Ar-Rahman : 13 So which of the favors of your Lord would you deny?

Tentang Menjadi Ibu #Momentofjlebjleb

Kalau lagi (bener) dengar kajian berasanya ya diri sendiri yang lagi diomongin sama penceramahnya di depan. Berasa ditelunjukkin. Berasa disitu hanya ada ku seorang. Berasa jlebjleb. Kenapa gitu jlebjleb?. Iya berasa diri ini masih sangat jauh sekali dari ilmu yang disampaikan.

Ceritanya tadi tuh datang KAP di MUI yang pengisinya ustadz Bendri. Omong-omong beliau salah satu ustadz favorit saya dari zaman kinyis-kinyis, zaman masih sekolah. Materi yang dibawakan beliau hari ini berjudul 'Ibu bekerja vs Ibu rumah tangga'. Materi dengan tema sejenis ini bukan kali pertamanya yang saya dengar dari ustadz. I mean, sebelum-sebelumnya, kajian beliau yang temanya terkait tema nikah, tema rumah tangga pun pernah saya dengar. Cuman aja berasanya yang hari ini agak melampaui diri saya yang statusnya itu sendiri masih calon Ibu, bahkan calon istri aja belum hehe. Eh tapi mah namanya ilmu ya kudu harus diambil.

Nah perasaan saat menyimak kajian dan #momenjlebjleb tadi membuat saya flashback ke masa-masa paling indah masa-masa di sekolah :D. Pada masa itu kalau lagi ada kajian rohis yang diisi sama ustadz, pembahasannya masih seputar vmj ((soalnya ini hot topic abg kan)), mau apapun acaranya anak rohis, sebutlah tafakur alam, gita baru, lpkm kalau undang beliau mesennya tema ma'rifatullah itu pasti bahas vmj juga. Kemudian pas kuliah berubahlah saya jadi audience yang dengar ustadznya bahas soal syiar, siyasi di dakwah kampus. Sekarang ini, setelah lulus kuliah berubah lagi jadi audience yang dengarnya seputar tema-tema nikah, pasangan dan kehidupan berumahtangga :D #udahumur. Berasa ya materi ustadznya membersamai berkurangnya jatah umur saya :'D, alhamdulillah. Terkait materi, sebenarnya materinya lebih manfaat kalau bisa langsung dipraktekkan hehe. Tapi karena belum jadi Ibu, materi tadi ya mesti kudu ditampung, diingat-dingat dan dikumpulin buat jadi bekal menjadi Ibu kelak.

Salah satu pembahasan diawal yang menarik buat saya adalah ketika ustadz memaparkan misi-misi dari seorang Ibu. Misi pertama dari seorang Ibu adalah mengikat hati anak. Ketika anak telah terikat hatinya, insyaAllah akan membuat akalnya lebih mudah untuk tunduk terhadap orangtua. Ada beberapa cara dalam mengikat hati anak, yaitu:
  1. Senantiasa berpikir positif terhadap anak. Sesungguhnya hati adalah raja, sedangkan anggota badan ibarat prajuritnya. Untuk itu selalu berpikir positif kepada anak sangat diperlukan. Jangan pernah melabeli anak dengan label tidak baik.
  2. Menjadikan anak prioritas dalam segala kebaikan kita.
  3. Miliki manajemen waktu yang baik. Seorang Ibu memiliki hak untuk mengatur waktunya menjadi 4 bagian berikut: Me Time, Couple Time, Family Time dan Social Time.
  4. Miliki skill dasar yang dibutuhkan seorang Ibu. Skill dasar tersebut sudah pernah disinggung juga dalam tulisan saya sebelumnya. Skill dasar tersebut adalah:  Memasak, Menulis, Memijat dan Mendegar.
  5. Harus pandai merebut Golden Moment anak. Ibu wajib hadir saat anak sedang bersedih, saat anak sakit dan saat anak sedang unjuk prestasi.
Pembahasan dari misi pertama ini membuat saya teringat pada pertanyaan saya terhadap diri sendiri. Kenapa saat masih remaja yang duduk di bangku sekolah hingga kuliah bisa menjadi anak yang tidak terlalu suka keluyuran, boleh dibilang anak rumahan (eh iya gak si?wkwk). Kalau saya yang dulu mungkin jawabnya paling karena mager atau biar istirahat di rumah mau baca atau mau nonton atau mungkin juga karena saya malas repot-repot izin ke orangtua dan sebagainya. Namun, seiring berjalannya waktu saya baru engeh kayaknya jawaban dibalik itu semua ya karena adanya mama di rumah.

Berasa perannya Ibu mengikat hati anaknya itu ketika pulang sekolah yang dicari itu mama (walau seringnya 'ma masak apa' ya kan? haha). Mau berangkat kemana gitu fashion stylistnya itu mama, karena tiap berangkat selalu tidak terlewat untuk bertanya 'ma, cocok ga ini?' atau 'ma bajunya matching gak sama rok ini?' atau 'ma, pakai apa ya?'. Dari hal seperti ini saja rasanya sudah cukup menandakan hadirnya sesosok Ibu di hati kita. 

Perihal Ibu yang telah mengikat hati anaknya, saya sangat mengapresiasi seorang Ibu yang bisa membuat anak-anaknya, yang jika diajak main terus-terusa sama temannya dan si anak juga sedang berada pada fase yang memang lagi pingin main terus, tapi kemudian dia menolak ajakan teman-temannya, lebih memilih di rumah, saat ditanya 'emang ada apa sih dirumahmu..?' terus si anak berpikir atau memiliki jawaban "ada mama ku di rumah", huaaa, ini luar biasa. Misi pertama si Ibu itu terlaksana menurut saya. Ada kan ya yang seperti itu. Iya semoga bisa menjadi Ibu yang membuat rumah dirindukan. Doakan saya bisa segera amalkan ilmu-ilmu ini ya :).


Pagi di Stasiun

Sebuah percakapan di peron stasiun pagi hari.
L : (Lagi sok-sokan baca mushaf yang kepegang, pakai baju biru laut, outer dan rok)

Ibu-ibu : Dek dek, sekolah di mana? Rajin amat.
L : ...............................................................................
(Ya Allah, kali masih sekolah dah ni muka, si ibu ngeledek 😂 😂)
hehe, engga ibu, saya gak sekolah (belum kelar ngomong)
Ibu-Ibu : Sekolah di Al Azhar ya?
L : ..................................................
(perasaan gak kayak pake seragam 😂😂) Engga ibu, saya mah mau berangkat kerja 😂😂.
Ibu-Ibu : Oalah, kerja, gurunya ya?
L : (wkwk spicles, masih dikira) Bukan bu
Ibu-Ibu: Terus kerja di mana? 

L : Bukalapak bu

Ibu-Ibu : Waaah hebat buka lapak apa dek?
L : .................................................
(wkwk, sudah biasa)
bukalapak.com bu sebetulnya

Ibu-Ibu : Apa itu bukalapak.com?
L : 😂😂 Itu bu yang kayak 'tokosebelah' (siap-siap pundung kalau beliau tau ini tapi gatau bukalapak | gakdengbiasaaja)
Ibu-Ibu : Apa itu 'tokosebelah'?

L : (Horeeeee gatau juga 'tokosebelah' ).... dan seterus-seterusnya perbincangan jadi panjang dari ecommerce sampai ke one day one juz sampai kita udah duduk di dalam kereta. Konon si Ibu itu konsultan di Bank Dunia (etapi segitu kurang ngenal ecommerce ya). Setelah panjang akhirnya saya disuruh lanjut baca lagi 'eh maaf ya dek Ibu jadi ganggu, silakan baca lagi dek' 😂😂.

Kemudian..
Anouncer : "Sesaat lagi kereta anda akan tiba di stasiun Pasar Minggu"

Yha...XD

Surat Untuk Hati

Dear My Qalb,

Maaf telah membebanimu dengan banyak hal tidak penting akhir-akhir ini. Membebanimu dengan hal yang melebihi kapasitasmu. Aku akui, sejak awal aku telah menyadari bahwa aku akan memberimu beban melebihi kemampuanmu. Namun aku hiraukan peringatan itu hingga tanpa sadar aku lalai menangkap sinyal-sinyal darurat darimu.

Maaf atas perjalanan melelahkan yang ku paksakan. Kini saatnya kau berhenti. Berlepas dirilah dariku, pergilah menuju Rabb-Mu. Kau bukan milikku, kau milik-Nya. Bahkan menggenggammupun aku tak bisa. Tak seharusnya kau melemah mengikutiku dengan hawa nafsuku.
Maaf telah membuatmu lusuh karena debu-debu selama berjalan mengikutiku. Maaf tak sering-sering mengajakmu membersihkan diri, memberimu istirahat.

Maaf.

Datang ke Rumah?

Pingin cerita kalau dulu saya termasuk anak cewek yang gak pernah berani membawa atau membiarkan teman lawan jenis ke rumah karena takut sama orangtua. Takut yang juga lebih ke males sih dicurigain macem-macem. Entah mengapa saya kelewat jaim aja depan orangtua, gak mau kelihatan kalau punya teman lawan jenis yang akrab. Ya pokoknya kan kalau sampai main ke rumah berarti kan agak akrab kan ya?. Padahal mah gak juga, biasa aja sih ya haha. Itu juga bukannya karena dulu saya udah paham banget konsep adab bergaul sama lawan jenis, asli enggak (Walaupun paham untuk alasan tertentu ya gak gitu banget juga sih, Lin). Jujur emang ini murni karena males dan jaim ke orangtua yang emang lumayan kaku ngedidik soal gaul sama lawan jenis. Jadinya gak pernah tuh saya mau nerima tamu teman lawan jenis ke rumah, mau alasan apapun, yang mau pinjem buku buat fotokopianlah, mau minjem lkslah, mau pinjem pr, bahkan mau ngasih hadiahlah segala macem saya gak mau. Males. Pernah dulu ada teman se-ekskul yang baik mau ngasih hadiah anter ke rumah, Al Qur'an pula ternyata, saya mau nemuin dianya di toko buku dekat rumah aja biar sekalian lagi mau fotokopi. Saking sebegitunya yang penting gak perlu ke rumah.

Kecuali, iya ada satu pengecualian ketika sahabat saya datang ke rumah diantar pacarnya XD. Yang ini emang gak bisa saya cegah, soalnya udah nyampe rumah dan tamunya itu sahabat saya. Karena kejadian itu juga ayah saya langsung interogasi mama siapa orang itu dari mana kenapa bisa datang ke rumah dsb. Mama pun menyampaikan keheranannya ke saya perihal tumbennya ada cowok yang ke rumah. Tapi kan itu bukan tamu langsung saya yaaaaa.., jadi gak masuk hitungan.

Seiring berjalannya waktu saya pun mulai mengenal adab-adab bergaul sama lawan jenis. Saat itu pulalah saya ngerasa sejalan dengan bagaimana didikan orangtua membentuk sikap saya yang ini . Walau agak kaku sih. Terkakunya itu kalau misalkan mau syura rohis dan gak ada pilihan tempat, saat itu teman-teman nanya bisa gak di rumah saya (*karena masih wilayah deket-deket sekolah). Nah karena syuranya sama ikhwan juga, saya pasti nolak pilihan di rumah saya dan minta di tempat lain aja tanpa mereka tahu alasan dari sayanya ternyata begitu amat wkwk. Ini kebangetan sih tapi gatau kenapa saya emang gak nyaman :"D.

Terkait membatasi (bukan sekedar membatasi inimah, tapi ngeboikot wkwk) kunjungan ke rumah ini, saya pun pada akhirnya jadi sampai memiliki harapan khusus ke Allah. Saya waktu itu minta sama Allah "ya Allah, jadikan satu-satunya pria yang datang ke rumah saya, sebagai tamu saya (dan keluarga), atau yang saya undang, atau yang saya kenalkan ke orangtua untuk pertama kali adalah orang yang akan Engkau persatukan dengan saya dalam pernikahan". Singkatnya, pokoknya yang berkunjung ke rumah pertama kali itu jodoh sama saya. Lebay gak? haha, jadi malu 😳😂. Ya gitu ceritanya, namanya juga harapan, boleh dong. Makanya untuk waktu yang lama sampai masa kuliah terlewati tetap aja saya ngerasa gak ada yang penting-penting amat buat dikenalin ke orangtua atau diterima kunjungannya ke rumah, kecuali dia, masa depanku #tsaaah. Harapannya sih harapan saya yang ini bisa kesampaian. Cuman kan gak menutup kemungkinan kalau pada akhirnya enggak kesampaian, karena bisa aja sih misal emang ada yang urgen atau punya urusan tertentu yang mesti ke rumah, ya mau gimana wkwk, walaupun tindakan peventif tetap diusahakan, lol.

Pertanyaannya, seiring berjalannya waktu udah ada yang berhasil datang belum Lin?..
Hmmm....

Semangat!

اِحْـرِصْ عَـلَـى مَا يَـنْـفَـعُـكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَـعْجَـزْ


Bersungguh-sungguhlah pada perkara-perkara yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah dan janganlah kamu bersikap lemah.

Jangan Menunggu Waktu

Belajarlah menerima, hai diri.
Menerima rasa tak biasa yang bersemayam dalam hatimu.
Agar kemudian lebih mudah melepaskan. Mengikhlaskan.

Maafkan dirimu yang tak sempurna.
Berilah maaf pada hatimu.
Sesungguhnya kau pun tahu Allah Maha Pemaaf kan :)?.
Memohon ampunlah pada-Nya.
Allah yang menggenggam hatimu. Allah-lah yang dapat memberi petunjuk pada hatimu.

Hai diri. Jangan menunggu waktu.
Bangkit dan senangkanlah hatimu kini.
Lepaskanlah perasaan yang menjeratmu.
Sekali lagi, ikhlaskanlah.
Bahagiakan hatimu dengan hanya melakukan apa-apa yang Allah cintai.

Tetaplah yakin perjalanan hatimu kini adalah perjalanan sebelum bahagia dan berkah yang bertambah-tambah.