Tarbiyah Dzatiyah



Assalamu'alaykum wr wb

Bloggerrrrrrrrs, hari ini mau deh bagi ringkasan dari buku berjudul Tarbiyah Dzatiyah karangan Abdullah bin Abdul Aziz Al-Aidan. Buku ini bagus banget buat nambah pemahaman kita tentang proses pembinaan dari diri oleh diri untuk diri sendiri. Masa sih gak penasaran kenapa sosok Abu Bakar radiyallahu anhu  bisa dahsyat banget keimananya, yang kalau imannya ditimbang dengan iman umat secara umum, maka iman milik Abu Bakar masih lebih berat?. Atau kenapa Aisyah yang bagaikan lautan luas dalam kedalaman ilmu dan ketaqwaan begitu cerdas hingga telah menghapal banyak hadits?. Kenapa sosok Umar begitu gagah, pribadi yang berkarakter, hingga syetan saja minder!. Wah masih sangat banyak lagi sosok- sosok yang sukses membina dirinya, mencapat tingkatan atas kualitas diri sebagai pribadi muslim sejati. Pembinaan seperti apa sih?.. 
So let's check it out


Resume buku “Tarbiyah Dzatiyah ” karangan Abdullah bin Abdul Aziz Al- Aidan

Tarbiyah Dzatiyah (pembinaan diri)

Tarbiyah dzatiyah adalah sejumlah sarana tarbiyah (pembinaan), yang diberikan orang Muslim, atau Muslimah, kepada dirinya, untuk membentuk kepribadian islami yang sempurna di seluruh sisinya; ilmiah, iman, akhlak, sosial, dan lain sebagainya, dan naik tinggi ke tingakatan kesempurnaan sebagai manusia. Atau dapat dikatakan tarbiyah dzatiyah adalah pembinaan seseorang terhadap dirinya sendiri.

A.                 Urgensi Tarbiyah Dzatiyah
Tarbiyah dzatiyah merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi setiap Muslim untuk meningkatkan  kualitas keimanan dan keislamannya.  Urgensi dari tarbiyah dzatiyah adalah :

1. Menjaga diri mesti didahulukan daripada menjaga orang lain
Tarbiyah seorang muslim terhadap dirinya merupakan upaya melindunginya dari siksa nerakaNya. "Hai orang-orang yang beriman, jagalah diri dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan  bakarnya adalah manusia dan batu." (QS. At-Tahrim : 6) 
2. Jika kita tidak mentarbiyah diri sendiri, Siapa yang mentarbiyah kita?
Waktu terus bergulir, manusia yang tidak mentarbiyah dirinya sendiri akan kehilangan waktu-waktu  ketaatan dan momen-momen kebaikan, dia juga gagal mengetahui kelemahan dan kekurangan dirinya sehingga saat ajal menjemputnya tak sempat memperbaiki diri.
“Ingatlah hari Allah mengumpulkan  kalian  pada hari pengumpulan.” (At-Taghabun : 9)
3. Hisab kelak bersifat Individual
      Setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas dirinya masing- masing
“Dan setiap mereka datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.” (Maryam : 95)
4. Tarbiyah Dzatiyah itu lebih mampu mengadakan perubahan.
      Dengan membina diri sendiri akan lebih mudah bagi seseorang untuk melakukan suatu perubahan. Sebab dirinya sendiri lah yang mengetahui segala kelebihan dan kekurangan. Sehingga ketika adanya hal yang harus dirubah, dia lebih mampu mengendalikan.
5. Tarbiyah Dzatiyah adalah sarana tsabat/tegar dan istiqomah
      Dewasa ini semakin beragam fitnah yang dihadapi setiap muslim. Tarbiyah dzatiyah garis ialah pertahanan terdepan agar manusia tidak terkena fitnah tersebut dan tetap istiqomah.
6. Sarana Dakwah yang paling kuat
      Cara yang paling efektif untuk mendakwahi orang lain dan mendapatkan respon mereka ialah dengan menjadi qudwah (panutan) yang baik dan teladan istimewa, di aspek iman, ilmu, dan akhlaknya. Qudwah tinggi dan pengaruh kuat tersebut tidak dapat dibentuk oleh sekian khutbah dan ceramah saja. Namun, dibentuk oleh tarbiyah dzatiyah yang benar. 
7. Cara yang benar dalam memperbaiki realita yang ada
      Agar dapat membantu memperbaiki keadaan umat muslim saat ini dimulai dengan tarbiyah dzatiyah, yang dilakukan setiap orang terhadap dirinya, dengan maksimal, syumul (universal), dan seimbang. Sebab, jika setiap individu baik, baik pula keluarga, lalu masyarakat menjadi baik. Begitulah, akhirnya pada akhirnya realitas umat menjadi baik secara total, sedikit demi sedikit. 
8. Keistimewaan Tarbiyah Dzatiyah adalah mudah diaplikasikan, sarana-sarananya banyak, dan ada terus pada orang muslim setiap waktu.

B.                 Sebab-sebab ketidakpedulian kepada tarbiyah dzatiyah
Kendati begitu pentingnya tarbiyah dzatiyah, namun kenyataannya terdapat sebagian besar muslim yang masih kurang peduli terhadap pembinaan pada dirinya sendiri. Hal ini disebabkan oleh

1. Minimnya ilmu dan kurangnya pengetahuan tentang islam itu sendiri, Al- Qur’an dan Sunnah.
2. Ketidakjelasan sasaran dan tujuan hidup, tidak memahami hakikatnya hidup di dunia.
3. Lengket dan cinta dengan dunia.
4. Pemahaman yang salah tentang tarbiyah.
5. Minimnya dasar tarbiyah, lingkungan yang tidak membawa pengaruh baik dan tidak kondusif.
6. Langkanya murabbi (pembina). Seseorang dalam hidupnya sangat membutuhkan taujih (pengarahan), tarbiyah, dan pengajaran, sejak masa kecilnya hingga ia dewasa dan tua, serta hingga ia meninggal dunia.
7. Perasaan akan panjang angan-angan
     Merasa bahwa umur masih panjang, dan masih banyak waktu yang tersedia untuk melakukan tarbiyah diri pada waktu yang tidak sibuk lagi sehingga menyebabkan ketidakpedulian akan tarbiyah dzatiyah.

C.                 Sarana-sarana Tarbiyah Dzatiyah
Banyak jalan- jalan yang tersedia untuk memudahkan kita membina diri kita sendiri. Adapun sarana sarana tarbiyah dzatiyah adalah

Sarana pertama : Muhasabah

Seorang muslim yang baik adalah yang bermusahabah secara rutin, mengevaluasi kebaikan dan keburukan yang telah dikerjakan.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (Al-Hasyr: 18)

Urgensi Muhasabah Rutin :
Ibnu Al-Qayyim rahimahullah berkata menjelaskan salah satu kiat muhasabah,
"Hal yang paling bermanfaat bagi orang ialah ia duduk sesaat ketika hendak tidur. Ia lakukan muhasabah terhadap dirinya pada saat tersebut atas kerugian dan keuntungannya pada hari itu. Lalu, ia memperbaharui taubatnya dengan nasuhah kepada Allah, lantas tidur dalam keadaan bertaubat dan bertekad tidak mengerjakan dosa yang sama jika ia telah bangun. Itu ia kerjakan setiap malam. Jika ia meninggal pada malam tersebut, ia meninggal dalam keadaan taubat. Jika ia bangun, ia bangun dalam keadaan siap beramal, senang ajalnya ditunda, dan siap mengerjakan perbuatan-perbuatan yang belum ia kerjakan."

Jenis Muhasabah ada dua yaitu muhasabah sebelum berbuat dan setelah berbuat
Muhasabah setelah berbuat terbagi atas tiga yaitu :

§   muhasabah diri atas ketaatan kepada Allah ta’ala yang ia lalaikan. Artinya ia tidak mengerjakannnya sebagaimana mestinya.
§   muhasabah diri atas perbuatan yang lebih baik tidak ia kerjakan daripada ia kerjakan.
§   muhasabah diri atas hal-hal mubah dan wajar.
Muhasabah atas waktu
“Pada hari kiamat, kedua kaki seorang hamba tidak dapat bergerak, hingga ia ditanya tentang empat hal. Tentang umurnya, untuk apa ia gunakan, masa mudanya, untuk apa ia habiskan; tentang hartanya, darimana ia memperolehnya dan ia belanjakan di hal-hal apa saja; dan tentang apa saja diantara ilmunya yang telah ia amalkan.” (At-Tirmidzi)

Sarana kedua : Taubat dari segala dosa

Setelah melakukan muhasabah, maka selanjutnya dilakukan pembersihan atau penyucian diri dari dosa-dosa dengan cara bertaubat. Segera bertaubat dari segala dosa itu wajib secepatnya dilakukan dan tidak boleh ditunda. Jika taubat ditunda, pelakunya bermaksiat kepada Allah akibat penundaan taubatnya. Seorang hamba selalu berada di atas nikmat Allah yang perlu ia syukuri dan dosa yang harus diistigfari. “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenarnya.” (At-Tahrim : 8)

Hal- hal yang harus diingat ketika bertaubat adalah
v  Hakikat dosa
Dosa pada hakikatnya adalah tidak mengerjakan kewajiban-kewajiban syar'i, atau melalaikannya, dalam bentuk tidak mengerjakannya dengan semestinya. 
v  Syarat Bertaubat
Taubat nasuhah (hakiki) ialah taubat jujur dan serius, yang menghapus kesalahan- kesalahan sebelumnya dan melindungi pelakunya dari dosa-dosa sebelumnya.
v  Memahami semua dosa itu kesalahan, besar atau kecilnya

v  Hukuman di dunia
Dosa, yang pelakunya tidak bertaubat darinya, punya hukuman segera di dunia, sebelum di akhirat, kendati kadang kejadiannya agak tertunda. Dari sinilah, kecerdasan akal orang muslim ketika ia banyak bertaubat dan beristighfar di setiap waktu dan kondisi, dengan harapan Allah mengampuninya di dunia dan tidak menghukumnya di akhirat
Sarana ketiga : Mencari ilmu dan memperluas wawasan

Mencari ilmu itu wajib dan ilmu itu menyembuhkan hati yang sakit. Yang paling penting bagi seseorang ialah ia tahu agamanya. Sebab mengetahui dan mengamalkannya itu jalan masuk surga. Mencari ilmu adalah sarana penting tarbiyah dzatiyah yang benar. Dibutuhkan keikhlasan dan ketekunan dalam mencari ilmu.
Terdapat cara yang sangat banyak dalam mencari ilmu, antara lain menghadiri pertemuan-pertemuan yang mengkaji ilmu ilmiah dan tarbiyah, membaca buku, mengunjungi ulama, pemikir, peneliti, mendengar kaset ilmiah dan ceramah, dan lain sebagainya. Yang perlu diperhatikan dalam mencari ilmu antara lain, ikhlas dalam mencari ilmu, rajin dan meningkatkan pengetahuan, menerapkan ilmu yang didapatkan, dan tunaikan hak ilmu dengan berdakwah kepada orang lain. 

Sarana keempat : Mengerjakan amalan-amalan iman

Amalan – amalan iman yaitu
1. Mengerjakan ibadah-ibadah wajib seoptimal mungkin.
2. Meningkatkan porsi ibadah-ibadah sunnah.
3. Peduli dengan ibadah dzikir.
·         Urgensi shalat lima waktu, muslim hendaknya tetap konsisten mengerjakan shalat lima waktu dan serius menunaikannya secara berjama'ah di masjid, sesuai dengan rukun-rukun, kewajiban, dan sunnahnya pada waktunya sembari menjauhi kesalahan yang biasa dilakukan. 
·         Antara ibadah dan adat istiadat, menjadikan ibadah tidak sekedar rutinitas fisik tanpa ruh, hendaknya dilaksanakan dengan sepenuh hati dan jiwa kita.
·         Tak lupa Dzikir kepada Allah
·         Ilmu pengetahuan saja tidak cukup tanpa amalannya
·         Memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin
·         Tawazun (seimbang) dalam melaksanakan ibadah. Tidak menelantarkan suatu ibadah karena ibadah yang lain.
Sarana kelima : Memperhatikan aspek akhlak

Islam sangat peduli dengan aspek akhlak yang baik .
Allah Ta’ala berfirman : “Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (Ali Imran: 148)
Tarbiyah dzatiyah dalam aspek akhlak ialah

1. Memiliki kesabaran
2. Membersihkan hati dari akhlak tercela
3. Meningkatkan kualitas akhlak
4. Bergaul dengan orang-orang yang berakhlak mulia.
5. Memperhatikan etika-etika umum.

Sarana keenam : terlibat dalam aktivitas dakwah

1. Merasakan kewajiban berdakwah
2. Menggunakan setiap kesempatan untuk berdakwah
3. Terus menerus dan tidak berhenti di tengah jalan. Istiqomah.
4. Meyakini pintu-pintu dakwah itu banyak sehingga dakwah kita lebih luas
5. Kerjasama dengan pihak lain atau beramal jama’i

Sarana ketujuh : Mujahadah (Jihad)
1. sabar adalah bekal mujahadah.
2. sumber keinginan
“Dan orang-orang yang berjihad di jalan Kami, Kami pasti tunjukan mereka ke jalan-jalan Kami dan sesungguhnya Allah pasti beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Ankabut : 69)
3. bertahap dalam melakukan mujahadah
“siapa mendekat kepadaku sejengkal, aku mendekat kepadanya sedepa. Siapa mendekat kepadaKu sedepa, aku mendekat kepadanya selengan. Siapa mendekat kepadaku dengan berjalan, Aku datang kepadanya dengan berlari-lari kecil. (Bukhari Muslim)
4. Jadilah Anda orang yang tidak lalai

Sarana kedelapan : Berdoa dengan jujur kepada Allah ta’ala

Doa adalah permintaan seorang hamba kepada Allah, pengakuan ketidakberdayaan dan kemiskinan dirinya, pernyataan tidak punya daya dan kekuatan, serta penegasan tentang daya, kekuatan, kodrat, dan nikmat Allah. Rasulullah saw bersabda : "Iman pasti lusuh di hati salah seorang dari kalian, sebagaimana pakaian itu lusuh. Karena itu, mintalah Allah memperbaharui iman di hati kalian." (diriwayatkan Ath-Thabrani dan sanadnya hasan).

Arahan-arahan dalam berdoa adalah memperhatikan kebutuhan kita kepada doa, waktu- waktu dan tempat terijabahnya doa, mengetahui syarat- syarat agar dikabulkannya doa seperti makan makanan yang halal, yakin bahwa Allah pasti mendengar doa dan menjawab dengan kehendakNya.

D.                Buah Tarbiyah Dzatiyah
1. Mendapatkan keridhaan Allah Ta’ala dan surgaNya
“Sesungguhnya orang-orang beriman dan beramal shaleh, bagi mereka adakah surga Firdaus menjadi tempat tinggal.” (Al-Kahfi: 107)

2. Bahagia dan tenteram
“Siapa mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya pasti kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (An-Nahl: 97)

3. Dicintai dan diterima Allah
“HambaKu senantiasa mendekat kepadaKu dengan melakukan ibadah-ibadah sunah, hingga aku mencintainya.”
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dab beramal shalih, kelak Allah yang Maha Pemurah menanamkan kepada mereka rasa kasih sayang.” (Maryam: 96)

4. Sukses

5. Terjaga dari keburukan dan hal-hal tidak mengenakkan
“Sesungguhnya Allah membela orang-orang beriman.” (Al-Hajj : 38)

6. Keberkahan waktu dan harta

7. Sabar atas penderitaan dan semua kondisi

8. Jiwa merasa aman
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan ‘Tuhan kami ialah Allah’, kemudian mereka istiqomah, maka tidak ada kekhawatiran pada mereka dan mereka tidak berduka cita.” (Al-Ahqaf: 13)

Sumber : Buku Tarbiyah Dzatiyah (Edisi Indonesia dari judul At Tarbiyah Adz- Dzatiyah Ma’alim wa Taujihat)  karangan Abdullah bin Abdul Aziz Al-Aidan terbitan An-Nadwah (2010)

Sekian untuk ringkasannya. Moga bermanfaat :)
Wassalamu'alaykum wr wb




0 komentar:

Post a Comment