kebanyakan orang tapi saya tidak bisa memudah-mudahkan diri saya. Saya memang harus menantang diri saya. Berapa banyak lagi waktu yang akan terbuang untuk hal yang sia-sia, berapa banyak debu-debu yang harus kita bersihkan dari hati kita ketika kita melihat foto, kisah, cerita orang lain dalam timeline kita atau berapa kali pandangan ini berkhianat tanpa kita menyadarinya. Semoga dengan proses ini saya dapat mengambil hikmah sebanyak-banyaknya . Sehingga saya dapat lebih bijak lagi dalam menggunakan akun ini ketika kembali mengaktifkannya. Karena semua hal di dunia ini akan dipertanggungjawabkan, termasuk waktuku yang terpakai buat IG-an, ya kan :)?.
Yah, Maafkan Putrimu
Kau tahu aku tak pernah membuatmu cemburu karena laki-laki lain.
Kau tahu sebelum ini, aku tak pernah menghadirkan sosok laki-laki lain dalam hidupku dan mengenalkannya kedalam kehidupan kita. Karena memang belum saatnya.
Tapi maafkan aku, karena kini aku mulai mendambakan sosok laki-laki untuk berada dalam hidupku selain dirimu. Maaf kini aku mulai merindukan sosok laki-laki yang kan membimbingku, mengambil alih tanggung jawabmu selama puluhan tahun terakhir. Dan sungguh maaf, karena perlahan aku mulai berharap segera hadirnya ia yang Allah takdirkan mau mengemban amanah itu dan hidup bersamaku,
Tapi maafkan aku, karena kini aku mulai mendambakan sosok laki-laki untuk berada dalam hidupku selain dirimu. Maaf kini aku mulai merindukan sosok laki-laki yang kan membimbingku, mengambil alih tanggung jawabmu selama puluhan tahun terakhir. Dan sungguh maaf, karena perlahan aku mulai berharap segera hadirnya ia yang Allah takdirkan mau mengemban amanah itu dan hidup bersamaku,
Yah..
Aku ingin laki-laki itu adalah ia yang selalu berusaha keras untuk taat pada Allah sehingga Allah jua memudahkan ku untuk taat pula. Aku ingin bersamanya yang selalu berusaha keras dekat pada Allah sehingga ia memastikan aku tak jauh-jauh dari Allah.
Aku ingin bahagia bersama ia yang di sepertiga malam kudapati tengah bemesraan dengan Allah dalam shalat lailnya. Tentu aku juga disertakannya. Aku akan tentram dapat mendengar ia berkata lembut padaku meminta izin untuk berangkat shalat shubuh ke mesjid. Ia pun tak ragu melakukan panggilan shalat kepada sesamanya di masjid dekat tempat kami tinggal. Aku ingin lebih berbahagia lagi ketika ia mengajakku dan anak-anak kami kelak duduk berhadapan untuk saling memeriksa hafalan. Kemudian aku dan anak-anak kami akan duduk menyimak ia menceritakan shirah nabawiyah dalam banyak kesempatan.
Yah..
Doakan aku kelak bersama ia yang akan banyak-banyak mengajari putrimu. Mengajariku tentang Rabb-ku, bahasa Rabb-ku. Ridhai aku bersama ia yang kan menggenggam tanganku erat, mengajakku meraih ridha-nya Allah. Kami akan banyak belajar bersama memperjuangkan kebersamaan di Surga.
Yah maaf, aku mulai merindukan hadirnya.
Berbagi Bersama BLSC
![]() |
| (antusiasnya anak-anak saat mendengarkan dongeng kak Jiwo) |
13 Juni lalu, BLSC, singkatan dari Bukalapak Social Club, alhamdulillah Allah beri kesempatan untuk berbagi dengan adik-adik dari Panti Asuhan Muhammadiyah Siti Khadijah Al Kubra. Senang dan bersyukurnya kami atas kemudahan yang Allah berikan untuk sekedar melukiskan senyum di bibir anak-anak ini (*jadi adik apa anak, gak konsisten pemirsah XD) meski dengan persiapan yang super mepet. Kita baru merancang acara kira-kira 1-2 pekan sebelum hari H. Berbeda dengan acara tahun sebelumnya yang kami persiapkan jauh-jauh hari.
Saat aku baru tiba lokasi tiba-tiba ada perasaan tak asing dengan panti ini. Rumahnya, suasananya, kok berasa Dejavu ya. Ah ternyata benar saja, setelah diperhatikan dengan seksama ini teh panti yang pernah aku kunjungi di bulan Ramadhan saat masih tingkat 1 kuliah dulu. Kira-kira berarti 6 tahun lalu XD, wow udah lama juga ya. Kalau waktu itu aku yang masih kinyis-kinyis berperan sebagai anak 'acara'dan kakak pendamping di 'Bubertim : Buka Bersama Anak Yatim' HMD Matematika UI, tahun ini aku kebagian jadi penanggung jawab bagian konsumsi. Dari pemesanan sampai hari H, aku dibantu sama seorang temanku.
Bahagia itu sederhana. Sesederhana lihat tawa mereka. Adik-adik ketika kami kunjungi seharusnya sedang dalam acara lomba yang diadakan oleh kakak-kakak panitia bulan Ramadhan di panti ini. Dengan terpaksa, sang kakak tertua (Ketua Panitianya maksudnya) yang juga anggota dari panti ini mengumumkan bahwa lomba ditunda menjadi keesokan harinya saat ia memberikan sambutan diawal acara. Jleg.... ternyata mereka hari ini harusnya lomba dan si kakak menyampaikan permohonan maaf kepada adik-adik yang sudah membawa kelengkapan alat tulis selengkap-lengkapnya terkait diundurnya acara lomba :"D. Ini berarti acara kami harus sangat berkesan di hati adik-adik, supaya kekecewaan mereka tergantikan dengan kebahagian yang bisa kami berikan. Bismillah aja!
Semangat dan hangat. Antusias mereka terhadap isi acara kami sangat menenangkan hati kami. Sesi kuis yang banyak membagi-bagikan hadiah, sesi murajaah hapalan surat An Naba dari salah satu anak, sesi dongeng, sesi game, sesi doa Al Matsurat bersama, semuanya diikuti anak-anak ini dengan penuh keriangan. Kakak-kakak pendamping dari teman-teman BLSC pun tampak bahagia karena bisa akrab bercengkrama dengan adik-adiknya. Alhamdulillah kebanyakan dari mereka bisa menerima keberadaan kami dan juga mencoba akrab dengan kami sehingga acara berjalan dengan lancar sedari awal sampai ditutup oleh kehadiran Mas Zaky di tengah-tengah kami.
Kata-kata Mas Zaky ketika menyampaikan sepatah dua kata ke adik-adik, saat ada salah satu dari kami menyeletuk ajakan "belanja di bukalapak" adalah:
Jangan, jangan belanja. Gak usahlah kalau adik-adik buat sekolah aja, kalau buka bukalapak jadi yang jualannya. Kalau belanja habis duitnya, kalau jualan malah banyak duitnya (Kewl CEO!)
Sekian cerita singkat dari aku :).
![]() |
| (para panitia Berbuka dan Berbagi dengan Sesama) |
Belajar Mengajar Sirah
Biarlah Cahaya Sirah Memancar dalam Bilik-Bilik Rumah Kita
Demikianlah judul daurah (semacam forum intensif untuk mendalami suatu tema atau keterampilan/keahlian tertentu) sirah keluarga yang sempat saya ikuti di pertengahan bulan Ramadhan kali ini. Sebenarnya sesi yang saya ikuti ini sesi orangtua XD, tapi karena materi disampaikan oleh seorang ustadz yang saya suka gaya pembahasannya, saya dan teman saya (*fansnya ustadz hehe) memilih untuk tidak ketinggalan. Akhirnya kami mendaftar dan mempersiapkan diri untuk duduk manis menyimak ilmu selama kurang lebih 6 jam terjadwal.
Kita sebagai orangtua (*saya calon ya insyaaAllah :) ) memiliki tugas dalam berinteraksi dengan Sirah Nabawiyah, yaitu belajar untuk diri dan mengajarkan untuk anak. Kenapa kita harus belajar sirah? Pernyataan Ali dibawah ini akan mengawali penjelasan ustadz mengenai betapa pentingnya kita untuk mempelajari Sirah Nabawiyah.
Ali bin al Husain (w 94H) menyebutkan :
"Kami diajari maghazi Rasulullah Saw sebagaimana kami diajari surah dalam Al Qur'an"Generasi tabiin diajarkan Maghazi (lebih terkait peperangan) Rasulullah Saw oleh generasi sahabat sebagaimana mereka diajarkan surah dalam Al Qur'an. Al Qur'an sebagai pedoman hidup manusia kita ketahui jarang berbicara dengan sangat detil mengenai konsep-konsep hidup (kecuali soal waris yang memang dijabarkan cukup detail, misalnya). Shalat, ibadah kita yang begitu penting tidak dijabarkan dengan detail dalam Qur'an mengenai berapa jumlahnya. Al Qur'an mengajarkan kita dasar-dasar konsep kehidupan dari perintah Allah Swt namun bagaimana praktiknya akan kita dapat jika kita melihatnya pada praktik hidup Rasulullah Saw. Di sinilah sirah mengambil peran penting.
(Al jami'li akhlaq ar rawi wa adab as sami' karya Al khatib al baghdad 2/195) .
Sirah nabawiyah merupakan perjalanan hidup Nabi saw selama menjalankan tugas kerasulan yaitu menyampaikan dan mewujudkan risalah di tengah kehidupan manusia. Saat memahami sirah maka kita dapat mengkategorikannya dalam 3 cakupan masa :
1. Masa pra islam (jahiliyah),
2. Masa dakwah,
3. Masa khilafah nubuwah (khilafah rasyidah)
Dalam pengkategorian ini, misal memahami masa 1, maka penting bagi kita untuk mengetahui perbedaan masyarakat sebelum dan sesudah jahiliyah. Kita dapat melihat contoh yang mudah dari sosok Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu 'anhu. Perbedaan Umar sebelum dan sesudah masuk islam sangatlah signifikan. Ja'far bin abi thalib juga menyampaikan "Setelah kami keluar jahiliyah, setiap dari kami lebih rela dilemparkan ke kobaran api dibanding kami harus kembali lagi ke masa lalu kami".
Memahami sirah membantu kita dalam memahami islam sehingga kita pun juga memahami betapa berharganya keislaman yang kita miliki. Karena itu menjadi pr bagi orangtua jualah untuk mengajarkan Sirah Nabawiyah kepada anaknya sebagaimana pentingnya mengajarkan Al Quran.
Berikut kutipan yang ditampilkan oleh Ustadz dalam powerpointnya:
Ibn Hazm al Andalusi (w 456H) :
"Mendalami sirah Nabi Saw akan mendorong siapapun kepada keniscayaan mengakui kebenaran Nabi dan bersaksi bahwa beliau benar utusan Allah Swt. Seandainya Muhammad Saw tidak memiliki satupun mu'jizat selain sirahnya, maka itu sudah cukup.
Prof Dr Faruq Hamadah, Prof dibidang hadits :
"Sirah Nabawiyah adalah poros sekaligus esensi dalam setiap lembaran ilmu dan pengetahuan. Mengetahui sirah merupakan kebutuhan asasi bagi setiap muslim dlm segala situasi yang dihadapinya"
Materi Sirah Nabawiyah umumnya menceritakan ke-4 pembahasan berikut:
1. Syama'il ialah sirah yang menceritakan segala hal terkait pribadi Nabi Saw seperti fisik, penampilan, kebiasaan dll. Contoh : Banyaknya uban Nabi Saw ada 20, Nabi tidak gemuk tidak pula kerempeng, memiliki dada bidang dan perutnya rata. Bola mata bagian hitamnya sangat hitam.
Rasulullah sangat senang menamai benda-benda miliknya.
2. Maghazi ialah segala hal yang menceritakan terkait dengan kegiatan militer seperti perjalanan perang, petempuran, strategi dan taktik perang, media dan opini. Contoh : Terdapat 86 misi militer dari tahun ke-2 H sampai tahun wafat Rasulullah. Misi yang dipimpin Rasulullah langsung ada sebanyak 27 misi. Perang Badr terdapat 80 unta, perang Tabuk 30.000 tentara, 4.000 unta. Pada saat perang Tabuk Utsman bin Affan menginfakkan 700 unta.
3. Dala'il ialah mukjizat dan segala kejadian luar biasa yang membuktikan Rasulullah sebagai Nabi Saw dan utusan Allah Swt.
4. Khasha'ish ialah segala hal yang terkait dengan keistimewaan yang hanya berlaku bagi Nabi Saw dan tidak berlaku bagi umat. Contohnya : Jumlah istri Nabi
Selain 4 pembahasan di atas, menurut Ustadz materi Sirah masih bisa dikembangkan lagi karena Rasulullah Saw adalah pengejawantahan dan perwujudan nyata dari petunjuk Al Qur'an yang harus menjadi landasan hidup manusia hingga akhir zaman. Juga karena Rasulullah Saw adalah uswah (teladan) dalam segala bidang kehidupan. Salah satu yang harus dikembangkan dari Sirah Nabawiyah ialah aspek peradaban.
Aspek peradaban yang dimaksud mencakup:
1. Proses melahirkan masyarakat
2. Proses pendidikan dan perubahan
3. Membangun kekuatan ekonomi.
Rasulullah di Madinah 10 tahun dari tidak memiliki apa-apa sampai bisa memenuhi kebutuhan Madinah.
4. Manajemen Pemerintahan
Saat Umar mengangkat seorang gubernur. Dalam menyampaikan (*semacam) pidato pengangkatan disebutkan bahwa tugas pertama gubernur adalah sebagai guru, mengajarkan Al Qur'an kepada rakyatnya.
5. Pola Kaderisasi
6. Ketahanan keluarga dan sosial
Bagaimana mengajarkan sirah.
Sedikit ulasan singkat yang sempat saya rekam yaitu mengenai ustadz Asep yang sewaktu kecil setiap malam selalu diceritakan sirah oleh ayahnya. Mengajar sirah tidak sekedar menceritakan tapi orang tua mengusahakan agar mampu menerangkan hikmah dari cerita kepada anak, dikaitkan dengan kondisi terkini.
Hanya
Hanya saja...
Kita tahu, kita saling menuju.
Sesegera mungkin ingin menggunting jarak, meringkas waktu, menjalin temu.
Kita tahu, kita saling menuju.
Sesegera mungkin ingin menggunting jarak, meringkas waktu, menjalin temu.
Hanya saja..
Kita pun tahu, kita ini saling bisu.
Terlalu kelu memecah sunyi. Meredam riuh hati masing-masing.
Kita pun tahu, kita ini saling bisu.
Terlalu kelu memecah sunyi. Meredam riuh hati masing-masing.
Hanya saja..
Kita saling menunggu.
Semua gambar masa depan masih misteri. Kita mengurai asa sepatutnya.
Ingin kita tinggi tapi sadar kita dibatasi.
Kita saling menunggu.
Semua gambar masa depan masih misteri. Kita mengurai asa sepatutnya.
Ingin kita tinggi tapi sadar kita dibatasi.
Hanya saja...
Kita tahu, kita yang bodoh.
Allah yang Maha Tahu. Seperti apa kesudahan yang baik untuk diriku dan dirimu.
Kita tahu, kita yang bodoh.
Allah yang Maha Tahu. Seperti apa kesudahan yang baik untuk diriku dan dirimu.
Hanya saja..
Tunggu.
Tunggu.
Our time is limited
Pertanyaannya adalah ingin meninggalkan dunia ini dalam keadaan apa?. Dalam kondisi bagaimana?.
Misal kita menjawab ingin dijemput saat berada dalam kekhusyukan shalat. Maka yang perlu dicari berikutnya adalah jawaban dari pertanyaan: Bagaimana memperbesar probabilitas kita mati dalam keadaan shalat?. Bagaimana caranya bukankah dengan memperbanyak ibadah shalat itu sendiri?. Tidak hanya yang wajib, yang sunnah juga. Bisa?
Atau mau kematian menghampiri saat sedang shaum?. Maka yang harus dilakukan adalah memperbesar probabilitas kita mati dalam keadaan shaum. Caranya tentu saja dengan menjadikan diri pribadi yang rajin shaum sunnah selain shaum di waktu yang wajib saja. Karena wajibnya shaum hanya kita temui di Bulan Ramadhan.
Atau dalam keadaan baik lainnya?. Sama saja. Kuncinya ialah memperbanyak waktu yang dialokasikan untuk kebaikan sehingga memperbesar kemungkinan Allah memanggil kita dalam keadaan husnul khotimah.
Atau dalam keadaan baik lainnya?. Sama saja. Kuncinya ialah memperbanyak waktu yang dialokasikan untuk kebaikan sehingga memperbesar kemungkinan Allah memanggil kita dalam keadaan husnul khotimah.
Lalu bagaimana jika 24 sehari kali 7 dalam seminggu yang kita lakukan kebanyakan adalah hal tak bermanfaat, sia-sia atau bahkan kemaksiatan yang mengundang murka Allah?. Bagaimanakah probabilitas kita menemui kondisi terbaik saat kematian menjemput kita sedangkan waktu tersia-siakan bahkan bernilai dosa?
Hai diri, wallahu a'lam, hanya Allah yang mengetahui realisasinya. Maka kita jangan pernah berhenti meminta kepadaNya untuk memutus hubungan kita ke dunia saat berada dalam posisi terdekat ke akhirat, saat dalam kondisi terbaik iman kita. Jangan letih mengulang-ngulag permintaan.
Mudah taubat, mendapat rahmat ketika maut datang dan mendapat magfirah setelah maut menghampiri diri. Bismillah ya Rabb.
Sudah dalam PerhitunganNya
Tetes hujan jatuh bertemu secara romantis dengan bulir tetesan lain dari mataku. Menyatu berpindah bersama membentuk suatu lintasan. Agak basah. Beruntungnya sekeliling hanya akan mengenalinya lintasan itu sebagai sebab dari tetesan hujan. Ah tapi kan lintasan ini pun akan segera menghilang sebelum sekeliling ada yang memperhatikan. Memangnya ada yang berkelebihan waktu untuk memperhatikan lintasan basah pada wajah orang lain saat rinai hujan yang turun pun terancam membuatnya kuyup?. Rasanya tidak :).
Pertemuan dua tetesan itu sudah dalam perhitunganNya. Bagaimana jika aku memakai payung, kedua tetesan itu tak mungkin bertemu. Bagaimana jika aku berjalan dengan menundukkan wajah, tetes hujan hanyak akan menumbuk kepalaku. Atau, atau aku pulang lebih awal sehingga aku tidak terjebak hujan di jalanan. Ah atau saja langkah kaki ku lebih cepat sekian m/j sehingga aku tidak bertemu hujan :)?. Atau juga, kalau aku tidak menitikkan suatu tetesan air, pertemuan keduanya takkan terjadi.
Namun dalam perhitunganNya itulah, kedua tetes itu bertemu. Pertemuannya membangkitkan ingatan bahwa kamu adalah keberkahan, kamu adalah kenikmatan dariNya. Hujan, let's meet again :).
اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا
Ya Allah, jadikan hujan ini hujan yang membawa manfaat, kebaikan (HR. Al-Bukhari).
Menggenggam Hidayah - Part 1
Masa Kecil
Sejak kecil aku merasa akulah yang paling dekat dengan adik bungsu ku yang paling kecil dibanding adikku perempuan yang merupakan anak kedua di keluarga kami. Meski awalnya aku sangat baper dan sedikit ada penolakan saat aku diberi tahu orang-orang bahwa aku akan 'baradiak' baru, pada kenyataanya setelah ia lahir ke dunia aku paling sibuk menempelnya.
Tahun demi tahun dengan bahagia (*cieeee) aku membersamai tumbuh kembangnya terlebih ketika aku berada di usia-usia emasku, usia hijrah dari kegelapan ke kehidupan terang benderang (read : SMP-SMA). Dia senang sekali menyimakku bercerita tentang islam, shalat, al-quran, hari akhir dan lain sebagainya. Apabila ada video yang bagus aku akan menontonnya di komputer dalam kamar, maka ia pun masuk ke kamar dan ikut serta duduk disampingku untuk menonton sambil melontarkan pertanyaan-pertanyaan. Kemudian aku akan mulai menyelipkan sedikit demi sedikit pesan moral untuknya. Aku mengambil peran ini secara tidak disengaja karena pada saat itu ayah memang terlalu sibuk (*menyibukkan diri(?)) sehingga jarang menyempatkan diri untuk menanamkan nilai-nilai islam kepada adikku.
Tapi bukan tanpa ujian, keharmonisan hubungan kami sebagai kakak beradik pun mulai terguncang (wkwk ini lebai sih) saat dia mulai beranjak usia (*seingatku sejak kelas 5 sd). Namanya anak laki-laki maka dia pun ada masa menjadi sangat jahil, pengganggu dan tidak bisa dinasihati dalam kebaikan, misalnya shalat. Aku pun akhirnya tiba dititik merasa 'empet' banget punya adik laki-laki. Malah berharap "kenapa aku gak punya abang ajaaa :"(, aku lebih butuh abang, bang" #lol. Intinya aku sedih karena satu sosok laki-laki dirumah yang saat itu dekat denganku, juga menjauh dariku.
Sampai ia duduk di bangku SMP dan aku kuliah, hubungan kami terasa kian jauh. Aku lebih banyak mengomelinya, ketika membangunkan dan mengingatkannya shalat, ketika mengajarkan pelajaran sekolah, ketika menyuruhnya untuk membantu mama lebih sering berujung pada omelan dan pertengkaran (*dan lebih seringnya jadi malah mau nangis akunya). Iya mungkin saat itu aku pun sesosok kakak yang gak sabaran, sesosok kakak yang bawelin adiknya terus. Tapi dia nakal sih :"(. Dia pun kerap mengulang-ngulang hal yang sangat tidak aku suka. Misal saja saat aku sedang belajar, (*aku dirumah seringan belajar :"D #riya #astagfirullah #hehecanda), lalu dia akan membuat suara dengan lidah berdecak-decak, aku sangat terganggu, geli dan tidak suka, saat dia tau itu, maka ia akan mengulangnya terus menerus untuk membuatku kesal dan sampai menangis menahan marah (*fyi, ini sesekali masih dia lakukan sampai saat ini :'D. Sumprit emang. Tapi aku udah tahan dan pasang muka cuek kalau dia lagi gitu, pokoknya menahan diri untuk tidak menampakkan ketidaksukaan).
Kalau dia lagi kebanyakan leyeh dirumah-rumah atau malah kerjaannya ngeberantakin rumah, atau lagi masuk ke kamar aku dan jailin aku, aku akan mengusirnya dari kamar :" sambil mengadu ke mama atau ayah. Dan dia keseringan melebih-lebihkan perangai jahilnya kalau aku teriak mengadu, sehingga terjadilah perang dunia di dunia dua kakakberadik ini. Ayah pun memarahi dengan suara menggelegarnya. Kemudian aku menyesal, aku sadar aku pulalah yang akan berkecil hati bila ada selainku yang memarahi adikku ini, baik itu mama, ayah, atau adikku kedua. Dan ini berulang terus menerus.
Dia Berubah!
Adikku tengah memasuki masa SMA dan Allah menurunkan berbagai ujiannya kepada kami kala itu. Ayah stroke cukup parah, ia kehilangan beberapa kemampuan beraktifitas dari anggota tubuhnya sebelah kiri yang membuat sikapnya pun berubah menjadi mudah marah, sensitif, sangat perasa dan emosional, mama terpaksa berhenti menjalani usahanya yang sedang 'naik-naiknya' dan sedang ia senangi, aku terpaksa menunda targetku satu semester. Maka perubahan sikap adikku melengkapi lezatnya ujian kala itu :'D. Ketika ayah dirumah sakit sedang menghadapi kondisi kritisnya, aku melihat adikku menitikkan air mata saat menjenguknya. Ya, dia hanya sesekali berkunjung ke rumah sakit karena sekolah. Selepas ayah melewati masa-masa kritisnya, sejak saat itu aku melihat adikku semakin sulit diatur, diajak bicara, bahkan cenderung menarik diri. Aktifitasnya sehari-hari hanya sekolah kemudian asik mengurung diri ke kamar. Bila diajak bicara hanya akan membuat kesal menghadapi keketusannya dan ia hanya akan mengajak bicara jikalau ada keperluan.
Dua tahun berlalu, saat ayah perlahan mulai pulih, mulai sedikit menerima kondisinya, dan perlahan kembali 'normal', aku dan orangtua sepakat menghadapi adikku dengan kelembutan karena adikku yang masih menyebalkan ini. Aku tidak cukup banyak interaksi dengannya, tapi setiap ada kesempatan aku berusaha membantu kesulitannya dan aku berusaha tidak lagi memintanya melakukan sesuatu untuk membantu (*like nyuruh-nyuruh).
Sejak aku mulai bisa berkendara motor, aku memutuskan untuk mengantarkannya ke sekolah. Memang sejak saat itu selalu ada drama pagi diantara kami. Aku yang diburu waktu untuk bersiap ke kantor pun akan menceramahinya apabila ia lama mempersiapkan diri untuk berangkat ke sekolah. Begitupun juga ia sebaliknya terhadap diriku. Tapi pertengkaran diantara kami mulai berkurang karena ia mulai banyak kebutuhan terhadapku (*bayarin les, beliin tab, anterin sekolah, ngajarin matematika dan ipa, suka jajanin dan banyak lagi).
.
.
.
.
.
(bersambung)
Sejak kecil aku merasa akulah yang paling dekat dengan adik bungsu ku yang paling kecil dibanding adikku perempuan yang merupakan anak kedua di keluarga kami. Meski awalnya aku sangat baper dan sedikit ada penolakan saat aku diberi tahu orang-orang bahwa aku akan 'baradiak' baru, pada kenyataanya setelah ia lahir ke dunia aku paling sibuk menempelnya.
Tahun demi tahun dengan bahagia (*cieeee) aku membersamai tumbuh kembangnya terlebih ketika aku berada di usia-usia emasku, usia hijrah dari kegelapan ke kehidupan terang benderang (read : SMP-SMA). Dia senang sekali menyimakku bercerita tentang islam, shalat, al-quran, hari akhir dan lain sebagainya. Apabila ada video yang bagus aku akan menontonnya di komputer dalam kamar, maka ia pun masuk ke kamar dan ikut serta duduk disampingku untuk menonton sambil melontarkan pertanyaan-pertanyaan. Kemudian aku akan mulai menyelipkan sedikit demi sedikit pesan moral untuknya. Aku mengambil peran ini secara tidak disengaja karena pada saat itu ayah memang terlalu sibuk (*menyibukkan diri(?)) sehingga jarang menyempatkan diri untuk menanamkan nilai-nilai islam kepada adikku.
Tapi bukan tanpa ujian, keharmonisan hubungan kami sebagai kakak beradik pun mulai terguncang (wkwk ini lebai sih) saat dia mulai beranjak usia (*seingatku sejak kelas 5 sd). Namanya anak laki-laki maka dia pun ada masa menjadi sangat jahil, pengganggu dan tidak bisa dinasihati dalam kebaikan, misalnya shalat. Aku pun akhirnya tiba dititik merasa 'empet' banget punya adik laki-laki. Malah berharap "kenapa aku gak punya abang ajaaa :"(, aku lebih butuh abang, bang" #lol. Intinya aku sedih karena satu sosok laki-laki dirumah yang saat itu dekat denganku, juga menjauh dariku.
Sampai ia duduk di bangku SMP dan aku kuliah, hubungan kami terasa kian jauh. Aku lebih banyak mengomelinya, ketika membangunkan dan mengingatkannya shalat, ketika mengajarkan pelajaran sekolah, ketika menyuruhnya untuk membantu mama lebih sering berujung pada omelan dan pertengkaran (*dan lebih seringnya jadi malah mau nangis akunya). Iya mungkin saat itu aku pun sesosok kakak yang gak sabaran, sesosok kakak yang bawelin adiknya terus. Tapi dia nakal sih :"(. Dia pun kerap mengulang-ngulang hal yang sangat tidak aku suka. Misal saja saat aku sedang belajar, (*aku dirumah seringan belajar :"D #riya #astagfirullah #hehecanda), lalu dia akan membuat suara dengan lidah berdecak-decak, aku sangat terganggu, geli dan tidak suka, saat dia tau itu, maka ia akan mengulangnya terus menerus untuk membuatku kesal dan sampai menangis menahan marah (*fyi, ini sesekali masih dia lakukan sampai saat ini :'D. Sumprit emang. Tapi aku udah tahan dan pasang muka cuek kalau dia lagi gitu, pokoknya menahan diri untuk tidak menampakkan ketidaksukaan).
Kalau dia lagi kebanyakan leyeh dirumah-rumah atau malah kerjaannya ngeberantakin rumah, atau lagi masuk ke kamar aku dan jailin aku, aku akan mengusirnya dari kamar :" sambil mengadu ke mama atau ayah. Dan dia keseringan melebih-lebihkan perangai jahilnya kalau aku teriak mengadu, sehingga terjadilah perang dunia di dunia dua kakakberadik ini. Ayah pun memarahi dengan suara menggelegarnya. Kemudian aku menyesal, aku sadar aku pulalah yang akan berkecil hati bila ada selainku yang memarahi adikku ini, baik itu mama, ayah, atau adikku kedua. Dan ini berulang terus menerus.
Dia Berubah!
Adikku tengah memasuki masa SMA dan Allah menurunkan berbagai ujiannya kepada kami kala itu. Ayah stroke cukup parah, ia kehilangan beberapa kemampuan beraktifitas dari anggota tubuhnya sebelah kiri yang membuat sikapnya pun berubah menjadi mudah marah, sensitif, sangat perasa dan emosional, mama terpaksa berhenti menjalani usahanya yang sedang 'naik-naiknya' dan sedang ia senangi, aku terpaksa menunda targetku satu semester. Maka perubahan sikap adikku melengkapi lezatnya ujian kala itu :'D. Ketika ayah dirumah sakit sedang menghadapi kondisi kritisnya, aku melihat adikku menitikkan air mata saat menjenguknya. Ya, dia hanya sesekali berkunjung ke rumah sakit karena sekolah. Selepas ayah melewati masa-masa kritisnya, sejak saat itu aku melihat adikku semakin sulit diatur, diajak bicara, bahkan cenderung menarik diri. Aktifitasnya sehari-hari hanya sekolah kemudian asik mengurung diri ke kamar. Bila diajak bicara hanya akan membuat kesal menghadapi keketusannya dan ia hanya akan mengajak bicara jikalau ada keperluan.
Dua tahun berlalu, saat ayah perlahan mulai pulih, mulai sedikit menerima kondisinya, dan perlahan kembali 'normal', aku dan orangtua sepakat menghadapi adikku dengan kelembutan karena adikku yang masih menyebalkan ini. Aku tidak cukup banyak interaksi dengannya, tapi setiap ada kesempatan aku berusaha membantu kesulitannya dan aku berusaha tidak lagi memintanya melakukan sesuatu untuk membantu (*like nyuruh-nyuruh).
Sejak aku mulai bisa berkendara motor, aku memutuskan untuk mengantarkannya ke sekolah. Memang sejak saat itu selalu ada drama pagi diantara kami. Aku yang diburu waktu untuk bersiap ke kantor pun akan menceramahinya apabila ia lama mempersiapkan diri untuk berangkat ke sekolah. Begitupun juga ia sebaliknya terhadap diriku. Tapi pertengkaran diantara kami mulai berkurang karena ia mulai banyak kebutuhan terhadapku (*bayarin les, beliin tab, anterin sekolah, ngajarin matematika dan ipa, suka jajanin dan banyak lagi).
.
.
.
.
.
(bersambung)













