Hidup adalah tempat pengabdian. Beribadah di muka bumi ini termasuk bentuk pengabdian kita . Pengabdian pada Sang Maha Kuasa.Berbicara tentang pengabdian, maka kita berbicara juga tentang kehambaan. Ketika ada yang mengabdi pasti ada yang diabdi. Misal saja seseorang yang bekerja pada orang lain, dia akan melakukan pekerjaan itu karena bentuk pengabdian nya pada tuannya, yang diabdi. Manusia di bumi ini diciptakan untuk beribadah, pengabdian 100% kita ialah pada Allah SWT. Dalam pengabdian, penghambaan kita pada Allah menuntut kesungguhan yang optimalisasi mengikut setelahnya.Optimalisasi dalam beribadah.
Ketika Muhammad Salallahu alaihi wassalam, diberi tahu sebagai “Rasululullah” , ini merupakan ‘beban’ yang diterima pada puncak pengabdiannya. Lalu Rasulullah berdakwah dengan kesungguhan yang melejit, mengoptimalkan segala kemampuannya dlm menyampaikan yang haq. Seluruh aktivitasnya adalah ibadah.
Lalu kita, sudahkah seluruh aktivitas kita bernilai ibadah?. Sebab beribadahlah yang menjadi bentuk pengabdian kita pada Allah. Rasulullah pernah mengatakan bahwa syetan itu ketika manusia hendak melakukan sesuatu , syetan mengawasi, apakah hamba itu mengawali aktivitasnya dengan berdoa?, sebab ketika seseorang tidak mengawali aktivitasnya dengan doa, maka syetan ikut membersamainya dalam aktivitas tersebut, jadilah aktivitasnya bisa tak bernilai ibadah.
Dalam surat Al-An’aam 162-163 Allah berfirman : Katakanlah (Muhammad). ‘’Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama- pertama berserah diri (muslim)”.
Sebab seluruh aktivitas kita ini akan dipertanggung jawabkan, maka kita dituntut untuk awas akan setiap peran kita di dunia ini. Apakah kita memenuhi peran2 tersebut dengan baik dan dengan cara yang Allah sukai agar ia bernilai ibadah? Maka apapun peran kita ~sebagai hamba Allah, anak, suami, istri, mahasiswa, bagian masyarakat~ adalah amanah dari Allah Subhanahu wa ta’ala, jangan pernah khianati. Tak penuhi hak- hak orang lain atas diri kita, lalai dari kewajiban akan peran kita.
“Wahai orang- orang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui” (Q.S Al- Anfaal:27 )
“Bahwa orang- orang yang berjanji setia kepadamu (Muhammad), sesungguhnya mereka hanya berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah diatas tangan- tangan mereka, maka barang siapa melanggar janji, maka sesunggunya dia melanggar atas (janji) sendiri; dan barang siapa menepati janjinya kepada Allah, maka Dia akan memberinya pahala yang besar” (Q.S Al Fath : 10)
Berbicara amanah, peran kita dibumi, dakwah adalah salah satu bentuknya. Dakwah ialah seruan, ajakan yang menyeluruh kepada kebaikan dan integral. Dakwah merupakan amanah (kewajiban) kita sebagai manusia. Dalam firmanNYA , Allah SWT mengatakan hendaklah ada manusia yang menyeru kepada kebaikan. Dakwah juga bentuk ibadah kita , meninggikan agama Islam di muka bumi ini, menyerukannya kepada saudara- saudari , teman, kerabat kita yang lain agar kelak merasakan syurga Allah bersama-sama (aamiin).
Dakwah memiliki keutamaan keutamaan, diantaranya:
- Menyelamatkan diri
Dalam Q.S Al-Anfaal ayat 25, Allah SWT berfirman : “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang orang yang zalim saja diantara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya”
Perumpamaan dalam suatu bahtera, seseorang yang berada dibagian bawah kapal sedang haus dan merasa malas untuk mengambil air keatas, maka ia pun melubangi bagian kapal agar mendapati air laut yang bisa diminum. Jika tidak ada orang- orang yang melarang perbuatannya, maka kapal itu lama- lama terisi air dan seluruh orang- orang didalamnya akan tenggelam. Begitu pula dalam kehidupan, ketika tak ada orang-orang yang mau mengingatkan lagi akan kebaikan , menyerukan kebenaran maka tunggulah azab Allah yang tidak hanya menimpa orang- orang zalim saja.
“Kamu (umat islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Diantara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik” (Q.S Aali-‘Imraan: 110)
“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang- orang yang beruntung” (Q.S Aali-‘Imraan: 104)
Apa yang sedang kita lakukan sekarang (dakwah) adalah menanam benih peradaban. Pohon yang kita rawat dengan baik, maka menghasilkan buah yang baik
KARAKTER DAI
Siapa yang bisa melakukan itu semua? Hanya DA'I yang memiliki karakter-karakter khusus yang bisa melakukan pekerjaan besar ini… yaitu:
Sekian resume-nya , wallahualam bisshowab
-Sesungguhnya dakwah itu adalah cinta. Dimana dakwah itu akan menuntut dan mengambil apapun yang dia miliki; harta, pikiran, waktu, seperti cinta pula yang akan menguras air mata-
- Menyelamatkan Umat -> Memperbaiki kehidupan
“Kamu (umat islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Diantara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik” (Q.S Aali-‘Imraan: 110)
- Mendapatkan keutamaan yang besar
“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang- orang yang beruntung” (Q.S Aali-‘Imraan: 104)
- Menanam benih Peradaban
Apa yang sedang kita lakukan sekarang (dakwah) adalah menanam benih peradaban. Pohon yang kita rawat dengan baik, maka menghasilkan buah yang baik
KARAKTER DAI
Siapa yang bisa melakukan itu semua? Hanya DA'I yang memiliki karakter-karakter khusus yang bisa melakukan pekerjaan besar ini… yaitu:
- PENGABDI: tidak berpikir macam-macam. Semua yang dia lakukan hanya untuk Allah sehingga apapun yang dilakukan bisa fokus. Seorang da'I adalah pengabdi sejati kepada Allah. Abu Ubaidah, adalah salah satu sahabat Rasulullah yg ditunjuk untuk menggantikan Khalid bin Walid, panglima perang. Ketika itu seorang khalifah (Umar) datang ke Abu Ubaidah yang menjadi pemimpin perang dalam suatu imperium. Ketika rumahnya dikunjungi, hanya sebuah rumah yang sederhana yang ia datangi akhirnya… Abu Ubaidah tau, bahwa Khalifah akan kecewa dengan rumahnya yang hanya terdapat tikar sebagai tempat tidurnya dan beberapa alat rumah tangga sederhana yang ia gunakan sehari-hari. Suatu hari Khalifah mengirimi dinar yang jumlahnya cukup banyak untuk Ubaidah lewat seseorang yang dipercayakan dan menyuruh utusannya tersebut untuk melihat apa yang dilakukan oleh Ubaidah terhadap pemberian khalifah. Namun, tak sekeping dinar disisakan oleh Ubaidah untuk dirinya. Apa yang diinginkan oleh Ubaidah, hanya AKHIRAT kata beliau saat ditanyakan oleh Khalifah.
- TOTALITAS: Tidak melakukan sesuatu setengah- setengah. Berusaha maksimal , suka atau tidak suka
- AKTUALISASI: Banyak bekerja dibanding banyak bicara.
- SABAR: inilah pedang seorang da'i. Jika kita berpikir 3 hal ini masih jauh ada di dalam diri kita… JANGAN MUNDUR!! BANGKITLAH!!
Sekian resume-nya , wallahualam bisshowab
-Sesungguhnya dakwah itu adalah cinta. Dimana dakwah itu akan menuntut dan mengambil apapun yang dia miliki; harta, pikiran, waktu, seperti cinta pula yang akan menguras air mata-

0 komentar:
Post a Comment