Masa Kecil
Sejak kecil aku merasa akulah yang paling dekat dengan adik bungsu ku yang paling kecil dibanding adikku perempuan yang merupakan anak kedua di keluarga kami. Meski awalnya aku sangat baper dan sedikit ada penolakan saat aku diberi tahu orang-orang bahwa aku akan 'baradiak' baru, pada kenyataanya setelah ia lahir ke dunia aku paling sibuk menempelnya.
Tahun demi tahun dengan bahagia (*cieeee) aku membersamai tumbuh kembangnya terlebih ketika aku berada di usia-usia emasku, usia hijrah dari kegelapan ke kehidupan terang benderang (read : SMP-SMA). Dia senang sekali menyimakku bercerita tentang islam, shalat, al-quran, hari akhir dan lain sebagainya. Apabila ada video yang bagus aku akan menontonnya di komputer dalam kamar, maka ia pun masuk ke kamar dan ikut serta duduk disampingku untuk menonton sambil melontarkan pertanyaan-pertanyaan. Kemudian aku akan mulai menyelipkan sedikit demi sedikit pesan moral untuknya. Aku mengambil peran ini secara tidak disengaja karena pada saat itu ayah memang terlalu sibuk (*menyibukkan diri(?)) sehingga jarang menyempatkan diri untuk menanamkan nilai-nilai islam kepada adikku.
Tapi bukan tanpa ujian, keharmonisan hubungan kami sebagai kakak beradik pun mulai terguncang (wkwk ini lebai sih) saat dia mulai beranjak usia (*seingatku sejak kelas 5 sd). Namanya anak laki-laki maka dia pun ada masa menjadi sangat jahil, pengganggu dan tidak bisa dinasihati dalam kebaikan, misalnya shalat. Aku pun akhirnya tiba dititik merasa 'empet' banget punya adik laki-laki. Malah berharap "kenapa aku gak punya abang ajaaa :"(, aku lebih butuh abang, bang" #lol. Intinya aku sedih karena satu sosok laki-laki dirumah yang saat itu dekat denganku, juga menjauh dariku.
Sampai ia duduk di bangku SMP dan aku kuliah, hubungan kami terasa kian jauh. Aku lebih banyak mengomelinya, ketika membangunkan dan mengingatkannya shalat, ketika mengajarkan pelajaran sekolah, ketika menyuruhnya untuk membantu mama lebih sering berujung pada omelan dan pertengkaran (*dan lebih seringnya jadi malah mau nangis akunya). Iya mungkin saat itu aku pun sesosok kakak yang gak sabaran, sesosok kakak yang bawelin adiknya terus. Tapi dia nakal sih :"(. Dia pun kerap mengulang-ngulang hal yang sangat tidak aku suka. Misal saja saat aku sedang belajar, (*aku dirumah seringan belajar :"D #riya #astagfirullah #hehecanda), lalu dia akan membuat suara dengan lidah berdecak-decak, aku sangat terganggu, geli dan tidak suka, saat dia tau itu, maka ia akan mengulangnya terus menerus untuk membuatku kesal dan sampai menangis menahan marah (*fyi, ini sesekali masih dia lakukan sampai saat ini :'D. Sumprit emang. Tapi aku udah tahan dan pasang muka cuek kalau dia lagi gitu, pokoknya menahan diri untuk tidak menampakkan ketidaksukaan).
Kalau dia lagi kebanyakan leyeh dirumah-rumah atau malah kerjaannya ngeberantakin rumah, atau lagi masuk ke kamar aku dan jailin aku, aku akan mengusirnya dari kamar :" sambil mengadu ke mama atau ayah. Dan dia keseringan melebih-lebihkan perangai jahilnya kalau aku teriak mengadu, sehingga terjadilah perang dunia di dunia dua kakakberadik ini. Ayah pun memarahi dengan suara menggelegarnya. Kemudian aku menyesal, aku sadar aku pulalah yang akan berkecil hati bila ada selainku yang memarahi adikku ini, baik itu mama, ayah, atau adikku kedua. Dan ini berulang terus menerus.
Dia Berubah!
Adikku tengah memasuki masa SMA dan Allah menurunkan berbagai ujiannya kepada kami kala itu. Ayah stroke cukup parah, ia kehilangan beberapa kemampuan beraktifitas dari anggota tubuhnya sebelah kiri yang membuat sikapnya pun berubah menjadi mudah marah, sensitif, sangat perasa dan emosional, mama terpaksa berhenti menjalani usahanya yang sedang 'naik-naiknya' dan sedang ia senangi, aku terpaksa menunda targetku satu semester. Maka perubahan sikap adikku melengkapi lezatnya ujian kala itu :'D. Ketika ayah dirumah sakit sedang menghadapi kondisi kritisnya, aku melihat adikku menitikkan air mata saat menjenguknya. Ya, dia hanya sesekali berkunjung ke rumah sakit karena sekolah. Selepas ayah melewati masa-masa kritisnya, sejak saat itu aku melihat adikku semakin sulit diatur, diajak bicara, bahkan cenderung menarik diri. Aktifitasnya sehari-hari hanya sekolah kemudian asik mengurung diri ke kamar. Bila diajak bicara hanya akan membuat kesal menghadapi keketusannya dan ia hanya akan mengajak bicara jikalau ada keperluan.
Dua tahun berlalu, saat ayah perlahan mulai pulih, mulai sedikit menerima kondisinya, dan perlahan kembali 'normal', aku dan orangtua sepakat menghadapi adikku dengan kelembutan karena adikku yang masih menyebalkan ini. Aku tidak cukup banyak interaksi dengannya, tapi setiap ada kesempatan aku berusaha membantu kesulitannya dan aku berusaha tidak lagi memintanya melakukan sesuatu untuk membantu (*like nyuruh-nyuruh).
Sejak aku mulai bisa berkendara motor, aku memutuskan untuk mengantarkannya ke sekolah. Memang sejak saat itu selalu ada drama pagi diantara kami. Aku yang diburu waktu untuk bersiap ke kantor pun akan menceramahinya apabila ia lama mempersiapkan diri untuk berangkat ke sekolah. Begitupun juga ia sebaliknya terhadap diriku. Tapi pertengkaran diantara kami mulai berkurang karena ia mulai banyak kebutuhan terhadapku (*bayarin les, beliin tab, anterin sekolah, ngajarin matematika dan ipa, suka jajanin dan banyak lagi).
.
.
.
.
.
(bersambung)