Ar-Rahman : 13 So which of the favors of your Lord would you deny?

Sebab Rencana Allah Terlalu Sempurna Untuk Gagal

Di beberapa fase-fase penting hidup Lina, seperti lulus SMA ke kuliah, lulus kuliah ke kerja atau yang di-breakdown lagi, Lina juga ngalamin yang namanya kegagalan *setiap manusia ada ngalamin kali Lin. Bicara tentang pasca berhadapan dengan kegagalan, yang Lina alami pun bermacam-macam, bisa beneran gagal achieve yang diusahakan kemudian diusahakan lagi dan Allah kasih, atau yang gagal proses sehingga Lina belajar dan berubah kemudian dapat ganti alur cerita yang lebih baik dari Allah.

Contoh kasusnya sih yang gagal maju sidang skripsi karena, ya karena belum siap hehe. Ini emang salah satu episode ter-drama dalam hidup Lina. Belum siapnya itu karena beberapa hal, salah satunya ayah Lina masuk rumah sakit dan dirawat cukup lama sehingga Lina banyak absen hadir bimbingan dan skripsian Lina progresnya seuprit-uprit banget. Padahal tanggal maju sidang udah dekat tapi codingan Lina belum beres. Berat banget rasanya waktu itu mau hubungin bapak pembimbing kalau Lina terpaksa mundur padahal Lina udah pegang tanda tangan beliau di surat izin maju sidang. Qodarullah diundur juga. Kecewa sama diri sendiri, orang tua juga mungkin kecewa sama Lina. Tapi ya mau gimana. Berdoa dan berusaha lagi yang bisa Lina lakukan.

Berkat kegagalan itu, masyaAllah, kalau Lina paksa maju bakal kecil kemungkinan Lina dapat nilai A di sidang Lina. Akhirnya sidang Lina dapat A, IPK final Lina jadi sesuai harapan Lina. Jadi berapa? diatas 3 pokoknya hehehehe. Kalau Lina paksa waktu itu sidang udah pasti IPK Lina gak sesuai harapan Lina. Masa iya sih, harapan jadi mapres gagal *emot kucing lucu nutup muka, harapan lulus 3,5 tahun gagal, harapan jadi mahasiswa predikat lulusan terbaik gagal. Ya minimal IPK harapan Lina, Lina raih deh XD.

Iya, Lina selalu berupaya set goal ketika Lina lagi jalanin proses tertentu. Ambisius gak sih?, enggak juga, Lina bukan orang yang ambisius juga sih wkwk. Kalau memang udah gak bisa diusahakan kalau ada pilihan berhenti ya berhenti biar Lina pakai waktunya buat mengusahakan yang lain. Tapi berhubung jadi mahasiswa itu gak selamanya, mesti hengkang dari kampus ya mau gak mau kelulusan itu adalah hal yang harus Lina ikhtiarkan. Selalu Lina ingat bahwa hidup itu betul-betul harus punya tujuan. Itu salah satu contoh kasus gagal yang diusahain lagi kemudian Allah kasih yang terbaik di waktu terbaikNya.

Nah tahun 2017 ini, fase apa ya?, udah kerja ceritanya, udah mandiri secara finansial, lalu apa sih yang Lina lagi usahakan?. Jawabannya banyak, masih banyak hehe. Tapi ada satu hal yang juga Lina ikhtiarkan di usia menuju quarter life, pasti pada tau deh apa wkwk. Apalagi sih yakan selain berusaha menemukan pasangan halalnya :3. Biar genap gitu. Iya, ini salah satu yang Lina ikhtiarkan, bukan maksud nyombong gimana, tapi Lina baru mulai ikhtiar dari akhir tahun 2015 *baru kok qwqwq. Dikit-dikit nyicil, mulai dari ilmunya dulu, ikut seminar, baca buku. Persiapan ruhiyah dan mental juga nyicil. Pertengahan 2016 mulai dikit-dikit sosialisasi ke orang tua, pencitraan dulu biar keliatanlah sama orang tua oh ini anak udah waktunya nih. Bener aja, selepas kelar Ramadhan 2016 tiap berangkat kerja kalau lagi saliman udah dapet doa, didoainnya semoga berjodoh sama yang direktur, macam ceo gitu *eh *waduh nanti susah gak nih mah nemunya *tapi mah bisa aja ya. Tenang, itu cuma selipan, doa yang UTAMAnya sih yang Sholeh.

Oke udah 2017 pertengahan. Udah ikhtiar ni tapi ternyata emang Allah belum izinin tuuuu. Eh bukan izin doang deng, tapi ridha. Lina lebih berharap keridhaan Allah dibanding cuma diizinin. Diizinin tuh kayak 'nih tuh kasih deh kasih'. Jadi Lina belum dapat ridha-nya Allah sampai sekarang. Kira-kira sampai kapan? ya allahu 'alam, who knows. Allah doang yang tahu, Linanya cuma bisa upaya. Btw kita kan dari awal lagi bahas kasus gagal, ini gagalnya dimana?. Ada, ada bagian gagalnya disalah satu tahap yang bikin Lina sampai nulis disini ehehe. Yang detailnya gak bakal Lina share kali ini. Kapan-kapan ya.

Berhadapan sama kegagalan lagi di fase penting?. Ya gapapa. Kan Lina udah biasa tuh berhadapan terlebih dahulu sama kegagalan di fase-fase penting hidup Lina. Lina cuman harus merengek lebih kuat sama Allah :*. Lina yakin doa sama Allah gak bakal kecewa. Lina emang belum pantas untuk mendapat yang Lina harapkan saat ini, dan memang Allah punya rencana lebih indah. Jadi rencana Lina yang gagal itu gapapa *untuk saat ini ya, karena rencana Allah pasti lebih baik dan rencana-Nya Allah terlalu sempurna untuk gagal. Sekarang lanjutin menata diri dan bersiap menghadapi kemudahan dari Allah. Iya dong :) kan dalam kesulitan ada kemudahan.


Lina,
yang masih menata diri, menata hati XD

Ibu

Untuk seorang Ibu yang kupanggil Ibu. Pertemuan singkat kita meninggalkan kesan di hatiku. Meski singkat namun Allah menampakkan kepadaku sebuah ketulusan dalam matamu, senyummu. Engkau pasti wanita yang disayang Allah.

Sejak itu, Allah memudahkan saja bagiku memasukkan namamu dalam doa-doa hariku. Maaf bila tanpa izin, tapi tak ada salahnya kan menyebutmu dalam doa?. Semoga kau selalu dalam lindungan Allah. Semoga kau selalu sehat. Semoga kelak kita bisa berjumpa lagi. Semoga aku bisa mengunjungimu lagi seperti yang kau ucapkan kepadaku untuk kembali datang.

Tapi Ibu, hari ini aku secara tak langsung mengambil keputusan yang mungkin kan menutup kemungkinan itu di kemudian hari. Aku yakin engkau pasti selalu berdoa yang terbaik, maka harusnya yang saat ini terjadi juga adalah jawaban terbaiknya Allah. Semoga Ibu sehat ya. Semoga kelak jika Allah mempertemukan lagi kita secara tidak sengaja kita dapat saling bertegur sapa :').

Salam,

Anak perempuan yang tidak tahu bagaimana cara menyampaikan ini secara langsung.

Sungguh Allah Maha Penyayang Kepadamu

Sebakda waktu Ashar, penghujung bulan Ramadhan, aku melihat tulisan dalam mushafku berbunyi:

"Sungguh Allah maha Penyayang kepadamu" (An-Nisa' : 29)
Seketika otakku memutar rekaman-rekaman peristiwa yang aku alami sejak satu tahun kebelakang. Memang beberapa hal terasa sulit, tapi kemudahan yang Allah beri melampauinya. Aku merasa sesak mengingat betapa nikmat Allah yang begitu banyak tak ku kejar dengan banyaknya syukur yang terpanjatkan. Allahu Rabbi Ya Kariim. Maafkan aku.

Sungguh Allah maha Penyayang kepada hamba-Nya. Yang ku baca berulang-ulang dalam hati seperti "sungguh Allah menyayangimu, Lina". Menentramkan hati dengan mengingat bahwa satu-satunya dengan kasih sayang tak terbatas hanyalah Engkau ya Rabb. "Sungguh Allah maha penyayang kepadamu", membaca ayat ini pula harusnya membangkitkan optimisme ku untuk menjalani apa-apa yang ku hadapi dalam hidup. Sebab Engkau maha Penyayang maka setiap ketetapan-Mu pastilah baik.

Karena Engkau maha penyayang dan segala ketetapan-Mu baik maka maafkan diri ini yang telah terburu-buru menggerutui ketetapan. Padahal dengan bersabar, Engkau akan mudahkan diri ini memungut hikmah terserak dari setiap kejadian. Yaa Kariim.. maafkan aku yang bodoh dan tak tahu apa-apa ini karena menggerutui kesulitan. Maafkan aku terkadang lupa bahwa bersamaan dengan kesulitan Engkau menjanjikan kemudahan.

Dari Ramadhan ke Ramadhan, semoga hidayah-Mu mampu ku tangkap, mencahayai hatiku, hambaMu yang lemah lagi tempatnya lupa.

Hiatus Instagram

Kali ini mau sedikit cerita aja tentang akun Instagram (IG). Kenapa ngomongin akun IG?.Karena akhir-akhir ini beberapa orang nanyain akun IG saya yang raib dari dunia per-IGan. Gak penting emang hehehehehe tapi kalau iseng mau baca tulisan ini, sila aja.

Buat yang nyariin, pasti munculnya gini deh huehehe:p

Ceritanya saya baru bikin IG itu kalau gak salah di awal tahun 2015. Saya baru bikin akun di saat hampir semua teman angkatan udah saling follow-memfollow dan punya ratusan postingan. Mungkin karena saya bukan tipikal yang kalau belum tau buat apanya terus mau ikut-ikutan pakai. Nah karena merasa belum paham untuk apa dan karena masih ada akun socmed lainnya yang masih aktif dikunjungi, saya sama sekali gak tertarik bikin akun sosial media tambahan seperti IG.

Waktu berlalu, akhirnya isenglah saya buat akun IG. Kalau gak salah posting perdananya adalah meja belajar saya. Kenapa meja belajar?, karena saat itu saya tengah berjuang menyelesaikan s*k*r*i*p*s*i :p. Waktu bikin akun itu pun gak niat follow-followin orang. Jadi selama berbulan-bulan itu akun isinya cuman gitu aja udah haha. Sampai suatu ketika di perpusat matek, Yiyi, teman saya liatin akun IGnya, terus saya lihat-lihat tuh isi timeline IGnya. Wah ternyata banyak teman-teman, senior dan postingan lainnya yang kece ya. Mulai deh tuh saya follow beberapa tokoh-tokoh seperti Asma Nadia, ketua BEM UI, Ustadz Salim, Aa gym, dan banyak lainnya ditambah beberapa orang terdekat saya yang sekiranya kalau saya follow saya dapet update-an bermanfaat gituuuuu xD. 

Da saya mah apa, bukan yang suka foto-foto bagus gitu, bukan juga yang suka share foto, tapi akhirnya beberapa postingan pun muncul juga di IG saya, kayak foto buku, foto saya sama buku yang dikasih sama atasan saya waktu di himpunan, foto tulisan yang ada di buku dan foto buku lagi #lahbukusemua hehe (Di kemudian hari foto-foto ini sama foto meja belajar saya itu udah saya hapus dari IG saya).

Mulai deh ketika aktivitas saya bekerja di tempat kerja pertama, saya follow rekan kerja saya yang aktif juga di dunia per-IG-an. Dari saat itu saya mulai ikutan aktif posting, posting foto bareng-bareng rekan kerja, foto lagi jalan bareng keluarga Cemara (ini panggilan buat genk di gang perbatasan PUMD sama PDRF, isinya Abah, Euis, Ara, Agil). Saya pun mulai berubah dari user pasif jadi user lumayan aktif #lol. Makin-makin suka posting itu pas udah pindah ke tempat kerja yang sekarang. Satu orang teman kantor follow saya dan mulailah yang lain ikutan follow. Dari situ saya mulai atur privasi akun saya.

Ketika IG rilis fitur barunya yakni insta stories, ternyata inilah awalnya yang bikin saya seperti tidak bisa lepas dari IG. Karena kalau upload foto butuh effort mikirin captionnya #eh nah kalau insta stories saya bisa bebas banget cerita singkat, share apapun, yang insyaAllah baik sampe yang tidak penting. Bukannya gak baik, hanya saja emang gak penting :"D. Sejak itu saya mulai keranjingan buat story (dibanding nontonin stories orang ya, saya gak terlalu hobi) walaupun gak sampai kayak selebritis kita yang insta storiesnya udah jadi titik-titik saking terlalu banyak postingannya. Hingga suatu ketika saya merasa harus challenge diri saya untuk mengatasi kegemaran yang khawatirnya mulai akut dan berlebihan. Ingat sesuatu yang berlebihan itu tidak baik hehehe. Saya mulai merasakan waktu yang kepakai buat aktivitas ini kok mulai makan banyak ya. Akhirnya saya memutuskan hiatus. Saya deactive sementara akun IG saya.

Menonaktifkan akun IG ini pada awalnya hanya saya tekadkan selama satu bulan. Tapi ternyata saya merasakan banyak manfaaatnya buat diri saya. Manfaat paling utamanya adalah berkurangnya waktu luang yang sangat berpotensi tidak produktif. Waktu sekitar beberapa menit yang selama ini teralokasikan buat bikin story dan beberapa puluh menit untuk sekedar jelajah informasi di IG (yang belum tentu penting semua) jadi dapat digunakan untuk menyelesaikan targetan baca buku lebih cepat atau minimal gak telat seperti sebelum saya memiliki akun IG.

Tanpa sadar saya pun menikmati masa-masa hiatus selama hampir 2 bulan ini yang artinya saya sudah mencapai lebih dari apa yang saya targetkan di awal. Alhamdulillah. Hikmah yang saya dapat dari semua ini ternyata benar ya bahwa waktu manusia hidup di dunia ini itu hanya kan terpakai untuk dua hal; hal yang bermanfaat atau sia-sia. Ketika saya bertekad menghindari waktu terpakai untuk hal sia-sia, Allah memberikan pertolonganNya.

Mungkin sederhana bagi kebanyakan orang tapi saya tidak bisa memudah-mudahkan diri saya. Saya memang harus menantang diri saya. Berapa banyak lagi waktu yang akan terbuang untuk hal yang sia-sia, berapa banyak debu-debu yang harus kita bersihkan dari hati kita ketika kita melihat foto, kisah, cerita orang lain dalam timeline kita atau berapa kali pandangan ini berkhianat tanpa kita menyadarinya. Semoga dengan proses ini saya dapat mengambil hikmah sebanyak-banyaknya . Sehingga saya dapat lebih bijak lagi dalam menggunakan akun ini ketika kembali mengaktifkannya. Karena semua hal di dunia ini akan dipertanggungjawabkan, termasuk waktuku yang terpakai buat IG-an, ya kan :)?.

Yah, Maafkan Putrimu

Kau tahu aku tak pernah membuatmu cemburu karena laki-laki lain.
Kau tahu sebelum ini, aku tak pernah menghadirkan sosok laki-laki lain dalam hidupku dan mengenalkannya kedalam kehidupan kita. Karena memang belum saatnya.

Tapi maafkan aku, karena kini aku mulai mendambakan sosok laki-laki untuk berada dalam hidupku selain dirimu. Maaf kini aku mulai merindukan sosok laki-laki yang kan membimbingku, mengambil alih tanggung jawabmu selama puluhan tahun terakhir. Dan sungguh maaf, karena perlahan aku mulai berharap segera hadirnya ia yang Allah takdirkan mau mengemban amanah itu dan hidup bersamaku,

Yah..
Aku ingin laki-laki itu adalah ia yang selalu berusaha keras untuk taat pada Allah sehingga Allah jua memudahkan ku untuk taat pula. Aku ingin bersamanya yang selalu berusaha keras dekat pada Allah sehingga ia memastikan aku tak jauh-jauh dari Allah.

Aku ingin bahagia bersama ia yang di sepertiga malam kudapati tengah bemesraan dengan Allah dalam shalat lailnya. Tentu aku juga disertakannya. Aku akan tentram dapat mendengar ia berkata lembut padaku meminta izin untuk berangkat shalat shubuh ke mesjid. Ia pun tak ragu melakukan panggilan shalat kepada sesamanya di masjid dekat tempat kami tinggal. Aku ingin lebih berbahagia lagi ketika ia mengajakku dan anak-anak kami kelak duduk berhadapan untuk saling memeriksa hafalan. Kemudian aku dan anak-anak kami akan duduk menyimak ia menceritakan shirah nabawiyah dalam banyak kesempatan.

Yah..
Doakan aku kelak bersama ia yang akan banyak-banyak mengajari putrimu. Mengajariku tentang Rabb-ku, bahasa Rabb-ku. Ridhai aku bersama ia yang kan menggenggam tanganku erat, mengajakku meraih ridha-nya Allah. Kami akan banyak belajar bersama memperjuangkan kebersamaan di Surga.

Yah maaf, aku mulai merindukan hadirnya.

Berbagi Bersama BLSC

(antusiasnya anak-anak saat mendengarkan dongeng kak Jiwo)

13 Juni lalu, BLSC, singkatan dari Bukalapak Social Club, alhamdulillah Allah beri kesempatan untuk berbagi dengan adik-adik dari Panti Asuhan Muhammadiyah Siti Khadijah Al Kubra. Senang dan bersyukurnya kami atas kemudahan yang Allah berikan untuk sekedar melukiskan senyum di bibir anak-anak ini (*jadi adik apa anak, gak konsisten pemirsah XD) meski dengan persiapan yang super mepet. Kita baru merancang acara kira-kira 1-2 pekan sebelum hari H. Berbeda dengan acara tahun sebelumnya yang kami persiapkan jauh-jauh hari.

Saat aku baru tiba lokasi tiba-tiba ada perasaan tak asing dengan panti ini. Rumahnya, suasananya, kok berasa Dejavu ya. Ah ternyata benar saja, setelah diperhatikan dengan seksama ini teh panti yang pernah aku kunjungi di bulan Ramadhan saat masih tingkat 1 kuliah dulu. Kira-kira berarti 6 tahun lalu XD, wow udah lama juga ya. Kalau waktu itu aku yang masih kinyis-kinyis berperan sebagai anak 'acara'dan kakak pendamping di 'Bubertim : Buka Bersama Anak Yatim' HMD Matematika UI, tahun ini aku kebagian jadi penanggung jawab bagian konsumsi. Dari pemesanan sampai hari H, aku dibantu sama seorang temanku. 

Bahagia itu sederhana. Sesederhana lihat tawa mereka. Adik-adik ketika kami kunjungi seharusnya sedang dalam acara lomba yang diadakan oleh kakak-kakak panitia bulan Ramadhan di panti ini. Dengan terpaksa, sang kakak tertua (Ketua Panitianya maksudnya) yang juga anggota dari panti ini mengumumkan bahwa lomba ditunda menjadi keesokan harinya saat ia memberikan sambutan diawal acara. Jleg.... ternyata mereka hari ini harusnya lomba dan si kakak menyampaikan permohonan maaf kepada adik-adik yang sudah membawa kelengkapan alat tulis selengkap-lengkapnya terkait diundurnya acara lomba :"D. Ini berarti acara kami harus sangat berkesan di hati adik-adik, supaya kekecewaan mereka tergantikan dengan kebahagian yang bisa kami berikan. Bismillah aja!

Semangat dan hangat. Antusias mereka terhadap isi acara kami sangat menenangkan hati kami. Sesi kuis yang banyak membagi-bagikan hadiah, sesi murajaah hapalan surat An Naba dari salah satu anak, sesi dongeng, sesi game, sesi doa Al Matsurat bersama, semuanya diikuti anak-anak ini dengan penuh keriangan. Kakak-kakak pendamping dari teman-teman BLSC pun tampak bahagia karena bisa akrab bercengkrama dengan adik-adiknya. Alhamdulillah kebanyakan dari mereka bisa menerima keberadaan kami dan juga mencoba akrab dengan kami sehingga acara berjalan dengan lancar sedari awal sampai ditutup oleh kehadiran Mas Zaky di tengah-tengah kami.

Kata-kata Mas Zaky ketika menyampaikan sepatah dua kata ke adik-adik, saat ada salah satu dari kami menyeletuk ajakan "belanja di bukalapak" adalah: 
Jangan, jangan belanja. Gak usahlah kalau adik-adik buat sekolah aja, kalau buka bukalapak jadi yang jualannya. Kalau belanja habis duitnya, kalau jualan malah banyak duitnya (Kewl CEO!)

Sekian cerita singkat dari aku :).

(para panitia Berbuka dan Berbagi dengan Sesama)



Belajar Mengajar Sirah

Biarlah Cahaya Sirah Memancar dalam Bilik-Bilik Rumah Kita

Demikianlah judul daurah (semacam forum intensif untuk mendalami suatu tema atau keterampilan/keahlian tertentu) sirah keluarga yang sempat saya ikuti di pertengahan bulan Ramadhan kali ini. Sebenarnya sesi yang saya ikuti ini sesi orangtua XD, tapi karena materi disampaikan oleh seorang ustadz yang saya suka gaya pembahasannya, saya dan teman saya (*fansnya ustadz hehe) memilih untuk tidak ketinggalan. Akhirnya kami mendaftar dan mempersiapkan diri untuk duduk manis menyimak ilmu selama kurang lebih 6 jam terjadwal.

Kita sebagai orangtua (*saya calon ya insyaaAllah :) ) memiliki tugas dalam berinteraksi dengan Sirah Nabawiyah, yaitu belajar untuk diri dan mengajarkan untuk anak. Kenapa kita harus belajar sirah? Pernyataan Ali dibawah ini akan mengawali penjelasan ustadz mengenai betapa pentingnya kita untuk mempelajari Sirah Nabawiyah.

Ali bin al Husain (w 94H) menyebutkan :
"Kami diajari maghazi Rasulullah Saw sebagaimana kami diajari surah dalam Al Qur'an"
(Al jami'li akhlaq ar rawi wa adab as sami' karya Al khatib al baghdad 2/195) .
Generasi tabiin diajarkan Maghazi (lebih terkait peperangan) Rasulullah Saw oleh generasi sahabat sebagaimana mereka diajarkan surah dalam Al Qur'an. Al Qur'an sebagai pedoman hidup manusia kita ketahui jarang berbicara dengan sangat detil mengenai konsep-konsep hidup (kecuali soal waris yang memang dijabarkan cukup detail, misalnya). Shalat, ibadah kita yang begitu penting tidak dijabarkan dengan detail dalam Qur'an mengenai berapa jumlahnya. Al Qur'an mengajarkan kita dasar-dasar konsep kehidupan dari perintah Allah Swt namun bagaimana praktiknya akan kita dapat jika kita melihatnya pada praktik hidup Rasulullah Saw. Di sinilah sirah mengambil peran penting.

Sirah nabawiyah merupakan perjalanan hidup Nabi saw selama menjalankan tugas kerasulan yaitu menyampaikan dan mewujudkan risalah di tengah kehidupan manusia. Saat memahami sirah maka kita dapat mengkategorikannya dalam 3 cakupan masa :
1. Masa pra islam (jahiliyah),
2. Masa dakwah,
3. Masa khilafah nubuwah (khilafah rasyidah)

Dalam pengkategorian ini, misal memahami masa 1, maka penting bagi kita untuk mengetahui perbedaan masyarakat sebelum dan sesudah jahiliyah. Kita dapat melihat contoh yang mudah dari sosok Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu 'anhu. Perbedaan Umar sebelum dan sesudah masuk islam sangatlah signifikan. Ja'far bin abi thalib juga menyampaikan "Setelah kami keluar jahiliyah, setiap dari kami lebih rela dilemparkan ke kobaran api dibanding kami harus kembali lagi ke masa lalu kami".

Memahami sirah membantu kita dalam memahami islam sehingga kita pun juga memahami betapa berharganya keislaman yang kita miliki. Karena itu menjadi pr bagi orangtua jualah untuk mengajarkan Sirah Nabawiyah kepada anaknya sebagaimana pentingnya mengajarkan Al Quran.

Berikut kutipan yang ditampilkan oleh Ustadz dalam powerpointnya:

Ibn Hazm al Andalusi (w 456H) :
"Mendalami sirah Nabi Saw akan mendorong siapapun kepada keniscayaan mengakui kebenaran Nabi dan bersaksi bahwa beliau benar utusan Allah Swt. Seandainya Muhammad Saw tidak memiliki satupun mu'jizat selain sirahnya, maka itu sudah cukup.

Prof Dr Faruq Hamadah, Prof dibidang hadits :
"Sirah Nabawiyah adalah poros sekaligus esensi dalam setiap lembaran ilmu dan pengetahuan. Mengetahui sirah merupakan kebutuhan asasi bagi setiap muslim dlm segala situasi yang dihadapinya"

Materi Sirah Nabawiyah umumnya menceritakan ke-4 pembahasan berikut:
1. Syama'il ialah sirah yang menceritakan segala hal terkait pribadi Nabi Saw seperti fisik, penampilan, kebiasaan dll. Contoh : Banyaknya uban Nabi Saw ada 20, Nabi tidak gemuk tidak pula kerempeng, memiliki dada bidang dan perutnya rata. Bola mata bagian hitamnya sangat hitam.
Rasulullah sangat senang menamai benda-benda miliknya.

2. Maghazi ialah segala hal yang menceritakan terkait dengan kegiatan militer seperti perjalanan perang, petempuran, strategi dan taktik perang, media dan opini. Contoh : Terdapat 86 misi militer dari tahun ke-2 H sampai tahun wafat Rasulullah. Misi yang dipimpin Rasulullah langsung ada sebanyak 27 misi. Perang Badr terdapat 80 unta, perang Tabuk 30.000 tentara, 4.000 unta. Pada saat perang Tabuk Utsman bin Affan menginfakkan 700 unta.

3. Dala'il ialah mukjizat dan segala kejadian luar biasa yang membuktikan Rasulullah sebagai Nabi Saw dan utusan Allah Swt.

4. Khasha'ish ialah segala hal yang terkait dengan keistimewaan yang hanya berlaku bagi Nabi Saw dan tidak berlaku bagi umat. Contohnya : Jumlah istri Nabi

Selain 4 pembahasan di atas, menurut Ustadz materi Sirah masih bisa dikembangkan lagi karena Rasulullah Saw adalah pengejawantahan dan perwujudan nyata dari petunjuk Al Qur'an yang harus menjadi landasan hidup manusia hingga akhir zaman. Juga karena Rasulullah Saw adalah uswah (teladan) dalam segala bidang kehidupan. Salah satu yang harus dikembangkan dari Sirah Nabawiyah ialah aspek peradaban.

Aspek peradaban yang dimaksud mencakup:
1. Proses melahirkan masyarakat
2. Proses pendidikan dan perubahan
3. Membangun kekuatan ekonomi.
Rasulullah di Madinah 10 tahun dari tidak memiliki apa-apa sampai bisa memenuhi kebutuhan Madinah.
4. Manajemen Pemerintahan
Saat Umar mengangkat seorang gubernur. Dalam menyampaikan (*semacam) pidato pengangkatan disebutkan bahwa tugas pertama gubernur adalah sebagai guru, mengajarkan Al Qur'an kepada rakyatnya.
5. Pola Kaderisasi
6. Ketahanan keluarga dan sosial

Bagaimana mengajarkan sirah.
Sedikit ulasan singkat yang sempat saya rekam yaitu mengenai ustadz Asep yang sewaktu kecil setiap malam selalu diceritakan sirah oleh ayahnya. Mengajar sirah tidak sekedar menceritakan tapi orang tua mengusahakan agar mampu menerangkan hikmah dari cerita kepada anak, dikaitkan dengan kondisi terkini.

Hanya

Hanya saja...
Kita tahu, kita saling menuju.
Sesegera mungkin ingin menggunting jarak, meringkas waktu, menjalin temu.

Hanya saja..
Kita pun tahu, kita ini saling bisu.
Terlalu kelu memecah sunyi. Meredam riuh hati masing-masing.

Hanya saja..
Kita saling menunggu.
Semua gambar masa depan masih misteri. Kita mengurai asa sepatutnya.
Ingin kita tinggi tapi sadar kita dibatasi.

Hanya saja...
Kita tahu, kita yang bodoh.
Allah yang Maha Tahu. Seperti apa kesudahan yang baik untuk diriku dan dirimu.

Hanya saja..
Tunggu.