Bismillahirrahmaanirrahiim
So, finally, kemarin itu saya nonton film Duka Sedalam Cinta di CGV suatu kota di hari ketiganya film ini tayang. Walau katanya belum banyak bioskop yang menayangkan film ini, salut juga karena bioskop yang saya pilih ternyata penuh pengunjung. Terutama di slot waktu yang saya pilih. Jika slot sebelumnya diramaikan oleh remaja SMA, *ada kali sekelas, atau sepertinya ini nobar anak rohisnya?*, slot yang saya pilih diramaikan oleh ibu-ibu dengan putra-putrinya yang terlihat seperti rombongan rukun tetangga hehe. Alhamdulillah ya film yang sarat nilai islam ini ternyata cukup diminati banyak kalangan. Semoga juga remaja yang kemarin nonton ini sama pacarnya juga dapat pencerahan #eh :p. Harapannya akan semakin banyak yang dapat menikmati film ini sehingga kedepannya semakin banyak lagi film tema islami yang lahir dalam dunia perfilman Indonesia.
Duka Sedalam Cinta ini ternyata sekuel dari film pertamanya Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP). Agak kurang setuju terhadap penamaan film ini karena artinya bunda dan tim harus mengedukasi ulang masyarakat kalau ini adalah sekuel dari film KMGP. Bahkan beberapa teman saya juga gak engeh kalau ini lanjutan dari film KMGP.
KMGP diangkat dari cerita karya bunda Helvy Tiana Rosi. Ketika menonton film pertama, saya emang agak terkejut mendapati bahwa filmnya berupa sekuel. Jadi memang ketika selesai menonton film pertama saya merasa digantung sama filmnya hehe. Maka KMGP 2 adalah film yang sangat saya nantikan. Antusias saya dalam menyambut hadirnya film ini sama seperti ketika saya menyambut KMGP pertama. Hal ini dikarenakan KMGP adalah salah satu cerita sekaligus buku favorit bagi saya. Cerita pendek KMGP dalam buku dengan judul yang sama telah jadi jalan yang memuluskan proses hijrah saya diawal-awal, memantapkan hati saya untuk hijrah menuju taat terhadap perintah Allah kepada para muslimah, perintah untuk menutup aurat.
Saya yang saat itu masih remaja SMA memang tidak memiliki kondisi seideal Gita, tokoh adik Mas Gagah. Saya juga memang tidak setomboy Gita dan juga tidak memiliki lingkungan pergaulan seperti Gita. Saya pada masa itu hanya remaja SMA biasa, tidak punya abang seperti Mas Gagah, dan justru alhamdulillah memiliki lingkungan teman (anak-anak IPA yang mostly kelakuannya gak macem-macem dan anak-anak rohis) yang terjaga insyaAllah. Kisah Gita begitu menginspirasi saya, Gita dengan proses hijrahnya untuk berhijab yang kemudian dilanjutkan dengan perihnya kehilangan mas Gagah tercintanya membuat saya banyak menitikkan air mata dalam membaca kisahnya.
Qadarullah, buku yang bukan milik saya pribadi, buku lusuh yang hanya saja tiba-tiba berada di kamar, buku yang ternyata dipinjam adik perempuan saya dari masjid sekolahnya, telah menjadi jalan hidayah bagi saya. Ketika selesai membaca seluruh ceritanya, saya mantap melanjutkan niat saya untuk menutup aurat yang masih mengintip malu-malu. Setelah menangis tersedu-sedu menyelesaikan bukunya, saya menyampaikan niatan ini kepada Ibu saya untuk menggunakan hijab. Oh iya teringat salah satu kisah dalam buku tersebut tentang perjuangan seorang muslimah yang banyak menerima pertentangan dari keluarganya ketika memutuskan berhijab. Maka saya teramat bersyukur karena niatan saya disambut baik oleh Ibu saya. Izinpun sudah saya kantongi dan Ibu saya berkata akan mulai mencicil membelikan seragam baru berlengan panjang untuk saya sekolah. Alhamdulillah, semoga menjadi amal jariyahnya bunda dan jadi pahala yang besar untuk Ibu saya.
Sayang sekali memang ketika menonton film ini saya berharap dapat membangkitkan perasaan saya di masa lalu ketika membaca ceritanya dalam buku. Manisnya mereguk hidayah, kegundahan, kegalauan remaja dan kemudian kelegaan yang hadir karena Allah kirimkan setitik cahayaNya; saya berharap dapat menangis terisak-isak ketika menonton Duka Sedalam Cinta. Saya rasa ekpekstasi yang tidak terlalu berlebihan ketika kita juga melihat judul filmnya. Namun ternyata saya tidak dapatkan perasaan itu dari ide cerita yang dikemas dalam film ini. Saya kurang mendapatkan feel dari adengan paling penting dalam cerita ini, yakni ketika mas Gagah pergi meninggalkan dunia, meninggalkan Gita adik yang telah menerima dakwahnya. Tapi memang tidak ada yang sempurna untuk memenuhi harapan manusia kecuali harapan pada Allah semata. Film ini kehadirannya saja sudah patut diacungi jempol, disamping ide ceritanya yang kurang memenuhi ekspektasi saya yang bukan apa-apa ini, saya mah apa, filmnya banyak menyampaikan nilai-nilai baik. Film ini juga konsisten dengan proses penyuguhan yang baik, contohnya tidak ada adegan sentuhan antara pemeran yang non mahram. So, akhir kata ku tetap sangat dukung dan apresiasi film ini :D.
Semoga semakin banyak bioskop yang menayangkan film ini ya, sehingga menginspirasi lahirnya karya-karya berikutnya untuk umat ini.. aamiin ya Rabb.
Alhamdulillah.

0 komentar:
Post a Comment