Ceritanya tadi tuh datang KAP di MUI yang pengisinya ustadz Bendri. Omong-omong beliau salah satu ustadz favorit saya dari zaman kinyis-kinyis, zaman masih sekolah. Materi yang dibawakan beliau hari ini berjudul 'Ibu bekerja vs Ibu rumah tangga'. Materi dengan tema sejenis ini bukan kali pertamanya yang saya dengar dari ustadz. I mean, sebelum-sebelumnya, kajian beliau yang temanya terkait tema nikah, tema rumah tangga pun pernah saya dengar. Cuman aja berasanya yang hari ini agak melampaui diri saya yang statusnya itu sendiri masih calon Ibu, bahkan calon istri aja belum hehe. Eh tapi mah namanya ilmu ya kudu harus diambil.
Nah perasaan saat menyimak kajian dan #momenjlebjleb tadi membuat saya flashback ke masa-masa paling indah masa-masa di sekolah :D. Pada masa itu kalau lagi ada kajian rohis yang diisi sama ustadz, pembahasannya masih seputar vmj ((soalnya ini hot topic abg kan)), mau apapun acaranya anak rohis, sebutlah tafakur alam, gita baru, lpkm kalau undang beliau mesennya tema ma'rifatullah itu pasti bahas vmj juga. Kemudian pas kuliah berubahlah saya jadi audience yang dengar ustadznya bahas soal syiar, siyasi di dakwah kampus. Sekarang ini, setelah lulus kuliah berubah lagi jadi audience yang dengarnya seputar tema-tema nikah, pasangan dan kehidupan berumahtangga :D #udahumur. Berasa ya materi ustadznya membersamai berkurangnya jatah umur saya :'D, alhamdulillah. Terkait materi, sebenarnya materinya lebih manfaat kalau bisa langsung dipraktekkan hehe. Tapi karena belum jadi Ibu, materi tadi ya mesti kudu ditampung, diingat-dingat dan dikumpulin buat jadi bekal menjadi Ibu kelak.
Salah satu pembahasan diawal yang menarik buat saya adalah ketika ustadz memaparkan misi-misi dari seorang Ibu. Misi pertama dari seorang Ibu adalah mengikat hati anak. Ketika anak telah terikat hatinya, insyaAllah akan membuat akalnya lebih mudah untuk tunduk terhadap orangtua. Ada beberapa cara dalam mengikat hati anak, yaitu:
- Senantiasa berpikir positif terhadap anak. Sesungguhnya hati adalah raja, sedangkan anggota badan ibarat prajuritnya. Untuk itu selalu berpikir positif kepada anak sangat diperlukan. Jangan pernah melabeli anak dengan label tidak baik.
- Menjadikan anak prioritas dalam segala kebaikan kita.
- Miliki manajemen waktu yang baik. Seorang Ibu memiliki hak untuk mengatur waktunya menjadi 4 bagian berikut: Me Time, Couple Time, Family Time dan Social Time.
- Miliki skill dasar yang dibutuhkan seorang Ibu. Skill dasar tersebut sudah pernah disinggung juga dalam tulisan saya sebelumnya. Skill dasar tersebut adalah: Memasak, Menulis, Memijat dan Mendegar.
- Harus pandai merebut Golden Moment anak. Ibu wajib hadir saat anak sedang bersedih, saat anak sakit dan saat anak sedang unjuk prestasi.
Berasa perannya Ibu mengikat hati anaknya itu ketika pulang sekolah yang dicari itu mama (walau seringnya 'ma masak apa' ya kan? haha). Mau berangkat kemana gitu fashion stylistnya itu mama, karena tiap berangkat selalu tidak terlewat untuk bertanya 'ma, cocok ga ini?' atau 'ma bajunya matching gak sama rok ini?' atau 'ma, pakai apa ya?'. Dari hal seperti ini saja rasanya sudah cukup menandakan hadirnya sesosok Ibu di hati kita.
Perihal Ibu yang telah mengikat hati anaknya, saya sangat mengapresiasi seorang Ibu yang bisa membuat anak-anaknya, yang jika diajak main terus-terusa sama temannya dan si anak juga sedang berada pada fase yang memang lagi pingin main terus, tapi kemudian dia menolak ajakan teman-temannya, lebih memilih di rumah, saat ditanya 'emang ada apa sih dirumahmu..?' terus si anak berpikir atau memiliki jawaban "ada mama ku di rumah", huaaa, ini luar biasa. Misi pertama si Ibu itu terlaksana menurut saya. Ada kan ya yang seperti itu. Iya semoga bisa menjadi Ibu yang membuat rumah dirindukan. Doakan saya bisa segera amalkan ilmu-ilmu ini ya :).

0 komentar:
Post a Comment