Belajar Mengajar Sirah

Biarlah Cahaya Sirah Memancar dalam Bilik-Bilik Rumah Kita

Demikianlah judul daurah (semacam forum intensif untuk mendalami suatu tema atau keterampilan/keahlian tertentu) sirah keluarga yang sempat saya ikuti di pertengahan bulan Ramadhan kali ini. Sebenarnya sesi yang saya ikuti ini sesi orangtua XD, tapi karena materi disampaikan oleh seorang ustadz yang saya suka gaya pembahasannya, saya dan teman saya (*fansnya ustadz hehe) memilih untuk tidak ketinggalan. Akhirnya kami mendaftar dan mempersiapkan diri untuk duduk manis menyimak ilmu selama kurang lebih 6 jam terjadwal.

Kita sebagai orangtua (*saya calon ya insyaaAllah :) ) memiliki tugas dalam berinteraksi dengan Sirah Nabawiyah, yaitu belajar untuk diri dan mengajarkan untuk anak. Kenapa kita harus belajar sirah? Pernyataan Ali dibawah ini akan mengawali penjelasan ustadz mengenai betapa pentingnya kita untuk mempelajari Sirah Nabawiyah.

Ali bin al Husain (w 94H) menyebutkan :
"Kami diajari maghazi Rasulullah Saw sebagaimana kami diajari surah dalam Al Qur'an"
(Al jami'li akhlaq ar rawi wa adab as sami' karya Al khatib al baghdad 2/195) .
Generasi tabiin diajarkan Maghazi (lebih terkait peperangan) Rasulullah Saw oleh generasi sahabat sebagaimana mereka diajarkan surah dalam Al Qur'an. Al Qur'an sebagai pedoman hidup manusia kita ketahui jarang berbicara dengan sangat detil mengenai konsep-konsep hidup (kecuali soal waris yang memang dijabarkan cukup detail, misalnya). Shalat, ibadah kita yang begitu penting tidak dijabarkan dengan detail dalam Qur'an mengenai berapa jumlahnya. Al Qur'an mengajarkan kita dasar-dasar konsep kehidupan dari perintah Allah Swt namun bagaimana praktiknya akan kita dapat jika kita melihatnya pada praktik hidup Rasulullah Saw. Di sinilah sirah mengambil peran penting.

Sirah nabawiyah merupakan perjalanan hidup Nabi saw selama menjalankan tugas kerasulan yaitu menyampaikan dan mewujudkan risalah di tengah kehidupan manusia. Saat memahami sirah maka kita dapat mengkategorikannya dalam 3 cakupan masa :
1. Masa pra islam (jahiliyah),
2. Masa dakwah,
3. Masa khilafah nubuwah (khilafah rasyidah)

Dalam pengkategorian ini, misal memahami masa 1, maka penting bagi kita untuk mengetahui perbedaan masyarakat sebelum dan sesudah jahiliyah. Kita dapat melihat contoh yang mudah dari sosok Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu 'anhu. Perbedaan Umar sebelum dan sesudah masuk islam sangatlah signifikan. Ja'far bin abi thalib juga menyampaikan "Setelah kami keluar jahiliyah, setiap dari kami lebih rela dilemparkan ke kobaran api dibanding kami harus kembali lagi ke masa lalu kami".

Memahami sirah membantu kita dalam memahami islam sehingga kita pun juga memahami betapa berharganya keislaman yang kita miliki. Karena itu menjadi pr bagi orangtua jualah untuk mengajarkan Sirah Nabawiyah kepada anaknya sebagaimana pentingnya mengajarkan Al Quran.

Berikut kutipan yang ditampilkan oleh Ustadz dalam powerpointnya:

Ibn Hazm al Andalusi (w 456H) :
"Mendalami sirah Nabi Saw akan mendorong siapapun kepada keniscayaan mengakui kebenaran Nabi dan bersaksi bahwa beliau benar utusan Allah Swt. Seandainya Muhammad Saw tidak memiliki satupun mu'jizat selain sirahnya, maka itu sudah cukup.

Prof Dr Faruq Hamadah, Prof dibidang hadits :
"Sirah Nabawiyah adalah poros sekaligus esensi dalam setiap lembaran ilmu dan pengetahuan. Mengetahui sirah merupakan kebutuhan asasi bagi setiap muslim dlm segala situasi yang dihadapinya"

Materi Sirah Nabawiyah umumnya menceritakan ke-4 pembahasan berikut:
1. Syama'il ialah sirah yang menceritakan segala hal terkait pribadi Nabi Saw seperti fisik, penampilan, kebiasaan dll. Contoh : Banyaknya uban Nabi Saw ada 20, Nabi tidak gemuk tidak pula kerempeng, memiliki dada bidang dan perutnya rata. Bola mata bagian hitamnya sangat hitam.
Rasulullah sangat senang menamai benda-benda miliknya.

2. Maghazi ialah segala hal yang menceritakan terkait dengan kegiatan militer seperti perjalanan perang, petempuran, strategi dan taktik perang, media dan opini. Contoh : Terdapat 86 misi militer dari tahun ke-2 H sampai tahun wafat Rasulullah. Misi yang dipimpin Rasulullah langsung ada sebanyak 27 misi. Perang Badr terdapat 80 unta, perang Tabuk 30.000 tentara, 4.000 unta. Pada saat perang Tabuk Utsman bin Affan menginfakkan 700 unta.

3. Dala'il ialah mukjizat dan segala kejadian luar biasa yang membuktikan Rasulullah sebagai Nabi Saw dan utusan Allah Swt.

4. Khasha'ish ialah segala hal yang terkait dengan keistimewaan yang hanya berlaku bagi Nabi Saw dan tidak berlaku bagi umat. Contohnya : Jumlah istri Nabi

Selain 4 pembahasan di atas, menurut Ustadz materi Sirah masih bisa dikembangkan lagi karena Rasulullah Saw adalah pengejawantahan dan perwujudan nyata dari petunjuk Al Qur'an yang harus menjadi landasan hidup manusia hingga akhir zaman. Juga karena Rasulullah Saw adalah uswah (teladan) dalam segala bidang kehidupan. Salah satu yang harus dikembangkan dari Sirah Nabawiyah ialah aspek peradaban.

Aspek peradaban yang dimaksud mencakup:
1. Proses melahirkan masyarakat
2. Proses pendidikan dan perubahan
3. Membangun kekuatan ekonomi.
Rasulullah di Madinah 10 tahun dari tidak memiliki apa-apa sampai bisa memenuhi kebutuhan Madinah.
4. Manajemen Pemerintahan
Saat Umar mengangkat seorang gubernur. Dalam menyampaikan (*semacam) pidato pengangkatan disebutkan bahwa tugas pertama gubernur adalah sebagai guru, mengajarkan Al Qur'an kepada rakyatnya.
5. Pola Kaderisasi
6. Ketahanan keluarga dan sosial

Bagaimana mengajarkan sirah.
Sedikit ulasan singkat yang sempat saya rekam yaitu mengenai ustadz Asep yang sewaktu kecil setiap malam selalu diceritakan sirah oleh ayahnya. Mengajar sirah tidak sekedar menceritakan tapi orang tua mengusahakan agar mampu menerangkan hikmah dari cerita kepada anak, dikaitkan dengan kondisi terkini.

0 komentar:

Post a Comment