Membangkitkan
Kepercayaan Diri Lewat Kisah Ipung
Penulis : Prie GS
Penerbit : Republika Penerbit
Tahun
: 2008
Genre : Novel Remaja
Tebal : 196 Halaman
"Hidup itu pasti pasang surut; kadang di atas, kadang dibawah; kadang iman kuat, kadang iman lemah; kadang menang, kadang kalah; kadang berbuat benar, kadang berbuat khilaf; begitu seterusnya. Dan rumus memenangi kehidupan yang pasang-surut itu adalah meletakkan hidup pada pedang semangat, bukan pada pedang kekuatan atau pedang keterampilan"
Sederhana namun excellent, budayawan nyentrik Prie GS melukiskan sosok Ipung ndeso dalam novelnya ini. Novel Ipung banyak menampilkan pesan-pesan moral, tak seperti novel remaja kebanyakkan yang penggarapannya kental dengan roman percintaan atau juga yang sarat problem klasik khas ABG.
Novel ini berisikan tentang seorang
anak kampung yang benar-benar kampungan bernama Ipung. Berasal dari sebuah
desa terpencil di kota Solo bernama Kepatihan yang kemudian terbawa nasib baik
untuk melanjutkan pendidikan di sekolah favorit, SMA Budi Luhur berkat
kecerdasan otaknya. Maka perjuangan dan seluk beluk kehidupan Ipung sebagai
anak desa kumal miskin dimulai.
Berlatar belakang keluarga yang
sederhana menjurus miskin, sosok Ipung nyatanya mampu merebut perhatian seluruh
murid sekolah elite-nya itu. Bahkan
Pak Bakrie, wakil Kepsek sekaligus guru yang terkenal sangat galak pun berhasil
ditaklukkan oleh Ipung. Sosok Ipung yang dekat dengan kemiskinan, bentuk fisik
tidak terlalu menarik, wajah yang tidak cukup dibilang ganteng namun juga salah
dibilang jelek tidak pernah merasa rendah diri atau minder untuk mengakuinya.
Baginya tak ada beda, kaya atau miskin, ganteng atau jelek, yang penting dia
harus berjuang.
Aura inilah yang ternyata memberikan
Ipung kekuatan untuk menyihir karakter- karakter lain. Lewat kepolosannya,
Ipung yang tak pernah gentar terhadap apapun itu menjadi kasak-kusuk diseantero
sekolah. Tak terkecuali, Primadona SMA Budi Luhur bernama Paulin, gadis kaya
raya ini pun ikut dibuat grusa-grusu’ mengejar si kerempeng Ipung karena telah menaruh hati.
Nama Ipung kian meroket mengalahkan
popularitas nama sekolah unggulan itu sendiri. Ipung masuk majalah remaja,
lebih dari itu Ipung diterima menjadi reporter majalah MM yang populer. Ipung
akhirnya mampu membiayai sekolahnya sendiri bahkan kerap mengirim wesel untuk
orangtuanya.
Tak mengeherankan bila akhirnya
beberapa teman ada yang merasa iri. Bahkan menghasut teman-teman lainnya untuk
mengerjai Ipung dan mempermalukan ia sejadi-jaidnya didepan umum, seperti yang
dilakukan tokoh Marjikun. Namun bukan Ipung kalau tidak membuat pembaca
berdecak kagum saat pembelaan yang ia lakukan didepan seluruh siswa. Ipung
mampu menguasai keadaan dan membuat lawan yang membencinya menjadi sayang dan
membuat kawan yang mengaguminya makin mencintai keberadaannya.
“Saya
yakin, karena Mandra minder, maka ia pilih jadi bintang sinetron. Karena saya
minder, saya nekat mencintai Paulin. Bukan sebaliknya!”. “ Kita sama-sama tidak
cakep Marjikun. Tapi adalah suatu bukti,
kalau Paulin mencintai saya. Sekian!”. Kutipan terakhir dari kalimat pembelaan itu
benar- benar dahsyat. Pembaca dibuat bertanya-tanya “Apakah sosok Ipung benar-
benar ada?”.
Kepiawaian Prie GS dan keluasan
pengalamannya pun jelas terlihat. Konflik yang dibangunnya tidak membosankan ditambah dengan humor segar sehingga membuatnya terasa pas. Cukup banyak novel
yang miskin konflik sehingga membuatnya terasa hambar, namun ada juga yang
penuh konflik malah menjadikan rumit tak jelas arahnya. Dalam segi bahasa,
rasanya tidak diragukan lagi kualitas novel ini.
Cerita dalam novel Ipung yang
merupakan suatu trilogi ini benar- benar down-to-earth, sulit untuk menemukan kelemahan yang bersifat teknik sastrawi. Kecuali
mungkin karena saya orang awam dalam bidang sastra dan saya setuju
dengan pendapat kang Habiburrahman El Shirazy dalam prolognya terkait hal
keabu-abuan pengkategorian novel ini. Dibilang fiksi-islami belum sepenuhnya.
Tapi dibilang fiksi remaja yang penuh intrik pacaran tidak juga, karena ada
unsur moral dan religinya.
Novel Ipung adalah novel yang bisa
membangkitkan kepercayaan diri kita. Suasana haru, senang, lucu, sedih, tegang
ditemukan dalam kisah inspiratif ini. Tak bisa dipungkiri , membaca cerita
Ipung ini kita akan membayangkan betapa sosok Ipung mempunyai hati yang bersih,
percaya diri yang kuat dan keberanian yang tiada banding. Ipung memang tampan
dalam arti sebenarnya!.


0 komentar:
Post a Comment