Ar-Rahman : 13 So which of the favors of your Lord would you deny?

Film Duka Sedalam Cinta dan Kisah Hijrah

Bismillahirrahmaanirrahiim

So, finally, kemarin itu saya nonton film Duka Sedalam Cinta di CGV suatu kota di hari ketiganya film ini tayang. Walau katanya belum banyak bioskop yang menayangkan film ini, salut juga karena bioskop yang saya pilih ternyata penuh pengunjung. Terutama di slot waktu yang saya pilih. Jika slot sebelumnya diramaikan oleh remaja SMA, *ada kali sekelas, atau sepertinya ini nobar anak rohisnya?*, slot yang saya pilih diramaikan oleh ibu-ibu dengan putra-putrinya yang terlihat seperti rombongan rukun tetangga hehe. Alhamdulillah ya film yang sarat nilai islam ini ternyata cukup diminati banyak kalangan. Semoga juga remaja yang kemarin nonton ini sama pacarnya juga dapat pencerahan #eh :p. Harapannya akan semakin banyak yang dapat menikmati film ini sehingga kedepannya semakin banyak lagi film tema islami yang lahir dalam dunia perfilman Indonesia.

Duka Sedalam Cinta ini ternyata sekuel dari film pertamanya Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP). Agak kurang setuju terhadap penamaan film ini karena artinya bunda dan tim harus mengedukasi ulang masyarakat kalau ini adalah sekuel dari film KMGP. Bahkan beberapa teman saya juga gak engeh kalau ini lanjutan dari film KMGP.

KMGP diangkat dari cerita karya bunda Helvy Tiana Rosi. Ketika menonton film pertama, saya emang agak terkejut mendapati bahwa filmnya berupa sekuel. Jadi memang ketika selesai menonton film pertama saya merasa digantung sama filmnya hehe. Maka KMGP 2 adalah film yang sangat saya nantikan. Antusias saya dalam menyambut hadirnya film ini sama seperti ketika saya menyambut KMGP pertama. Hal ini dikarenakan KMGP adalah salah satu cerita sekaligus buku favorit bagi saya. Cerita pendek KMGP dalam buku dengan judul yang sama telah jadi jalan yang memuluskan proses hijrah saya diawal-awal, memantapkan hati saya untuk hijrah menuju taat terhadap perintah Allah kepada para muslimah, perintah untuk menutup aurat.

Saya yang saat itu masih remaja SMA memang tidak memiliki kondisi seideal Gita, tokoh adik Mas Gagah. Saya juga memang tidak setomboy Gita dan juga tidak memiliki lingkungan pergaulan seperti Gita. Saya pada masa itu hanya remaja SMA biasa, tidak punya abang seperti Mas Gagah, dan justru alhamdulillah memiliki lingkungan teman (anak-anak IPA yang mostly kelakuannya gak macem-macem dan anak-anak rohis) yang terjaga insyaAllah. Kisah Gita begitu menginspirasi saya, Gita dengan proses hijrahnya untuk berhijab yang kemudian dilanjutkan dengan perihnya kehilangan mas Gagah tercintanya membuat saya banyak menitikkan air mata dalam membaca kisahnya.

Qadarullah, buku yang bukan milik saya pribadi, buku lusuh yang hanya saja tiba-tiba berada di kamar, buku yang ternyata dipinjam adik perempuan saya dari masjid sekolahnya, telah menjadi jalan hidayah bagi saya. Ketika selesai membaca seluruh ceritanya, saya mantap melanjutkan niat saya untuk menutup aurat yang masih mengintip malu-malu. Setelah menangis tersedu-sedu menyelesaikan bukunya, saya menyampaikan niatan ini kepada Ibu saya untuk menggunakan hijab. Oh iya teringat salah satu kisah dalam buku tersebut tentang perjuangan seorang muslimah yang banyak menerima pertentangan dari keluarganya ketika memutuskan berhijab. Maka saya teramat bersyukur karena niatan saya disambut baik oleh Ibu saya. Izinpun sudah saya kantongi dan Ibu saya berkata akan mulai mencicil membelikan seragam baru berlengan panjang untuk saya sekolah. Alhamdulillah, semoga menjadi amal jariyahnya bunda dan jadi pahala yang besar untuk Ibu saya.

Sayang sekali memang ketika menonton film ini saya berharap dapat membangkitkan perasaan saya di masa lalu ketika membaca ceritanya dalam buku. Manisnya mereguk hidayah, kegundahan, kegalauan remaja dan kemudian kelegaan yang hadir karena Allah kirimkan setitik cahayaNya; saya berharap dapat menangis terisak-isak ketika menonton Duka Sedalam Cinta. Saya rasa ekpekstasi yang tidak terlalu berlebihan ketika kita juga melihat judul filmnya. Namun ternyata saya tidak dapatkan perasaan itu dari ide cerita yang dikemas dalam film ini. Saya kurang mendapatkan feel dari adengan paling penting dalam cerita ini, yakni ketika mas Gagah pergi meninggalkan dunia, meninggalkan Gita adik yang telah menerima dakwahnya. Tapi memang tidak ada yang sempurna untuk memenuhi harapan manusia kecuali harapan pada Allah semata. Film ini kehadirannya saja sudah patut diacungi jempol, disamping ide ceritanya yang kurang memenuhi ekspektasi saya yang bukan apa-apa ini, saya mah apa, filmnya banyak menyampaikan nilai-nilai baik. Film ini juga konsisten dengan proses penyuguhan yang baik, contohnya tidak ada adegan sentuhan antara pemeran yang non mahram. So, akhir kata ku tetap sangat dukung dan apresiasi film ini :D.
Semoga semakin banyak bioskop yang menayangkan film ini ya, sehingga menginspirasi lahirnya karya-karya berikutnya untuk umat ini.. aamiin ya Rabb.

Alhamdulillah.

Mengislamkan Akhlak Sebagai Bentuk Komitmen Sebagai Muslim

#Jejak Bacaan : 'Apa Bentuk Komitmen Muslim Sejati'

Risalah islam yang dibawa oleh Rasulullah memiliki tujuan utama yaitu menyempurnakan akhlak manusia, sebagaimana yang baginda sampaikan dalam haditsnya, "Sesungguhnya, aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR Ahmad). Rasulullah adalah hamba Allah yang memiliki akhlak sempurna. Akhlak Rasulullah adalah Al Quran. Meski dalam kondisi sulit, terancam, dicemooh Rasulullah tetap menampilkan akhlah yang mulia.

Akhlak mulia adalah buah dari baik dan benarnya iman. Iman akan menuntun kita apakah kita dapat berakhlak mulia dalam segala aspek kehidupan kita. Semakin baiknya akhlak kepada Allah, kepada Rasulullah, sesama manusia, akhlak dalam beribadah akan membawa kita semakin mendekat kepada Allah. Kemuliaan akhlak yang diimplementasikan dalam setiap amal perbuatan akan membuat amalan tersebut memiliki kadar yang memberatkan timbangan amal baik manusia di akhirat kelak.

Beberapa sifat-sifat yang harus dimiliki seorang muslim sejati dalam berakhlak, antara lain:

1. Menjauhi perkara-perkara yang syubhat

Sebagai seorang muslim kita harus berhati-hati dalam halal haramnya sebuah perkara. Karena kita tahu betul perkara yang haram tidak akan mungkin diterima, apatah lagi bernilai pahala di sisi Allah.

2. Menjaga Pandangan

Menjaga pandangan dari melihat perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah. Menahan diri dari pandangan-pandangan yang tidak perlu karena sangat besar kemungkinan ia kan mengotori hati.

3. Menjaga Ucapan
Jagalah lisan dari berucap yang tidak perlu apalagi tercela. Rasulullah menyampaikan dalam hadistnya bahwa banyak manusia tergelincir ke neraka karena disebabkan oleh lisannya.

"Bukankah banyak manusia yang tersungkur di dalam neraka,hanya karena akibat dari ulah lidahnya?" (HR Tirmidzi)

Juga Rasulullah memperingatkan dalam hadist berikut:

"Barangsiapa yang banyak bicara, maka banyak kesalahannya. Barangsiapa yang banyak kesalahannya, maka banyak dosanya. Barangsiapa banyak dosanya, maka neraka adalah tempat yang paling pantas untuknya." (HR Baihaqi)

4. Malu
Sifat malu dapat mendorong kita agar meninggalkan sesuatu yang buruk, mencegah dari sikap lalai terhadap kewajiban diri dan mencegah dari melanggar hak orang lain.

5. Pemaaf dan Sabar
Hidup dipenuhi dengan rintangan. Apapun kesukarannya, akhlak pemaaf dan sabar akan melapangkan hati, mencahayi hati, sehingga dapt mendekatkan kita kepada Allah.

6. Jujur
Kejujuran akan membimbing kita kepada kebaikan, sedangkan dusta ia menjadi pintu masuk perangkap setan. Rasulullah digelari al amin karena kejujuran beliau.

7. Rendah Hati (tawadhu')
Rasulullah memperingatkan bahaya dari tidak memiliki kerendahan hati. Bahaya tersebut adalah kesombongan. Rasulullah bersabda, "Tidak akan masuk surga, seseorang yang di hatinya terdapat kesobongan seberat biji sawi."

8. Menjauhi prasangka, ghibah, dan mencari cela sesama muslim.
Sebagai implementasi dari surat Al Hujurat 12

9. Murah hati dan dermawan

10. Menjadi teladan yang baik bagi orang lain.



Tentang Doa



Kadang mungkin aku lupa, bahwa doa tak melulu soal meminta.
Tapi ia bincang mesra.
Kadang mungkin aku lupa, bahwa doa tak melulu soal membicarakan apa yang dihajatkan.
Tapi ia proses diskusi kepada yang Maha Mengurus segala sesuatu.
Kadang mungkin aku luput, bahwa doa tak selalu berjawab dengan apa yang akhirnya didapat.
Tapi terkadang tentang apa yang hilang. Hilangnya kekhawatiran, kegundahan, kecemasan, ketakutan, kekecewaan dari hatiku.


Hidup Berapa Lama Lagi?



Tiga ayat di gambar adalah beberapa di antara ayat favoritku yang menjadi pengingat ketika bertemu dengan tanggal 3 Oktober. Tanggal yang mengingatkanku bahwa jatah hidupku telah kembali berkurang setahun penuh. Tanggal di mana 25 tahun masehi lalu aku berhasil keluar dari kandungan Ibu. Tanggal yang mengingatkan lagi padaku bahwa perjalananku semakin mendekat menuju kematian. Semakin dekat dengan waktu perpisahanku dengan kalian, dunia. Hidup tidak abadi, ya kan?

Lalu berapa lama lagikah aku bersamamu? Sejauh apalagi aku mau mengejarmu?
Aku tak ingin lupa bahwa bersamamu tiada kekal melainkan hanya sebentar.