Sudah cukup lama ia berdiri di ujung memandangi keindahan taman sambil memegang hati-hati sekantung bibit tanaman yang ia bawa. Bersama kekaguman yang tak dapat ia sembunyikan juga ada keraguan yang terlukis di raut wajahnya. Teringat suatu waktu dia pernah mengatakan pada dirinya sendiri, "Kelak jika bibit cinta dari Rabb ku ini kutumbuhkan, aku ingin ia tumbuh di sebuah taman yang indah".
Sebab ia pernah bermimpi tentang taman surga sebelum surga. Yaitu taman di mana ia dapat berlari-lari kecil, menari dengan riang. Saat mulai lelah, ia rebahkan dirinya menatap langit dan angin pun lembut menyapu pipi, asrinya taman memberikan ketrentaman. Hari ini nampaknya ia telah menemukan taman tersebut. Namun ia ragu apakah boleh memasuki taman dan menanamkan bibit cinta yang ia bawa ini.
Search
Salam

Categories
- #MoveonProject (5)
- Catatan Diri (20)
- Cerbung (4)
- Jejak Bacaan (6)
- Kutipan (5)
- Little Stories (25)
- Musik Positif (5)
- Others (2)
- Prosa (19)
- Untuk Lina (9)
Popular Posts
Featured Post
Lelaki Pendek, Hitam, dan Lebih Jelek dari Untanya
Kali ini tentang ''Lelaki Pendek, Hitam, dan Lebih Jelek dari Untanya'' yang saya baca dari buku dengan judul yang sama ka...
0 komentar:
Post a Comment