Ipung #1

Saat masih duduk di bangku kelas XI SMA , saya dibelikan Ayah novel yang tidak terlalu tebal berjudul Ipung #1. Novel Ipung ini ternyata merupakan sebuah novel trilogi. Buku itu saya dapatkan bersamaan dengan Tetralogi Laskar pelangi, Sang pemimpi dan Edensor yang ayah berikan. Saat itu Maryamah Karpov belum terbit. Novel Ipung merupakan novel yang berisi motivasi. Kala itu saya membaca berulang-ulang novel ini. Sampai saya akhirnya sekarang baru ingat bahwa saya sudah lama menanti-nanti seri kedua dan ketiga novel ini. Karena itu saya mencoba lagi mencari-cari informasi buku Ipung seri berikutnya. Dan ternyataaa.. teman dekat saya pun sudah ada yang membaca Ipung #2 . (Saya telaaat L bertahun- tahun ). Tapi saya sangat ingin menuliskan semacam resensi Ipung #1 versi saya, sebelum saya membaca seri kedua Ipung.

Membangkitkan Kepercayaan Diri Lewat Kisah Ipung

Judul Buku       : Ipung
Penulis             : Prie GS
Penerbit           : Republika Penerbit
Tahun               : 2008
Genre              : Novel Remaja
Tebal                : 196 Halaman

"Hidup itu pasti pasang surut; kadang di atas, kadang dibawah; kadang iman kuat, kadang iman lemah; kadang menang, kadang kalah; kadang berbuat benar, kadang berbuat khilaf; begitu seterusnya. Dan rumus memenangi kehidupan yang pasang-surut itu adalah meletakkan hidup pada pedang semangat, bukan pada pedang kekuatan atau pedang keterampilan"


Sederhana namun excellent, budayawan nyentrik Prie GS melukiskan sosok Ipung ndeso dalam novelnya ini. Novel Ipung banyak menampilkan pesan-pesan moral, tak seperti novel remaja kebanyakkan yang penggarapannya kental dengan roman percintaan atau juga yang sarat problem klasik khas ABG.

Novel ini berisikan tentang seorang anak kampung yang benar-benar kampungan bernama Ipung. Berasal dari sebuah desa terpencil di kota Solo bernama Kepatihan yang kemudian terbawa nasib baik untuk melanjutkan pendidikan di sekolah favorit, SMA Budi Luhur berkat kecerdasan otaknya. Maka perjuangan dan seluk beluk kehidupan Ipung sebagai anak desa kumal miskin dimulai.

Berlatar belakang keluarga yang sederhana menjurus miskin, sosok Ipung nyatanya mampu merebut perhatian seluruh murid sekolah elite-nya itu. Bahkan Pak Bakrie, wakil Kepsek sekaligus guru yang terkenal sangat galak pun berhasil ditaklukkan oleh Ipung. Sosok Ipung yang dekat dengan kemiskinan, bentuk fisik tidak terlalu menarik, wajah yang tidak cukup dibilang ganteng namun juga salah dibilang jelek tidak pernah merasa rendah diri atau minder untuk mengakuinya. Baginya tak ada beda, kaya atau miskin, ganteng atau jelek, yang penting dia harus berjuang.
            
Aura inilah yang ternyata memberikan Ipung kekuatan untuk menyihir karakter- karakter lain. Lewat kepolosannya, Ipung yang tak pernah gentar terhadap apapun itu menjadi kasak-kusuk diseantero sekolah. Tak terkecuali, Primadona SMA Budi Luhur bernama Paulin, gadis kaya raya ini pun ikut dibuat grusa-grusu’ mengejar si kerempeng Ipung karena telah menaruh hati. 
            
Nama Ipung kian meroket mengalahkan popularitas nama sekolah unggulan itu sendiri. Ipung masuk majalah remaja, lebih dari itu Ipung diterima menjadi reporter majalah MM yang populer. Ipung akhirnya mampu membiayai sekolahnya sendiri bahkan kerap mengirim wesel untuk orangtuanya.
            
Tak mengeherankan bila akhirnya beberapa teman ada yang merasa iri. Bahkan menghasut teman-teman lainnya untuk mengerjai Ipung dan mempermalukan ia sejadi-jaidnya didepan umum, seperti yang dilakukan tokoh Marjikun. Namun bukan Ipung kalau tidak membuat pembaca berdecak kagum saat pembelaan yang ia lakukan didepan seluruh siswa. Ipung mampu menguasai keadaan dan membuat lawan yang membencinya menjadi sayang dan membuat kawan yang mengaguminya makin mencintai keberadaannya.

“Saya yakin, karena Mandra minder, maka ia pilih jadi bintang sinetron. Karena saya minder, saya nekat mencintai Paulin. Bukan sebaliknya!”. “ Kita sama-sama tidak cakep Marjikun.  Tapi adalah suatu bukti, kalau Paulin mencintai saya. Sekian!”.  Kutipan terakhir dari kalimat pembelaan itu benar- benar dahsyat. Pembaca dibuat bertanya-tanya “Apakah sosok Ipung benar- benar ada?”.

Kepiawaian Prie GS dan keluasan pengalamannya pun jelas terlihat. Konflik yang dibangunnya tidak membosankan ditambah dengan humor segar sehingga membuatnya terasa pas. Cukup banyak novel yang miskin konflik sehingga membuatnya terasa hambar, namun ada juga yang penuh konflik malah menjadikan rumit tak jelas arahnya. Dalam segi bahasa, rasanya tidak diragukan lagi kualitas novel ini.

Cerita dalam novel Ipung yang merupakan suatu trilogi ini benar- benar down-to-earth, sulit untuk menemukan kelemahan yang bersifat teknik sastrawi. Kecuali mungkin karena saya orang awam dalam bidang sastra dan saya setuju dengan pendapat kang Habiburrahman El Shirazy dalam prolognya terkait hal keabu-abuan pengkategorian novel ini. Dibilang fiksi-islami belum sepenuhnya. Tapi dibilang fiksi remaja yang penuh intrik pacaran tidak juga, karena ada unsur moral dan religinya.

Novel Ipung adalah novel yang bisa membangkitkan kepercayaan diri kita. Suasana haru, senang, lucu, sedih, tegang ditemukan dalam kisah inspiratif ini. Tak bisa dipungkiri , membaca cerita Ipung ini kita akan membayangkan betapa sosok Ipung mempunyai hati yang bersih, percaya diri yang kuat dan keberanian yang tiada banding. Ipung memang tampan dalam arti sebenarnya!.



0 komentar:

Post a Comment